
Renungan Rabu, 20 Mei 2026 – Pekan Paskah VII: “Menjaga, Bersatu, dan Tetap Kudus di Tengah Dunia”
Bacaan: Kisah Para Rasul 20:28-38 dan Injil Yohanes 17:11b-19
Bapa, ibu, saudara/I yang terkasih dalam Kristus,..
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul mengisahkan Paulus berpamitan dengan para penatua di Efesus. Ia tahu bahwa perjalanan pelayanannya tidak mudah, tetapi ia tetap setia. Paulus mengingatkan mereka untuk menjaga umat Allah dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Bahkan perpisahan itu diwarnai tangisan dan pelukan karena hubungan mereka bukan sekadar organisasi, melainkan persaudaraan iman yang nyata.
Sementara itu dalam Injil Yohanes, Yesus berdoa bagi para murid-Nya. Ia tahu para murid akan tetap hidup di dunia yang penuh tantangan, tetapi Ia memohon agar mereka tetap bersatu, terlindungi, dan hidup dalam kebenaran.
Ada 3 Pesan sabda Tuhan hari ini untuk kita, yaitu:
1. Menjaga sesama dimulai dari hal kecil
Paulus berkata: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan.”
Sering kali kita berpikir menjaga umat hanya tugas pastor atau pemimpin gereja. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dipanggil untuk saling menjaga.
Contohnya: Orang tua yang meluangkan waktu mendengar cerita anaknya; Tetangga yang mengunjungi orang sakit; Orang muda yang mengingatkan temannya agar tidak terjerumus dalam pergaulan buruk; Umat yang tetap aktif mendukung kegiatan lingkungan walau sibuk bekerja. Di sini kita mesti menyadari bahwa Gereja menjadi hidup bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena umat saling memperhatikan.
2. Persatuan diuji justru saat berbeda
Yesus berdoa, “Supaya mereka menjadi satu.”
Di lingkungan umat, perbedaan pendapat sering muncul: soal kegiatan, cara pelayanan, bahkan hal-hal kecil. Kadang orang mudah tersinggung lalu menjauh dari gereja.
Yesus tidak meminta murid-murid-Nya menjadi sama dalam segala hal, tetapi tetap bersatu dalam kasih. Persatuan bukan berarti tanpa konflik, melainkan mau saling mengampuni dan tetap berjalan bersama.
Pengalaman praktisnya: Tidak membalas gosip dengan gosip; Mau duduk bersama menyelesaikan masalah lingkungan; Tidak merasa diri paling benar dalam pelayanan.
3. Hidup kudus di tengah dunia nyata
Yesus berkata bahwa murid-murid-Nya ada di dunia, tetapi tidak menjadi milik dunia.
Artinya, kita tetap hidup di tengah pekerjaan, media sosial, ekonomi sulit, dan berbagai godaan, tetapi nilai hidup kita harus berbeda.
Misalnya: Tetap jujur walau orang lain biasa korupsi kecil; Tidak ikut menyebarkan kebencian di media sosial; Tetap berdoa dan ke gereja meski pekerjaan sibuk; Mengutamakan keluarga daripada hanya mengejar uang. Di sini kekudusan bukan berarti hidup jauh dari dunia, tetapi menghadirkan cara hidup Kristiani di tengah dunia.
Bapa, ibu, saudara/I yang terkasih,
Hari ini Yesus dan Paulus sama-sama meninggalkan pesan penting: iman harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Umat yang baik bukan hanya rajin berdoa, tetapi juga: saling menjaga, membangun persatuan, dan hidup benar di tengah tantangan zaman.
Semoga keluarga, lingkungan, dan komunitas kita menjadi tempat di mana orang merasakan kasih Tuhan melalui tindakan sederhana sehari-hari. (ASO)



