
Syukur Perak Hidup Membiara Sr. Maria Paskalia Kolin, SCMM: Sukacita Iman yang Menguatkan Panggilan di Tanah Nurabelen
Lewotobi, Flores Timur – 14 Juli 2026 – Sukacita iman menyelimuti umat Paroki Santo Yosef Lewotobi, secara khusus umat Stasi Santo Yosef Nurabelen, yang bersama-sama mengungkapkan syukur atas 25 tahun hidup membiara (Perak Kaul Membiara) Sr. Maria Paskalia Kolin, SCMM. Perayaan syukur yang berlangsung khidmat dan penuh kehangatan itu tidak hanya menjadi ungkapan terima kasih atas kesetiaan sang suster dalam menghayati panggilan hidup bakti, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan semangat panggilan bagi generasi muda.

Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, sebagai selebran utama. Beliau didampingi oleh Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, Rm. Moses Watan Boro, Sekretaris Uskup, Rm. Fransiskus Kwaelaga, serta Rm Stef Kolin, Rm. Leo Lewokrore, Rm. Flori Werang, Rm. Hendra Kleden, dan Diakon Romanus Tubo Ola. Kehadiran para imam, diakon, frater, biarawan-biarawati, keluarga, serta umat dari berbagai stasi menjadikan perayaan ini semakin semarak dalam suasana persaudaraan.
Reuni Penuh Kenangan Bersama Umat Nurabelen
Bagi Mgr. Yohanes Hans Monteiro, kunjungan ke Nurabelen bukan sekadar memenuhi undangan sang yubilaris. Tempat ini menyimpan kenangan yang begitu mendalam karena sekitar 30 tahun yang lalu, ketika masih menjadi frater, beliau menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Santo Yosef Lewotobi.
Dalam homilinya, Bapa Uskup mengenang sebuah puisi yang sangat populer pada masa itu, yaitu IKAN, singkatan dari “Ingat Kami Anak Nurabelen.” Dengan penuh kehangatan, beliau mengisahkan bagaimana puisi sederhana tersebut menjadi simbol persaudaraan yang hingga kini tetap hidup dalam ingatannya.
“Ketika Suster Paskalia mengundang saya, saya merasa inilah kesempatan yang baik untuk kembali ke Nurabelen, bertemu lagi dengan umat yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan panggilan saya,” ungkap Mgr. Hans.


Beliau kemudian mengaitkan makna puisi tersebut dengan perjalanan hidup bakti Sr. Maria Paskalia.
“Seperti ikan yang selalu mempunyai duri, demikian pula perjalanan panggilan hidup seorang religius tidak pernah bebas dari tantangan dan kesulitan. Namun justru melalui pengalaman itulah Tuhan membentuk pribadi yang semakin setia dan matang dalam mengikuti kehendak-Nya.”
Mengacu pada motto hidup yang dipilih Sr. Paskalia, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9), Bapa Uskup mengajak sang yubilaris untuk terus memandang setiap pengalaman hidup sebagai rahmat Allah.
“Jangan pernah hanya melihat kelemahan atau kesulitan. Lihatlah kasih karunia Tuhan yang tidak pernah berhenti dicurahkan dalam setiap perjalanan panggilan,” pesannya.
Di hadapan umat yang memadati gereja, Mgr. Hans juga memberikan dorongan khusus kepada kaum muda agar tidak takut menjawab panggilan Tuhan, baik menjadi imam, suster, maupun menjalani panggilan hidup berkeluarga dengan penuh kesetiaan.
Pastor Paroki: Kampung Halaman Menjadi Sumber Kekuatan Panggilan
Dalam sambutannya, Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, Rm. Moses Watan Boro, menyampaikan selamat datang kepada Mgr. Yohanes Hans Monteiro di paroki yang kini telah berusia 86 tahun.
Atas nama seluruh umat, Rm. Moses juga menyampaikan ucapan selamat atas 27 tahun Tahbisan Imamat Bapa Uskup, seraya mendoakan agar beliau senantiasa diberi kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan dalam menggembalakan Keuskupan Larantuka.

Kepada Sr. Maria Paskalia Kolin, SCMM, Romo Moses menyampaikan apresiasi karena memilih pulang ke kampung halaman untuk merayakan syukur perak hidup membiaranya.
“Kehadiran Suster di tengah umat asal menjadi inspirasi yang sangat berharga. Anak-anak muda dapat melihat bahwa panggilan hidup bakti adalah sesuatu yang indah dan layak diperjuangkan. Di sisi lain, kampung halaman juga menjadi tempat untuk menimba kembali kekuatan sebelum kembali menjalankan karya perutusan,” ungkapnya.
Kesaksian Kesetiaan Seorang Yubilaris
Dalam ungkapan syukurnya, Sr. Maria Paskalia Kolin, SCMM mengenang perjalanan panggilannya sejak awal hingga kini. Ia membagikan kisah panggilan, masa pembinaan, serta pengalaman pelayanan di berbagai tempat karya.
Saat ini, Sr. Paskalia diutus sebagai perawat di wilayah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, sebuah daerah pelayanan yang menghadirkan tantangan tersendiri, baik dalam karya kesehatan maupun pendampingan pastoral kepada masyarakat.

Meski demikian, ia mengakui bahwa setiap tantangan selalu menjadi kesempatan untuk mengalami penyertaan Tuhan secara nyata.
“Dalam perjalanan ini saya sungguh merasakan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya. Saya memohon dukungan doa dari seluruh umat agar saya tetap setia, tabah, dan mampu menjalankan perutusan ini dengan penuh kasih,” tutur Sr. Paskalia.
Ucapan syukur dan sukacita juga datang dari para suster Kongregasi SCMM, keluarga besar sang yubilaris, serta seluruh umat yang hadir. Mereka memberikan doa, dukungan, dan harapan agar Sr. Paskalia terus menjadi saksi kasih Kristus melalui pelayanan yang sederhana namun penuh makna.
Syukur yang Berlanjut dalam Kebersamaan
Setelah Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yosef Nurabelen, seluruh rangkaian syukur dilanjutkan di rumah keluarga Sr. Maria Paskalia Kolin. Dalam suasana yang akrab dan penuh kekeluargaan, umat, keluarga, para imam, para suster, dan tamu undangan menikmati kebersamaan sambil berbagi cerita dan sukacita.

Perayaan ini bukan hanya menjadi ungkapan syukur atas 25 tahun kesetiaan Sr. Maria Paskalia Kolin, SCMM, tetapi juga menjadi peneguhan bahwa benih panggilan yang tumbuh dari keluarga, Gereja, dan kampung halaman akan terus menghasilkan buah ketika dipelihara dengan iman, doa, dan kasih karunia Tuhan.
Di tanah Nurabelen, tempat yang pernah membentuk perjalanan seorang frater hingga menjadi uskup, dan yang melahirkan seorang suster yang kini mengabdikan hidupnya bagi sesama, gema panggilan kembali bergema: Tuhan tetap memanggil, dan kasih karunia-Nya selalu cukup bagi setiap orang yang dengan setia menjawab panggilan itu. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



