
Relikwi Suci Santo Petrus Rasul dari Takhta Suci Vatikan Disambut Meriah di Lewouran
Lewouran, 3 Agustus 2026 – Suasana penuh syukur, sukacita, dan haru menyelimuti Paroki Santo Yosep Lewotobi pada Senin (3/8/2026), ketika umat menyambut kedatangan P. Markus Solo Kwuta, SVD bersama para sahabatnya dari Jakarta yang membawa Relikwi Suci Santo Petrus Rasul dari Takhta Suci Vatikan.

Kedatangan relikwi suci tersebut menjadi rahmat istimewa bagi seluruh umat. Momen ini bukan sekadar penyambutan sebuah relikwi, melainkan ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan yang terus berkarya dalam perjalanan iman umat sekaligus menjadi perayaan persaudaraan, pelayanan dan kebersamaan yang telah terjalin selama ini.
Sekitar pukul 16.00 WITA rombongan memasuki wilayah Paroki Santo Yosep Lewotobi. Sejak memasuki Stasi Nobo, kemudian melewati Stasi Nurabelen, Riangkaha, Riangbunga, hingga menuju Stasi Lewouran umat telah berdiri di sepanjang jalan. Dengan penuh sukacita mereka melambaikan tangan sebagai tanda hormat, syukur dan kegembiraan menyambut putra daerah yang kembali membawa anugerah besar bagi tanah kelahirannya.
Setibanya di Stasi pusat Nurabelen, Pater Markus sempat turun dari kendaraan untuk menyapa dan berjabat tangan dengan umat yang telah menanti sejak sore hari. Suasana penuh kehangatan tampak menghiasi perjumpaan singkat tersebut sebelum rombongan melanjutkan perjalanan menuju Stasi Santo Petrus Lewouran, tanah kelahiran Pater Markus yang berada di ujung wilayah Paroki Santo Yosep Lewotobi.

Sesampainya di Lewouran, Pater Markus bersama para sahabatnya disambut secara adat oleh masyarakat Lewouran Duli Detun Sakaruka Paji Wuring. Penyambutan adat yang berlangsung khidmat itu menjadi ungkapan penghormatan masyarakat terhadap tamu sekaligus rasa syukur atas kehadiran Relikwi Suci Santo Petrus Rasul di tengah umat.
Seluruh umat kemudian berlutut memberikan penghormatan dan penyembahan kepada Relikwi Suci Santo Petrus Rasul. Dalam suasana hening dan penuh iman, umat memanjatkan doa syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Setelah itu suasana berubah menjadi penuh sukacita melalui nyanyian musik mulut khas Lewouran dan tarian Seleng Roh yang mengiringi penyambutan relikwi tersebut.
Di depan gapura Stasi Santo Petrus Lewouran, Relikwi Suci diterima secara seremonial melalui sapaan adat atau Koda Kiri Lewotanah yang dibawakan oleh Bapak Ansel Muda. Dalam sapaan adat tersebut mengandung makna jbahwa Tuhan Yang Mahakuasa berkenan menghadirkan Relikwi Kudus Santo Petrus Rasul dari Kota Suci Vatikan untuk ditakhtakan di Gereja Santo Petrus Lewouran sebagai pelindung dan pendoa bagi seluruh umat Paroki Santo Yosep Lewotobi, terlebih khusus umat Stasi Santo Petrus Lewouran.
Prosesi dilanjutkan dengan pengguntingan pita adat Lewotanah yang dikenal dengan ungkapan “Belo Tale, Lega Kabo Buka Mada Mate,” yang dilakukan oleh Pater Markus Solo Kwuta, SVD atau yang akrab disapa Padre Marco. Prosesi ini melambangkan dibukanya jalan dan hati masyarakat untuk menerima kehadiran Santo Petrus yang kini hadir melalui Relikwi Suci yang dibawa dari Vatikan oleh putra terbaik Lewotana.

Sebagai ungkapan syukur dan penghormatan, masyarakat kemudian mengalungkan kain adat kepada Pater Markus dan para sahabatnya. Dalam ungkapan adat disampaikan bahwa pengalungan tersebut merupakan tanda sukacita dan rasa terima kasih masyarakat Lewouran atas berkat besar yang Tuhan anugerahkan melalui pelayanan Padre Marco dan sahabat-sahabatnya.
Rangkaian penyambutan dilanjutkan dengan suguhan sirih pinang (Wua Malu Kebia Gewaja) yang melambangkan persatuan hati, persaudaraan dan damai bersama Lera Wulan Tana Ekan, Sang Pencipta kehidupan. Melalui simbol budaya tersebut masyarakat berharap agar persatuan dan damai senantiasa menyertai setiap orang yang hadir.
Selanjutnya disuguhkan ikan tua, simbol persaudaraan masyarakat Lamaholot. Melalui simbol ini ditegaskan bahwa meskipun setiap orang memiliki tugas dan pelayanan yang berbeda, semangat saling menghormati, saling melayani dan menjaga persaudaraan tetap menjadi warisan luhur yang harus dipelihara di mana pun berada.
Setelah seluruh prosesi adat selesai, Relikwi Suci Santo Petrus Rasul diarak menuju Gereja Santo Petrus Lewouran. Perarakan berlangsung meriah diiringi musik mulut serta tarian tradisional Soka Seleng, tarian khas masyarakat Lewouran yang melambangkan sukacita, rasa syukur, keberhasilan perjuangan hidup serta persaudaraan yang erat di antara sesama.
Usai doa penghormatan di gereja rombongan melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga Pater Markus Solo Kwuta. Sepanjang perjalanan umat menyanyikan mars Santo Petrus Stasi Lewouran yang diiringi Grup Musik Kwali Kmilo Lewouran. Setibanya di rumah, rombongan kembali disambut secara adat oleh Bapak Matias Wato Kwuta melalui sapaan adat yang mengundang Pater Markus beserta para tamu memasuki rumah, sekaligus diikuti prosesi pengalungan sebagai tanda penghormatan dan penerimaan keluarga besar Lewouran.
Penyambutan akbar tersebut dihadiri lebih dari seribu orang. Hampir seluruh umat Stasi Santo Petrus Lewouran mengenakan seragam bertuliskan “My Lewouran”. Hadir pula umat dari Stasi Lewoawang, umat dari Stasi Lewotobi, Pastor Paroki Santo Yosep Lewotobi, imam, diakon, frater, tokoh adat, Bapak camat Ile Bura, kepala desa Lewotobi, kepala desa Persiapan Lewouran, anggota TNI dan Polri, wartawan serta umat Allah dari berbagai usia yang bersama-sama memadati lokasi penyambutan.

Kehadiran Relikwi Suci Santo Petrus Rasul dari Takhta Suci Vatikan menjadi peristiwa bersejarah bagi umat Paroki Santo Yosep Lewotobi, khususnya Stasi Santo Petrus Lewouran. Peristiwa ini menjadi peneguhan iman bahwa Gereja senantiasa hidup dalam persekutuan yang melampaui batas wilayah dan bangsa, dipersatukan dalam iman yang sama kepada Kristus.
Lebih dari itu, kepulangan Pater Markus Solo Kwuta, SVD, bersama Relikwi Suci Santo Petrus Rasul menjadi sumber sukacita yang mendalam bagi seluruh masyarakat. Kehadirannya bukan hanya membawa relikwi yang sangat dihormati Gereja, tetapi juga menghadirkan semangat baru untuk semakin mencintai Kristus, memperkuat persaudaraan, melestarikan nilai-nilai budaya yang luhur, serta terus bertumbuh sebagai Gereja yang hidup, bersatu, dan setia dalam pelayanan.
Perjumpaan yang dipenuhi doa, syukur, adat, dan persaudaraan itu akan selalu dikenang sebagai salah satu momen iman yang bersejarah bagi umat Lewouran. Di bawah naungan Santo Petrus Rasul, umat diajak untuk terus membangun Gereja yang kokoh, berakar pada iman, bertumbuh dalam kasih dan menjadi saksi harapan bagi dunia. (Fr. Ichal – Komsos Lewotobi)



