
OMK Stasi Lewouran dalam Kebersamaan Membangun Gereja dan Lewotana
LEWOURAN – Mengiring terbenamnya sang surya, OMK stasi Lewouran memupuk kebersamaan dalam kasih. Sabtu, 4 Juli 2026, aula stasi Lewouran bertransformasi menjadi ruang berbagi pendapat, yang berlangsung dari pukul 17.00-18.20. Kegiatan ini turut dihadiri oleh RD Moses Watan Boro, Diakon Romanus Tubo Ola, Bapak Ketua Stasi Lewouran, Kalitus Kewolo Muda dan Bapak Wilfridus Ignasius Mukin selaku ketua seksi kepemudaan paroki.

Diskusi hangat yang dipimpin langsung oleh pastor paroki ini menghadirkan sejumlah cerita dan saran bermakna. Di awal nuansa sukacita itu, RD. Moses mengangkat anggaran dasar rumah tangga sebagai dasar yang mengatur lalu lintas program atau pun kegiatan OMK kedepannya yang perlu dipersiapkan. Berjalan dengan visi untuk mengumpulkan Orang Muda Katolik, OMK harus menjadi ruang penggerak yang mesti mempunyai badan kepengurusan yang utuh.
Dalam nada kasih, bapak ketua Stasi menyampaikan bahwa sejatinya OMK yang notabene adalah mayoritas, selalu unggul dalam hal apa saja. Oleh karena itu partisipasi adalah semangat yang perlu ditanam oleh setiap anggota.
Senada dengan itu, Enjel Uran, salah satu anggota menyoroti kurangnya partisipasi anggota dalam wadah OMK, yang kian mengkhawatirkan. Masalah ini mungkin dikarenakan badan kepengurusan yang kurang jelas sehingga anggota pun kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan, tambah Ensi Uran selaku serketaris OMK stasi Lewouran.


Menanggapi Hal itu, Silfester Hading Uran atau akarab disapa Silo, mengungkapkan permohonan maafnya atas kurangnya partisipasinya dalam komunitas. “Sebagai salah satu anggota saya memohon maaf atas kurangnya partisipasi. Kesibukan dibangku kuliah membuat saya menjadi kurang mengambil bagian, namun sejujurnya saya tetap memantau setiap pergerakan OMK stasi kita melalui grup WA”, ujar silo.
Mendengar beberapa kesan ini Diakon Tubo menegaskan melalui seutas pengalaman dengan menyampaikan bahwa OMK seharusnya selalu kuat dalam persekutuan agar masing-masing saling menguatkan.
“Kita jangan psimis melainkan harus optimis”, tambah Diakon.
Forum yang berlangsung setengah jam ini, menghadirkan banyak peneguhan dan pembenahan, salah satunya adalah kepengurusan yang baru. OMK adalah wadah yang menghimpun, disini anak muda tidak saja berkumpul melakukan kerja bakti tetapi difasilitasi untuk mengembangkan kapasitas mereka. Di tengah hiruk pikuk perkembangan teknologi, OMK dituntut untuk mampu tumbuh menjadi pribadi, penggerak dalam membangun Gereja dan lewotana dengan bijak dalam menggunakannya, pantang menyerah di setiap badai tantangan.
Menutup kehangatan kebersamaan itu, OMK Stasi Lewouran menyiapkan hidangan sederhana untuk dinikmati kemudian membungkus sukacita itu dalam bingkai album digital sebagai kenangan yang tak terlupakan. (Yoin – KOMSOS Lewotobi)



