
Di Tengah Ancaman Erupsi Lewotobi, Lima Pasangan dari Stasi Nobo Terima Sakramen Perkawinan: Cinta dan Iman Menang atas Tantangan
Nurabelen, 17 Juli 2026 – Di tengah situasi yang masih dibayangi aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki yang berada pada Status Level III (Siaga), sukacita iman tetap menyala di Paroki Santo Yosef Lewotobi. Sebanyak lima pasangan dari Stasi Nobo secara resmi menerima Sakramen Perkawinan dalam Perayaan Ekaristi yang dipusatkan di Gereja Santo Yosef Nurabelen, Jumat (17/7/2026).
Perayaan yang semula direncanakan berlangsung di Stasi Nobo terpaksa dipindahkan ke Stasi Nurabelen karena wilayah Nobo masih termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang hingga kini masih menunjukkan aktivitas vulkanik dan terus mengalami erupsi.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, RD Moses Watan Boro, didampingi Diakon Romanus Tubo Ola dan Fr. Ichal, serta dihadiri keluarga kedua mempelai dan umat yang datang untuk memberikan doa dan dukungan kepada pasangan-pasangan yang memasuki kehidupan perkawinan.
Kelima pasangan yang menerima Sakramen Perkawinan tersebut adalah:
- Gregorius Kuda Tobi dengan Vinsensia Onya Witin
- Marianus Yosep Tadon Boru dengan Anastasia Apriliana
- Boby Hutasoit dengan Elisabet Elsi Oja
- Joseph Chrisantus Sogen dengan Maria Magdalena Lering Mare
- Leonardus Duli Temu dengan Kristina Nebo Puka
Momentum sakral ini menjadi tanda nyata bahwa di tengah berbagai keterbatasan akibat bencana, kehidupan Gereja tetap berjalan dan iman umat tetap bertumbuh.

Belajar dari Raja Hizkia: Keluarga Harus Bertumpu pada Tuhan
Dalam homilinya, Diakon Romanus Tubo Ola mengajak pasangan-pasangan yang baru menikah untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan keluarga. Ia mengangkat kisah Raja Hizkia dalam Kitab Yesaya yang, ketika sakit keras dan hampir meninggal, datang kepada Tuhan dengan doa penuh iman.
“Raja Hizkia tidak menyerah pada keadaan. Ia datang kepada Tuhan, memohon belas kasih-Nya dengan penuh iman. Tuhan mendengarkan doanya, menyembuhkannya, dan menambahkan umurnya. Demikian pula dalam kehidupan keluarga. Akan ada berbagai tantangan, persoalan, dan kesulitan yang dihadapi. Karena itu, pasangan suami istri hendaknya selalu datang kepada Tuhan, rajin berdoa, dan setia mengikuti Perayaan Ekaristi agar memperoleh kekuatan dan berkat-Nya.”
Diakon Tubo juga mengingatkan umat tentang pentingnya menempatkan kehidupan rohani di atas segala aktivitas sosial.
“Sering kali semangat solidaritas kita lebih tampak dalam pesta. Kita berbondong-bondong datang ke tenda pesta, tetapi ketika Perayaan Ekaristi pemberkatan nikah berlangsung di gereja, kehadiran umat justru masih sangat sedikit. Semoga ke depan kita semakin menyadari bahwa puncak sukacita perkawinan adalah ketika pasangan menerima berkat Tuhan di altar-Nya.”
Empat Anak Terima Sakramen Baptis
Sukacita perayaan semakin lengkap karena dalam Misa yang sama, empat orang anak dari pasangan yang baru menikah juga menerima Sakramen Baptis, sebagai tanda diterimanya mereka dalam persekutuan Gereja.
Keempat anak tersebut adalah:
- Theofanus Pattun Hamonangan Hutasoit, putra dari Boby Hutasoit dan Elisabet Elsi Oja
- Betrandus Satu Hutasoit, putra dari Boby Hutasoit dan Elisabet Elsi Oja
- Yohanes Vilano Sogen, putra dari Joseph Chrisantus Sogen dan Maria Magdalena Lering Mare
- Yosep Kele Temu, putra dari Leonardus Duli Temu dan Kristina Nebo Puka
Perayaan sakramen perkawinan dan baptis yang berlangsung dalam satu Ekaristi menjadi lambang indah tentang perjalanan iman sebuah keluarga Kristiani yang dimulai dengan kasih, diteguhkan dalam sakramen, dan diteruskan melalui pendidikan iman kepada anak-anak.
Harapan bagi Pasangan Lain
Ketua Dewan Stasi Nobo menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya perayaan tersebut meskipun harus berpindah lokasi karena kondisi bencana.
“Hari ini kami bersukacita karena lima pasangan yang selama ini telah hidup bersama akhirnya diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan. Ini menjadi berkat besar bagi keluarga-keluarga mereka dan juga bagi Gereja. Kami berharap pasangan lain yang belum menerima berkat perkawinan dapat mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) gelombang kedua yang direncanakan pada bulan Oktober nanti.”
Ia berharap semakin banyak keluarga Katolik di Stasi Nobo yang terdorong untuk menyempurnakan hidup berkeluarga melalui Sakramen Perkawinan.
Iman yang Tetap Bertumbuh di Tengah Bencana
Meski berada di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih akibat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki, umat Paroki Santo Yosef Lewotobi menunjukkan bahwa bencana tidak mampu menghentikan langkah Gereja dalam menghadirkan kasih dan keselamatan Allah. Perpindahan lokasi perayaan dari Stasi Nobo ke Gereja Santo Yosef Nurabelen justru menjadi simbol bahwa iman selalu menemukan jalan untuk tetap bertumbuh di tengah segala keterbatasan.
Usai Perayaan Ekaristi, masing-masing keluarga melanjutkan ungkapan syukur melalui acara sederhana di rumah mereka. Sukacita yang dirayakan bukan semata karena pesta, tetapi terutama karena kelima pasangan tersebut kini telah diteguhkan dalam Sakramen Perkawinan, fondasi kokoh bagi kehidupan keluarga Katolik yang dipanggil untuk hidup dalam kasih, kesetiaan, dan iman kepada Kristus. (ASO – Komsos Lewotobi)



