
Usai Penyambutan Relikwi Suci Santo Petrus Rasul, Pater Markus Solo Kwuta Bagikan Kisah Iman dan Persahabatan yang Menginspirasi
Lewouran – Senin, 03 Agustus 2026, Suasana penuh syukur dan sukacita masih terasa di Stasi Santo Petrus Lewouran, Paroki Santo Yosep Lewotobi dalam moment penerimaan Relikwi Suci Santo Petrus Rasul yang dibawa oleh Pater Markus Solo Kwuta, SVD dari Vatikan. Setelah prosesi penyambutan yang berlangsung meriah, rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman bersama Pater Markus dan para sahabatnya yang turut datang dari Jakarta.




Acara tersebut dihadiri Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi, diakon, frater, Camat Ile Bura, Kepala Desa Lewotobi, Kepala Desa Persiapan Lewouran, wartawan dari Tribunnews dan Radio Sonora, umat dari berbagai stasi serta seluruh umat Stasi Santo Petrus Lewouran yang mengenakan kaus kuning bertuliskan “My Lewouran” sebagai simbol kebersamaan dan kecintaan terhadap kampung halaman.
Dalam sambutannya Kepala Desa Persiapan Lewouran menyampaikan bahwa Desa Persiapan Lewouran kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi desa definitif. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus bersatu serta memohon doa dan dukungan agar seluruh proses pemekaran dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang diharapkan demi kemajuan masyarakat Lewouran.

Salah seorang sahabat Pater Markus, Paul Sudarman mengisahkan perjalanan persahabatan dengan ketiga sahabatnya telah terjalin selama kurang lebih lima puluh tahun. Ia juga mengenang bahwa pertama kali mengenal Pater Markus Solo ketika pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020. Saat banyak rekan mereka meninggal dunia, mereka mencari seorang imam yang dapat mendoakan para sahabat yang telah berpulang. Dari situlah kedekatan dengan Pater Markus semakin bertumbuh. Persahabatan itu semakin kuat ketika mereka mengunjungi Vatikan pada tahun 2023 dan kembali mengunjungi Vatikan di tahun 2024. Dalam setiap kunjungan, Pater Markus selalu menyambut mereka dengan penuh kehangatan dan persaudaraan.

Hal senada disampaikan Arief Wardana. Ia mengaku pertama kali bertemu Pater Markus setelah perayaan pesta 25 tahun di Jakarta, tepatnya di Kelapa Kelapa Gading. Menurutnya sosok Pater Markus selalu menghadirkan semangat dalam setiap pelayanan. Di tengah kesibukan tugasnya di Vatikan, ia tetap memiliki perhatian yang besar terhadap kampung halamannya. Kepedulian itu menjadi teladan yang menginspirasi banyak orang.

Sementara itu Johan Dusli mengungkapkan rasa syukur dan kekagumannya atas sambutan hangat masyarakat Lewouran. Menurutnya keramahtamahan umat yang penuh sukacita menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan menunjukkan kuatnya persaudaraan yang hidup di tengah masyarakat.

Wartawan Radio Sonora, Stanislaus Jumar juga membagikan kisah perkenalannya dengan Pater Markus sejak tahun 2014. Sebagai seorang jurnalis ia membutuhkan narasumber yang dapat memberikan informasi yang benar dan terpercaya mengenai berbagai peristiwa penting di Vatikan. Sejak saat itu, komunikasi mereka terus terjalin dengan baik, mulai dari pemberitaan wafatnya Paus Benediktus XVI hingga berbagai perkembangan Gereja Katolik. Ia juga mengenang keterlibatannya dalam kunjungan ke Vatikan pada tahun 2025 ketika ia menjadi saksi berbagai kegiatan penting yang semakin mempererat hubungan dengan Pater Markus.

Dalam kesempatan tersebut, Pater Markus Solo Kwuta membagikan pengalaman pelayanannya di Vatikan serta perjalanan hidupnya sebagai imam misionaris. Dengan penuh haru Pater Markus mengatakan bahwa dirinya bukan kembali ke kampung, melainkan selalu berada di kampung ini melalui doa, perhatian, dan kasih yang terus ia pelihara. Baginya kampung halaman selalu memiliki tempat istimewa di dalam hati.
Ia juga mengungkapkan bahwa menjelang perayaan 25 tahun Gereja Santo Petrus Lewouran, ia berpikir untuk membawa sesuatu yang memiliki makna rohani yang mendalam bagi umat. Karena itu ia membawa pecahan batu dari Basilika Santo Petrus serta segumpal tanah dari makam Santo Petrus Rasul yang berada di bawah Basilika Santo Petrus di Vatikan. Kedua relikwi tersebut menjadi lambang persekutuan umat Lewouran dengan Gereja universal yang berakar pada iman para rasul.
Pater Markus juga membagikan pengalaman yang menurutnya sangat mengagumkan. Selama perjalanan dari Roma menuju Indonesia, relikwi tersebut melewati berbagai pemeriksaan keamanan di Bandara Roma, Uni Emirat Arab, Jakarta, Bali, Kupang hingga Larantuka. Namun semuanya dapat dilalui dengan lancar tanpa kendala sedikit pun. Bagi dirinya perjalanan itu menjadi pengalaman iman yang penuh penyelenggaraan Tuhan.
Di akhir sharing Pater Markus menceritakan bahwa setelah kembali dari Lewouran pada bulan Agustus nanti ia akan melanjutkan berbagai tugas pelayanan ke beberapa negara. Salah satu perjalanan terakhirnya adalah ke Malaysia, termasuk ke Kota Kinabalu tempat ia bertemu dengan banyak saudara-saudari asal Indonesia, khususnya dari Flores, yang bekerja di sana. Pertemuan itu menjadi kesempatan untuk memberikan pendampingan rohani sekaligus menguatkan mereka agar tetap teguh dalam iman meskipun hidup jauh dari tanah kelahiran.
Acara berbagi pengalaman tersebut berlangsung dalam suasana akrab, hangat dan penuh inspirasi. Kisah-kisah yang dibagikan tidak hanya memperlihatkan perjalanan pelayanan Pater Markus di Vatikan tetapi juga memperlihatkan nilai persahabatan, kesetiaan, kecintaan terhadap kampung halaman, dan iman yang hidup dalam keseharian.
Bagi umat Stasi Santo Petrus Lewouran, perjumpaan ini menjadi momen yang semakin meneguhkan rasa syukur atas anugerah Relikwi Suci Santo Petrus Rasul sekaligus memperkokoh semangat untuk terus membangun Gereja yang hidup, bersatu, dan setia melayani. Sukacita hari itu menjadi kenangan berharga yang akan terus hidup dalam perjalanan iman umat Lewouran. (Fr Ichal – Komsos Lewotobi)



