
Dua Barang Kudus dari Vatikan Hadir di Stasi Santo Petrus Lewouran, Siap Menjadi Destinasi Ziarah Umat Beriman
Lewouran, Flores Timur – Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Stasi Santo Petrus Lewouran, Paroki Santo Yosef Lewotobi, Keuskupan Larantuka. Melalui upaya dan pelayanan P. Markus Solo Kewuta, SVD, dua barang kudus dari Vatikan resmi dihadirkan untuk Gereja Santo Petrus Rasul Lewouran. Kedua benda suci tersebut menjadi tanda istimewa persekutuan dengan Gereja Universal sekaligus membuka harapan baru bagi berkembangnya Lewouran sebagai tujuan ziarah umat Katolik.
Dua barang kudus yang diterima adalah sebuah batu bata dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan dan sejumlah tanah dari kawasan Campus Petri di dekat Makam Santo Petrus Rasul. Keduanya disertai dokumen resmi dari Vikariat Kota Vatikan yang menjelaskan asal-usul, makna, dan keasliannya.

Berdasarkan surat Vikariat Kota Vatikan dengan Nomor Protokol 172V/25, batu bata tersebut merupakan bagian dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus yang digunakan pada Yubileum Luar Biasa Kerahiman 2015–2016 yang diproklamasikan oleh Paus Fransiskus. Batu itu kemudian diambil kembali saat pembukaan Tahun Suci Biasa 2025 dan dianugerahkan kepada Gereja Santo Petrus Rasul di Lewouran.
Dalam surat balasannya kepada P. Markus Solo Kewuta, SVD, Mgr. Orazio Pepe, Sekretaris Fabbrica di San Pietro, menyampaikan bahwa pemberian batu bata itu merupakan jawaban atas permohonan yang diajukan pada 1 Juli 2026. Batu tersebut diberikan sebagai tanda nyata kedekatan umat di Lewouran dengan Basilika Santo Petrus, sekaligus sebagai lambang persekutuan dengan Paus, penerus Rasul Petrus, dan partisipasi dalam rahmat rohani Tahun Yubileum.

Selain batu bata dari Pintu Suci, Vatikan juga mengirimkan relikwi berupa tanah dari Campus Petri, kawasan di Nekropolis Vatikan yang terletak di dekat Makam Santo Petrus Rasul. Dalam surat tertanggal 16 Juli 2026, Kardinal Mauro Gambetti, Imam Agung Basilika Kepausan Santo Petrus sekaligus Presiden Fabbrica di San Pietro, menjelaskan bahwa tanah tersebut dikirim sebagai relikwi untuk dihormati secara publik di Gereja Santo Petrus Rasul, Kampung Lewouran.
Keaslian relikwi tersebut ditegaskan kembali dalam dokumen kesaksian resmi yang menyatakan bahwa tanah di dalam wadah transparan berasal dari Campus Petri, kawasan yang berada di dekat makam Rasul Petrus yang dihormati, dan telah disegel oleh Fabbrica di San Pietro.
Bagi Gereja Katolik, kedua barang kudus ini memiliki makna rohani yang sangat mendalam. Batu bata dari Pintu Suci menjadi simbol perjalanan iman, pertobatan, dan kerahiman Allah yang dihayati sepanjang Tahun Yubileum. Sementara itu, tanah dari sekitar Makam Santo Petrus menjadi tanda nyata kedekatan umat dengan Rasul Petrus, yang oleh Kristus ditetapkan sebagai batu karang Gereja.

Pastor Markus Solo Kewuta, SVD, melalui korespondensi resminya dengan Vatikan, menghadirkan kedua barang kudus ini sebagai warisan iman bagi umat di Lewouran. Kehadirannya bukan sekadar memperkaya koleksi benda religius, tetapi menjadi sarana untuk memperdalam spiritualitas dan mempererat persatuan umat dengan Gereja Universal.
Paroki Santo Yosef Lewotobi bersama Stasi Santo Petrus Lewouran kini mulai menata langkah untuk menjadikan lokasi penyimpanan kedua barang kudus tersebut sebagai tempat ziarah rohani. Harapannya, umat Katolik dari berbagai paroki di Keuskupan Larantuka, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia, dapat datang berdoa, berziarah, dan mengalami pembaruan iman melalui penghormatan kepada barang-barang kudus yang berasal langsung dari pusat Gereja Katolik.
Dengan hadirnya batu bata dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus dan relikwi tanah dari dekat Makam Santo Petrus Rasul, Stasi Santo Petrus Lewouran memperoleh sebuah anugerah yang langka. Kehadiran kedua barang kudus ini diharapkan menjadi daya tarik rohani yang menghidupkan semangat ziarah, memperkuat iman umat, serta menjadikan Lewouran sebagai salah satu destinasi ziarah Katolik yang penting di Keuskupan Larantuka, tempat umat beriman datang untuk berdoa, memohon rahmat Tuhan, dan memperbaharui komitmen hidup Kristiani. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



