
OMK Santo Yosef Lewotobi Menata Kembali Organisasi, Bahas AD/ART Secara Bersama
Dari Riangbunga, orang muda enam stasi menyatukan gagasan untuk membangun OMK yang lebih hidup dan berdaya
RIANGBUNGA — Semangat membangun kembali kehidupan organisasi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Yosef Lewotobi tampak dalam pertemuan perdana seluruh anggota OMK yang digelar di Aula Stasi Riangbunga, Senin (31/8/2026).
Pertemuan yang berlangsung setelah Perayaan Ekaristi, pelantikan pengurus OMK, dan pembukaan Ziarah Salib OMK itu menjadi ruang bersama bagi ratusan orang muda dari enam stasi untuk menata kembali rumah besar OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi.
Agenda utama pertemuan adalah pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) OMK Paroki. Pembahasan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kembali organisasi yang mulai diaktifkan setelah sempat mengalami kevakuman akibat dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Ketua OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi, Laurensius Bawa Blolon (Lori). Hadir pula Pastor Paroki RD Moses Watan Boro, Moderator OMK Paroki Diakon Romanus Tubo Ola, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), pengurus stasi, serta ratusan OMK dari Stasi Nobo, Nurabelen, Riangkaha, Riangbunga, Lewotobi, dan Lewouran.
Bukan Sekadar Membahas Aturan
Pertemuan ini tidak berlangsung dalam suasana formal yang kaku. Para OMK dari berbagai stasi diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, gagasan, kritik, maupun usulan terhadap rancangan AD/ART yang sedang dibahas.
Satu per satu gagasan muncul dari orang muda. Ada yang memberikan masukan terkait arah organisasi, pola kerja kepengurusan, keanggotaan, kegiatan OMK, hingga bagaimana organisasi dapat menjadi wadah yang sungguh-sungguh menjawab kebutuhan orang muda di tengah perkembangan zaman.
Suasana diskusi memperlihatkan bahwa orang muda tidak ingin hanya menjadi pelaksana kegiatan. Mereka ingin ikut menentukan arah perjalanan organisasi yang mereka miliki.
Karena itu, pembahasan AD/ART menjadi lebih dari sekadar menyusun aturan organisasi. Ia menjadi kesempatan bagi OMK untuk bertanya kembali: OMK seperti apa yang ingin dibangun bersama?
Membangun Organisasi dari Gagasan Bersama
Memimpin jalannya pembahasan, Lori mengajak seluruh anggota OMK untuk melihat AD/ART sebagai fondasi bersama dalam menjalankan organisasi.
Menurutnya, OMK membutuhkan aturan yang jelas agar seluruh anggota memiliki arah yang sama dalam menjalankan berbagai kegiatan dan pelayanan.

Namun, aturan tersebut tidak boleh lahir hanya dari pemikiran beberapa orang. Karena itu, keterlibatan seluruh OMK dari berbagai stasi menjadi bagian penting dalam proses penyusunannya.
Semangat yang dibangun adalah bahwa OMK merupakan milik bersama, bukan milik pengurus semata.
Setiap orang muda memiliki ruang untuk berkontribusi dan memberikan sesuatu bagi perkembangan organisasi.
Setelah Erupsi, OMK Kembali Menemukan Ruang untuk Bergerak
Pengaktifan kembali OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi memiliki makna tersendiri bagi orang muda.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam aktivitas pastoral dan kehidupan orang muda. Dalam situasi tersebut, berbagai kegiatan OMK ikut mengalami keterbatasan bahkan kevakuman.
Kini, melalui pelantikan pengurus baru periode 2026–2029, pembukaan Ziarah Salib, dan pembahasan AD/ART, OMK mulai menata kembali langkahnya.
Pertemuan di Aula Stasi Riangbunga menjadi salah satu tanda bahwa orang muda mulai menemukan kembali ruang untuk berkumpul, berdiskusi, dan bergerak bersama.
Kehadiran ratusan OMK dari enam stasi juga memperlihatkan bahwa semangat tersebut tidak hanya tumbuh di satu tempat, tetapi menjadi kerinduan bersama seluruh orang muda di wilayah Paroki Santo Yosef Lewotobi.
Dari Berbeda Stasi, Menjadi Satu Keluarga
Salah satu hal menarik dari pertemuan tersebut adalah keberagaman gagasan yang muncul dari masing-masing stasi.
Perbedaan pandangan tidak dilihat sebagai persoalan, melainkan sebagai kekayaan yang dapat membantu OMK menemukan bentuk organisasi yang lebih baik.
Di tengah diskusi, para peserta belajar bahwa membangun organisasi berarti belajar mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, dan mencari jalan terbaik secara bersama-sama.
Semangat ini sejalan dengan harapan agar OMK dari setiap stasi semakin memperkuat kerja sama dan menghindari berbagai bentuk perselisihan yang dapat mengganggu persaudaraan.
Dengan demikian, AD/ART tidak hanya menjadi dokumen organisasi, tetapi diharapkan menjadi komitmen bersama untuk menjaga persaudaraan dan membangun OMK yang solid.
Menjawab Tantangan Orang Muda Zaman Ini
Antusiasme peserta dalam memberikan sumbang pikiran menjadi modal penting bagi perjalanan OMK ke depan.
Orang muda menginginkan organisasi yang tidak hanya aktif dalam kegiatan kerohanian, tetapi juga mampu menjadi tempat untuk mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, bakat, keterampilan, kepedulian sosial, dan berbagai potensi yang mereka miliki.

OMK diharapkan menjadi ruang aman bagi orang muda untuk belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab sekaligus semakin matang dalam iman.
Karena itu, proses pembahasan AD/ART yang berlangsung di Riangbunga dapat dilihat sebagai langkah kecil dengan makna besar: menyiapkan fondasi bagi perjalanan OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi di tahun-tahun mendatang.
Pertemuan berakhir dengan semangat yang sama: OMK harus bergerak bersama.
Bukan hanya pengurus. Bukan hanya satu stasi. Bukan hanya mereka yang aktif dalam kegiatan Gereja.
Tetapi seluruh orang muda.
Menata kembali organisasi, memperkuat persaudaraan, dan bersama-sama membangun OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi menjadi komunitas orang muda yang hidup, terbuka, dan siap diutus bagi Gereja dan masyarakat. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



