
Mendengar Suara Orang Muda, Menata Langkah Bersama: OMK Stasi Nurabelen Siap Bangkit dan Bertumbuh
Nurabelen, 29 Juli 2026 – Suasana Aula Angin Wutun, Stasi Nurabelen, dipenuhi semangat kebersamaan pada Rabu (29/7) sore. Selama kurang lebih dua jam, Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Nurabelen duduk bersama Pastor Paroki St. Yosep Lewotobi, Rm. Moses Watan Boro, Diakon Romanus Tubo Ola, dan Ketua Dewan Paroki, Bapak Lukas Fernandez, dalam sebuah pertemuan yang tidak sekadar membahas program kerja, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengar suara, pergumulan, dan harapan kaum muda Gereja.

Pertemuan yang berlangsung pukul 17.00–19.00 WITA ini merupakan bagian dari agenda kunjungan pastoral kepada OMK di setiap stasi. Melalui dialog yang terbuka, Gereja ingin memastikan bahwa orang muda tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi sungguh-sungguh menjadi subjek utama dalam perjalanan hidup menggereja.
Mengawali pertemuan, Diakon Tubo menjelaskan bahwa forum ini diselenggarakan sebagai kesempatan bagi setiap stasi untuk menyampaikan pengalaman nyata kehidupan OMK, sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama demi pembinaan yang lebih baik di masa mendatang.
“Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi OMK untuk berbagi cerita tentang kehidupan mereka di stasi masing-masing. Dari pengalaman itulah kita belajar dan mencari jalan bersama,” ungkap Diakon Tubo.
Harapan besar terhadap kebangkitan OMK juga disampaikan oleh Ketua Dewan Paroki, Bapak Lukas Fernandez. Dengan penuh semangat ia mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi kaum muda di Nurabelen.

“Kalau saya melihat orang-orang muda Nurabelen, saya jadi ingin kembali menjadi OMK,” ujarnya yang disambut senyum peserta.
Ia mengingatkan bahwa pembekalan pendamping OMK yang pernah dilaksanakan pada tahun 2022 belum diikuti dengan pendampingan yang berkelanjutan. Akibatnya, banyak kegiatan OMK berjalan di tempat karena setiap anggota disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Namun demikian, ia optimistis bahwa pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk membangkitkan kembali semangat pelayanan kaum muda.
Sementara itu, Rm. Moses mengajak seluruh peserta untuk berbicara secara jujur mengenai kondisi organisasi OMK di Stasi Nurabelen.
“Saya ingin mendengar cerita dari teman-teman OMK. Apa yang sudah dilakukan, apa tantangannya, dan apa harapan kalian untuk organisasi ini,” ajaknya.
Dinamika OMK: Antara Semangat dan Tantangan
Dalam sesi dialog, para peserta menyampaikan berbagai pengalaman yang menggambarkan realitas kehidupan OMK saat ini.
Acong Knoba, yang juga aktif dalam PSE Paroki, menjelaskan bahwa kepengurusan OMK telah diperbarui sejak Februari 2026. Berbagai program sederhana telah dirancang, namun partisipasi anggota masih menjadi tantangan utama.

“Yang aktif masih orang-orang yang sama. Biasanya ramai ketika masa liburan sekolah, tetapi setelah itu kegiatan kembali sepi.”
Ia mengenang masa ketika OMK Paroki sangat aktif melalui kegiatan koor antarstasi yang mampu menyatukan banyak kaum muda. Menurutnya, semangat kebersamaan seperti itulah yang perlu dihidupkan kembali.
Inspirasi berbeda dibagikan oleh Elen, peserta Nusra Youth Day 2026 di Maumere. Ia menceritakan pengalamannya mengikuti perjumpaan OMK se-Nusa Tenggara, mulai dari ziarah rohani hingga seminar bersama para uskup dan tokoh Gereja.

Menurutnya, kegiatan tersebut membuka wawasan bahwa orang muda Katolik dipanggil untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan fisik, tetapi juga bertumbuh dalam iman serta menjadi pribadi yang membawa dampak bagi Gereja dan masyarakat.
“Jadilah orang muda yang berakar dalam iman dan jangan menjadi orang muda yang dangkal,” pesan yang paling membekas baginya selama mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua OMK Stasi Nurabelen, Mei Puka, mengakui bahwa selama masa kepengurusannya jumlah anggota aktif tidak lebih dari sepuluh orang. Berbagai program seperti doa dan sharing bulanan, bakti sosial, serta ziarah telah dilaksanakan, namun belum mampu mempertahankan keterlibatan anggota secara konsisten.
Beragam Masukan untuk Masa Depan
Dialog berlangsung semakin hidup ketika peserta lain turut menyampaikan pandangan.
Ancis Blolon menilai kesibukan bekerja, khususnya sebagai nelayan, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anggota sulit mengikuti kegiatan secara rutin. Ia juga berharap kegiatan OMK tidak hanya berfokus pada doa, tetapi dipadukan dengan aktivitas yang lebih menarik bagi kaum muda.
Lia Kolin mengingatkan pentingnya disiplin waktu dalam setiap kegiatan, sedangkan Son Kolin mengusulkan agar OMK menyusun program yang lebih variatif, seperti olahraga, pelayanan liturgi, pendampingan SEKAMI, hingga kegiatan sosial yang sesuai dengan minat generasi muda.

Di sisi lain, Anisa berbagi pengalaman mengenai usaha dana yang pernah dilakukan melalui penjualan makanan, sementara Ina Lamablawa menyoroti pentingnya membangun persaudaraan di antara anggota OMK dengan menghilangkan rasa iri hati maupun konflik pribadi yang masih terjadi. Riska Uran, yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta, turut menyampaikan harapan agar organisasi OMK semakin berkembang meskipun dirinya belum dapat terlibat secara aktif karena studi.
Menata Langkah Baru
Menutup seluruh rangkaian pertemuan, Rm. Moses menyampaikan beberapa langkah konkret yang perlu segera dilakukan.
Beliau meminta agar kepengurusan OMK segera dilengkapi, program kerja disusun dalam bentuk kalender kegiatan tahunan, serta seluruh anggota mempersiapkan diri menyambut Pelantikan Pengurus OMK Stasi Nurabelen yang akan dilaksanakan pada 21 Agustus 2026, dengan OMK Stasi Nurabelen dipercaya menyiapkan koor dalam perayaan tersebut.
Selain itu, Pastor juga menegaskan bahwa AD/ART OMK Paroki akan segera diberlakukan sebagai pedoman bersama agar kehidupan organisasi memiliki arah yang jelas dan mampu meningkatkan kedisiplinan serta tanggung jawab setiap anggota.

Perhatian juga diberikan pada agenda besar berikutnya, yakni Ziarah Salib OMK yang akan dilaksanakan pada bulan September. Untuk itu, Pastor meminta agar panitia segera dibentuk dan seluruh persiapan mulai dirancang sejak sekarang.
Membangun Gereja Bersama Orang Muda
Pertemuan sore itu bukan sekadar forum evaluasi, melainkan menjadi momentum membangun kembali harapan. Berbagai pengalaman, kritik, dan gagasan yang muncul menunjukkan bahwa di balik berbagai keterbatasan, OMK Stasi Nurabelen masih memiliki semangat untuk bertumbuh dan melayani.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kepengurusan yang semakin tertata, serta keterlibatan aktif seluruh anggota, OMK Stasi Nurabelen diharapkan mampu menjadi komunitas orang muda yang hidup, kreatif, berakar dalam iman, serta menjadi wajah Gereja yang penuh sukacita di tengah masyarakat.
“Orang muda bukan hanya masa depan Gereja, tetapi juga bagian dari Gereja hari ini. Karena itu, mereka perlu didengar, didampingi, dan diberi ruang untuk bertumbuh serta berkarya.” (ASO – KOMSOS Lewotobi)



