
Ungkapan Hati Rm Moses sebagai Pastor Paroki Lewotobi yang baru
“Saya datang ke Paroki Lewotobi bukan sebagai orang yang merasa sudah mampu, tetapi sebagai seorang pelayan yang ingin belajar mencintai umat dan bertumbuh bersama umat sekalian.”
LEWOTOBI, Minggu 17 Mei 2026 menjadi hari bersejarah bagi umat paroki Santo Yosep Lewotobi karena hari ini terjadi serah terima tongkat estafet kegembalaan sebagai pastor paroki dari Rm Leo Lewokrore kepada Rm Moses Watan Boro. Dalam sambutan perdananya yang disampaikan pada perayaan ekaristi bersama dengan ratusan umat yang memenuhi Gereja Santo Yosep Lewotobi, Rm Moses menyampaikan isi hatinya sebagai berikut:

Romo Deken Larantuka – Rm Lukas Laba Erap, Pastor paroki lama – Rm Leo Lewokrore, Para imam konselebran, Rm Ece Muda dan Rm Wens Herin, Bapa Camat Ile Bura, Bapa-Bapa Kepala Desa, Para pengurus stasi dan KBG, para tokoh agama, tokoh adat dan tokoh Masyarakat, umat beriman sekalian yang berasal dari Stasi Nobo hingga stasi Lewouran, wakil keluarga Rm Leo Lewokrore dan keluarga saya yang sempat hadir pada moment berahmat ini. Singkatnya semua kita yang saya banggakan dan saya cintai. Selamat pagi buat kita semua!!!
Hari ini menjadi sebuah moment bersejarah bagi kita semua, teristimewa bapa paroki kita, Paroki St. Yosep Lewotobi karena atas penyelenggaraan Tuhan kitab oleh berkumpul dalam sukacita iman untuk merayakan Hari KOMSOS Sedunia yang ke-60, serah terima jabatan pastor paroki Lewotobi, pelantikan pastor paroki yang baru dan perayaan Syukur 25 tahun imamat Rm Leo Lewokrore, pastor paroki kita yang lama.
Dengan penuh kerendahan hati, saya menerima perutusan Gereja ini berdasarkan Surat Keputusan Bapa Uskup Mgr Yohanes Hans Monteiro yang mempercayakan saya untuk melayani sebagai Pastor Paroki Lewotobi, menggantikan Rm Leo Lewokrore. Pada kesempatan ini pula, saya menyampaikan hormat dan terima kasih kepada Romo Deken Larantuka yang telah melantik saya dan menghadirkan dukungan Gereja bagi umat di paroki ini.
Saudara-saudari terkasih,
Menjadi pastor bukan pertama-tama soal jabatan, melainkan jawaban atas panggilan Tuhan. Panggilan itu selalu mengandung perutusan: pergi, hadir, mendengarkan, menguatkan, dan berjalan bersama umat. Karena itu, saya datang ke Paroki Lewotobi bukan sebagai orang yang merasa sudah mampu, tetapi sebagai seorang pelayan yang ingin belajar mencintai umat dan bertumbuh bersama umat sekalian.
Perutusan ini terasa sangat istimewa karena setelah 15 tahun menjadi imam baru sekarang ini saya ditunjuk menjadi pastor paroki untuk pertama kalinya, sekaligus penuh tantangan, karena saya datang di tengah situasi umat yang sedang mengalami penderitaan akibat erupsi Gunung Lewotobi. Banyak keluarga menghadapi ketakutan, kehilangan rumah, ladang, pekerjaan, bahkan kehilangan rasa aman. Dalam situasi seperti ini, Gereja dipanggil untuk hadir bukan hanya dengan kata-kata penghiburan, tetapi dengan tindakan nyata yang membawa harapan.
Karena itu, saya ingin berjalan bersama umat Lewotobi: hadir dalam penderitaan, mendengarkan keluh kesah, menguatkan yang lemah, menemani mereka yang berduka, dan bersama-sama membangun kembali kehidupan dengan iman dan pengharapan. Saya percaya bahwa di tengah abu vulkanik, dalam terpaan banjir lahar dingin dan luka kehidupan, Tuhan tetap bekerja dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Saudara-saudari yang terkasih,
Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, saya juga memiliki harapan besar bagi masa depan Paroki Lewotobi. Saya bercita-cita agar Paroki Lewotobi dapat berkembang menjadi paroki yang kuat tidak hanya dalam iman dan solidaritas, tetapi juga dalam tata pelayanan pastoral yang terarah dan modern.
Karena itu, bersama seluruh umat dan para pelayan pastoral, kita akan berupaya membangun Paroki Lewotobi sebagai paroki pilot project dalam pembangunan database umat melalui aplikasi BIDUK. Pendataan umat bukan sekadar soal administrasi, tetapi menjadi dasar penting untuk menghadirkan pelayanan Gereja yang lebih tepat sasaran, menyentuh kebutuhan nyata umat, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Melalui data umat yang baik dan teratur, Gereja dapat mengenal umatnya secara lebih dekat: keluarga-keluarga yang membutuhkan perhatian khusus, anak-anak dan orang muda yang perlu didampingi, orang sakit dan lansia yang perlu dikunjungi, serta umat terdampak bencana yang membutuhkan perhatian dan bantuan berkelanjutan. Dengan demikian, pastoral Gereja tidak berjalan berdasarkan perkiraan semata, tetapi bertumpu pada kenyataan hidup umat.
Saya percaya bahwa pastoral berbasis data bukan berarti Gereja menjadi kaku atau administratif, melainkan justru membantu Gereja menjadi semakin peka, terarah, dan hadir secara nyata dalam kehidupan umat. Gereja harus mampu membaca tanda-tanda zaman dan menggunakan sarana-sarana yang baik demi pelayanan yang lebih efektif dan manusiawi.
Saya juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Rm Leo Lewokrore atas pelayanan, pengorbanan, dan cinta kasih yang telah Romo persembahkan bagi umat Paroki Lewotobi selama ini. Secara khusus, kita semua bersukacita karena Romo juga merayakan Perak Imamat—25 tahun kesetiaan dalam pelayanan imamat. Terima kasih atas teladan kesederhanaan, ketekunan, dan pengabdian yang telah Romo wariskan bagi umat dan bagi kami para imam muda. Semoga Tuhan terus melimpahkan kesehatan, sukacita, dan berkat dalam perjalanan pelayanan selanjutnya.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada para pastor, biarawan-biarawati, dewan pastoral paroki, para ketua lingkungan, OMK, pengurus organisasi gerejani, pemerintah, aparat keamanan, para relawan, dan semua pihak yang selama ini bekerja keras membantu masyarakat terdampak erupsi. Kepedulian dan solidaritas yang ditunjukkan menjadi tanda nyata kasih Allah yang hidup di tengah umat-Nya. Semoga Kerjasama ini terus kita bangun untuk membantu mereka yang berkekurangan.
Kepada seluruh umat Paroki Lewotobi, saya mohon diterima sebagai saudara dan pelayan di tengah keluarga besar ini. Saya menyadari bahwa pelayanan ini tidak mungkin dijalankan sendiri. Saya membutuhkan doa, dukungan, kerja sama, dan keterbukaan dari seluruh umat agar kita bersama-sama membangun Gereja yang hidup, solider, maju, dan penuh harapan.
Akhirnya, marilah kita menyerahkan seluruh perjalanan pelayanan dan kehidupan paroki ini ke dalam tangan Tuhan serta perlindungan Santo Yosep, pelindung paroki kita dan Bunda Maria, mempelainya. Semoga dari tanah Lewotobi ini tetap tumbuh iman yang kokoh, harapan yang terus berkobar, dan kasih yang tidak pernah padam.
Tuhan memberkati kita semua. (ASO)



