
Umat Paroki Lewotobi Hadir dalam Syukur Perak Imamat Rm. Leo Lewokrore
Kehadiran 45 anggota koor dan umat dari sejumlah stasi menjadi ungkapan kasih dan penghargaan bagi mantan Pastor Paroki Lewotobi
Lamawolo Atas, Flores Timur — 10 Agustus 2026, Sukacita Perayaan Perak Imamat Rm. Leo Lewokrore terasa semakin istimewa dengan kehadiran umat Paroki Santo Yosef Lewotobi. Puluhan umat datang ke Lamawolo Atas, kampung asal Rm. Leo, untuk bersama-sama merayakan 25 tahun perjalanan imamat imam yang pernah melayani mereka selama empat tahun.
Kehadiran umat Lewotobi bukan sekadar memenuhi undangan perayaan. Mereka datang sebagai ungkapan syukur, persaudaraan dan penghargaan atas pelayanan Rm. Leo selama berkarya di tengah umat Paroki Santo Yosef Lewotobi.

Sedikitnya 45 anggota koor dari Stasi Lewotobi, di bawah pimpinan Dewan Stasi Lewotobi, secara khusus hadir untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Mereka mempersembahkan lagu-lagu liturgis dan mengiringi seluruh perayaan dengan lantunan suara yang indah.
Selain anggota koor, umat dari sejumlah stasi juga berinisiatif hadir dalam perayaan tersebut. Mereka datang dari Stasi Lewouran, Lewotobi, Riangbunga, Riangkaha, Nurabelen dan Nobo, bersama Pastor Paroki Rm. Moses, Diakon Tubo dan Frater Ichal.
Kehadiran bersama ini menjadi tanda kuat bahwa relasi antara seorang gembala dan umat tidak berakhir ketika masa tugas pastoral selesai. Empat tahun pelayanan Rm. Leo di Lewotobi telah meninggalkan ikatan persaudaraan yang terus hidup dalam hati umat.
Rm. Leo Lewokrore pernah menjalankan tugas sebagai Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi selama empat tahun, dari 2022 hingga 2026. Karena itu, perayaan Perak Imamat di Lamawolo menjadi kesempatan bagi umat Lewotobi untuk kembali hadir bersama sang mantan pastor paroki dalam sebuah perayaan penuh syukur.
“Ia Menjadikan Segala-galanya Baik”
Dalam homilinya, Uskup Mgr. Hans Monteiro mengangkat motto “Ia menjadikan segala-galanya baik” dari Injil Markus 7:37 sebagai kesaksian iman dalam perjalanan hidup dan imamat Rm. Leo.

Uskup Hans mengajak umat melihat perjalanan 25 tahun imamat Rm. Leo sebagai sebuah perjalanan di mana Allah terus berkarya melalui penyerahan diri seorang imam.
“Sejarah Rm. Leo adalah sejarah Allah berkarya di dalam dirinya,” demikian inti refleksi Uskup Hans.
Menurutnya, panggilan imamat bukan pertama-tama lahir dari kemampuan manusia, melainkan dari Tuhan yang memanggil dan memampukan. Karena itu, seorang imam dipanggil untuk terus membuka diri terhadap karya Allah.
Uskup Hans menghubungkan refleksi tersebut dengan kisah Yesus menyembuhkan orang tuli dan gagap. Kata “Effata” — terbukalah, tidak hanya berarti telinga dan mulut yang terbuka, tetapi juga seluruh kehidupan manusia yang perlu dibuka dan dipulihkan oleh rahmat Allah.
Bagi seorang imam, lanjutnya, spiritualitas Effata berarti kesediaan untuk keluar dari diri sendiri dan menjumpai mereka yang terasing dan tertinggal.
“Imam dipanggil pertama-tama untuk keluar dari dirinya dan menyapa mereka yang terasing,” tegas Uskup Hans.
Dekat dengan umat, dekat dengan Tuhan
Uskup Hans juga menekankan pentingnya kedekatan seorang imam dengan umat. Seorang gembala, katanya, harus “berbau domba”, yakni hadir dekat dengan kehidupan umat dan mengalami suka duka mereka.
Namun, kedekatan dengan umat harus berawal dari kedekatan dengan Tuhan.
“Imam harus pertama-tama dekat dengan Tuhan supaya pelayanan memiliki jiwa,” ungkapnya.
Uskup Hans mengingatkan bahwa imam bukan manusia sempurna. Imam juga manusia yang dapat mengalami kelelahan, kegagalan dan kerapuhan. Namun, dalam semua keterbatasan itu, rahmat Allah tetap bekerja.
“Selama Kristus menjadi pusat, setiap air mata menjadi doa dan setiap kerapuhan menjadi kemuliaan,” katanya.
Refleksi tersebut terasa dekat dengan kesaksian Rm. Leo sendiri tentang perjalanan 25 tahun imamatnya.
Rm. Leo: “Saya menjadi percaya bahwa Tuhan menjadikan segala-galanya baik”
Dalam sambutannya, Rm. Leo mengakui bahwa perjalanan imamat selama 25 tahun tidak selalu berjalan tanpa tantangan.

“Ada sukacita, kegagalan, air mata dan pergumulan. Tetapi ketika saya melihat semuanya itu, saya menjadi percaya bahwa Tuhan menjadikan segala-galanya baik,” ungkapnya.
Ia menyadari bahwa menjadi imam bukan berarti menjadi manusia yang sempurna. Seorang imam justru terus-menerus dibentuk Tuhan melalui pengalaman hidup, pelayanan dan perjumpaan dengan umat.
“Tuhan hadir dalam aneka wajah yang hadir dalam perjalanan saya ini,” katanya.
Rm. Leo juga menyampaikan permohonan ampun atas segala dosa dan kesalahan yang terjadi selama perjalanan panggilannya. Ia kemudian mengungkapkan kerinduan untuk menjalani sisa perjalanan imamat dengan semakin dekat kepada Tuhan dan semakin dekat dengan umat.
“Saya ingin menjalani sisa imamat dengan semakin dekat dengan Tuhan, semakin dekat dengan umat dalam kerendahan hati,” ujarnya.
Jejak pelayanan yang panjang
Selama perjalanan hidup imamatnya, Rm. Leo menjalani pelayanan selama delapan tahun di Seminari San Dominggo Hokeng. Setelah itu, ia pernah berkarya selama enam tahun di SEKPAS, menjadi Ketua KOMSOS, mengajar selama lima tahun di SMAS Darius Larantuka, menjadi pastor pembantu selama tiga tahun di Paroki San Juan Lebao, berkarya selama 11 tahun di Paroki Lamalera, empat tahun di Paroki Lewotobi, dan kini melanjutkan pelayanan di Paroki Leworahang. Ia juga kini menjalani dua periode pelayanan sebagai pengurus di CU Sinar Saron.
Pengalaman empat tahun di Lewotobi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Di wilayah yang berada di bawah bayang-bayang amukan erupsi Gunung Lewotobi laki-laki, Rm. Leo menjalani pelayanan bersama umat dalam situasi dan tantangan kehidupan yang nyata.
Uskup Hans melihat pengalaman itu sebagai bagian dari proses pendewasaan panggilan imamat Rm. Leo—sebuah panggilan yang tidak mudah terguncang oleh berbagai “letusan” kehidupan, tetapi tetap teguh berjalan bersama umat.
Kehadiran yang menjadi hadiah
Bagi umat Paroki Lewotobi, kehadiran di Lamawolo menjadi sebuah ungkapan sederhana tetapi bermakna: terima kasih kepada seorang gembala yang pernah berjalan bersama mereka.

Dari berbagai wilayah, umat datang, bernyanyi dan berdoa bersama. Koor Paroki Lewotobi mengambil bagian dalam liturgi, sementara umat lainnya hadir sebagai bagian dari keluarga besar yang ikut bersyukur atas perjalanan 25 tahun imamat Rm. Leo.
Kehadiran mereka juga menjadi gambaran bahwa karya pastoral seorang imam meninggalkan jejak yang melampaui batas waktu dan tempat. Ketika seorang imam berpindah tugas, hubungan persaudaraan yang telah dibangun bersama umat tetap dapat bertumbuh.
Atas kehadiran umat Paroki Lewotobi tersebut, Rm. Leo menyampaikan terima kasih secara khusus, termasuk kepada koor dari Stasi Lewotobi yang telah mengambil bagian dalam perayaan.
Perayaan Perak Imamat akhirnya menjadi perayaan seluruh umat: sebuah perayaan syukur atas kesetiaan seorang imam, sekaligus syukur atas persaudaraan yang lahir dari perjalanan pelayanan.
Dari Lamawolo Atas, kampung asal Rm. Leo, umat Lewotobi datang membawa suara dan hati mereka. Dalam doa dan nyanyian, mereka merayakan satu keyakinan yang sama: bahwa dalam segala pengalaman hidup—sukacita, kegagalan, air mata dan pergumulan—Tuhan tetap berkarya dan “menjadikan segala-galanya baik.” (ASO KOMSOS Lewotobi)



