
Sukacita Penerimaan Sakramen Baptis bagi 18 Anak di Paroki Santo Yosep Lewotobi
Nurabelen, 7 Juni 2026 – Paroki Santo Yosep Lewotobi kembali merasakan sukacita iman melalui penerimaan Sakramen Baptis bagi 18 anak yang berlangsung dalam rangkaian perayaan Ekaristi di beberapa stasi sepanjang pekan pertama Juni 2026. Sakramen Baptis yang merupakan pintu masuk menuju kehidupan baru dalam Kristus ini menjadi tanda nyata pertumbuhan Gereja, baik dalam jumlah umat maupun dalam kedalaman iman.
Rangkaian pembaptisan dimulai pada Senin, 1 Juni 2026, dengan pembaptisan 2 anak di Stasi Nurabelen. Selanjutnya, pada Rabu, 3 Juni 2026, 1 anak menerima Sakramen Baptis di Stasi Lewotobi. Puncaknya terjadi pada Minggu, 7 Juni 2026, yang bertepatan dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, ketika 1 anak dibaptis di Stasi Riangkaha dan 14 anak dari Stasi Nobo menerima Sakramen Baptis di Stasi Nurabelen.




Pemindahan lokasi pembaptisan anak-anak dari Stasi Nobo ke Stasi Nurabelen dilakukan karena meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang dalam beberapa waktu terakhir sering menunjukkan aktivitas vulkanik. Demi keselamatan umat, perayaan sakramen dilaksanakan di lokasi yang lebih aman dengan tetap menjaga kekhidmatan dan makna liturgisnya.
Dalam homilinya, Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi, RD Moses Watan Boro mengungkapkan rasa syukur dan sukacita atas pertumbuhan Gereja yang terus berlangsung.
“Kita bersukacita karena Gereja terus bertumbuh, bukan hanya dalam jumlah umat, tetapi juga dalam kehidupan iman. Dalam rahmat Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini, kita menerima 18 anak yang dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Baptisan menjadi sumber keselamatan bagi setiap orang beriman, dan melalui Tubuh serta Darah Kristus yang kita sambut, kita dipersatukan sebagai satu keluarga Allah dalam Gereja.”
Romo Moses juga menegaskan bahwa Sakramen Baptis bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan awal perjalanan hidup beriman seorang anak. Karena itu, orang tua dan wali baptis memiliki tugas penting untuk mendampingi, mengajar, dan memberi teladan hidup Kristiani kepada anak-anak yang telah dibaptis.
“Anak-anak yang dibaptis hari ini membutuhkan lingkungan keluarga yang mampu menumbuhkan iman mereka. Orang tua dan wali baptis dipanggil menjadi pendidik iman pertama melalui doa, pengajaran, dan terutama keteladanan hidup sehari-hari,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pastor Paroki juga mengajak seluruh umat untuk membangun semangat solidaritas di tengah situasi bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Ia mengingatkan agar keluarga yang merayakan pembaptisan tidak mengadakan pesta syukuran secara berlebihan.
“Di tengah situasi bencana ini, kita dipanggil untuk menunjukkan solidaritas sebagai satu tubuh Kristus. Jangan membuat syukuran sakramen yang berlebihan dengan musik keras atau pesta pora hingga mabuk-mabukan. Kita sedang menghadapi kesulitan bersama. Semangat yang perlu kita tunjukkan adalah saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi tantangan alam yang sedang kita alami.”
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Stasi Nobo, Bapak Albert menyampaikan keprihatinan atas kondisi yang sedang dihadapi umat. Ia mengungkapkan bahwa gereja di stasi saat ini kembali ditutup karena aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki yang meningkat.
“Saat ini gereja kami di stasi kembali ditutup karena aktivitas gunung. Karena itu hendaknya masyarakat tidak membuat keramaian melalui pesta syukuran di kampung. Kita mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan pembatasan beraktivitas di wilayah sekitar gunung agar seluruh masyarakat tetap aman,” ujar ketua Dewan Stasi Nobo.
Sementara itu, salah seorang ayah yang anaknya menerima Sakramen Baptis mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas rahmat yang diterima keluarganya.
“Saya sangat bersukacita karena anak saya boleh menerima Sakramen Baptis. Saya berjanji untuk menjadi orang tua yang baik, mendidik anak dalam iman Katolik melalui pengajaran, doa, dan teladan hidup sehari-hari.”
Penerimaan Sakramen Baptis bagi 18 anak ini menjadi tanda harapan bagi Paroki Santo Yosep Lewotobi. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi akibat bencana alam, Gereja tetap hidup dan bertumbuh. Melalui rahmat baptisan, anak-anak yang telah dilahirkan kembali dalam air dan Roh kini menjadi anggota Gereja yang dipanggil untuk bertumbuh dalam iman, sementara orang tua dan wali baptis mengemban tanggung jawab mulia untuk membimbing mereka agar semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Kristus sepanjang hidupnya. (ASO)



