
Dari Nobo ke Altar Pelayanan: Misa Syukur Imam Baru RP. Felisianus Melkior Temu, M.SS.CC. Penuh Sukacita di Nurabelen
Nurabelen, 20 September 2026 — Suasana penuh sukacita dan syukur menyelimuti Gereja Santo Yosef Nurabelen, Minggu (20/9/2026). Ratusan umat berkumpul dalam Misa Syukur atas tahbisan imamat RP. Felisianus Melkior Temu, M.SS.CC., seorang putra Stasi Nobo, Paroki Santo Yosef Lewotobi, yang kini mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan Gereja.
Perayaan tersebut menjadi momentum istimewa bagi keluarga, umat Stasi Nobo, dan seluruh umat Paroki Santo Yosef Lewotobi. Sebanyak delapan imam, dua diakon, dan belasan frater dari komunitas M.SS.CC. turut hadir dalam perayaan iman itu.

Kemeriahan pesta semakin terasa melalui pelayanan koor umat Stasi Nobo, kampung asal Pater Melki. Dengan lantunan lagu-lagu liturgi yang meriah, umat Nobo mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaan atas putra mereka yang telah menapaki jalan panjang menuju altar.
Dari Ritual Adat Nobo Menuju Pesta Iman di Nurabelen
Sukacita umat Nobo telah dimulai sehari sebelumnya. Pater Melki dijemput secara meriah melalui ritual adat di Nobo, sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kegembiraan masyarakat menyambut seorang putra kampung yang telah mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja.

Bagi masyarakat Nobo, peristiwa ini bukan sekadar pesta keluarga. Tahbisan Pater Melki merupakan bagian dari sejarah panjang panggilan imamat di Stasi Nobo.
Pater Melki tercatat sebagai imam kedua yang berasal dari Stasi Nobo, Paroki Santo Yosef Lewotobi. Sebelumnya, 45 tahun silam, Pater Kalixtus Lega Kedang, SVD, telah lebih dahulu ditahbiskan sebagai imam. Saat itu, tahbisan berlangsung di lapangan sepak bola Nobo.
Kini, setelah empat setengah dekade berlalu, sejarah tersebut kembali berlanjut. Seorang putra Nobo lainnya menjawab panggilan Tuhan dan berdiri di altar sebagai imam. Peristiwa ini menjadi kebanggaan sekaligus ungkapan syukur bagi keluarga dan seluruh umat yang selama ini ikut menyaksikan perjalanan panggilan Pater Melki.
Pater Kalixtus: “Janganlah Takut, Sebab Aku Menyertai Engkau”
Ada sebuah momen istimewa dalam Misa Syukur tersebut. Pater Melki secara khusus meminta Pater Kalixtus Lega Kedang, SVD, imam sulung asal Stasi Nobo, untuk menyampaikan homili.
Pertemuan dua generasi imam asal Nobo ini memberi warna tersendiri bagi perayaan. Pater Kalixtus yang lebih dahulu menapaki jalan imamat kini hadir memberikan peneguhan kepada Pater Melki, putra Nobo yang 45 tahun kemudian mengikuti jejak panggilan yang sama.

Dalam homilinya, Pater Kalixtus mengangkat motto panggilan Pater Melki yang diambil dari Kitab Yesaya 41:10a:
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Motto tersebut, menurut Pater Kalixtus, bukan sekadar rangkaian kata yang menghiasi perjalanan seorang imam. Di dalamnya terkandung keyakinan iman bahwa seseorang yang dipanggil Tuhan tidak pernah berjalan sendirian.
Jalan menuju imamat, demikian ditekankannya, merupakan perjalanan yang panjang dan tidak selalu mudah. Seorang calon imam perlu melewati berbagai proses pembentukan, pergulatan, tantangan, dan pengalaman hidup. Karena itu, keberanian untuk terus melangkah harus berakar pada iman akan penyertaan Tuhan.
“Janganlah takut” menjadi sebuah ajakan untuk tetap berani menjawab panggilan, sementara “Aku menyertai engkau” menjadi jaminan bahwa Tuhan hadir dalam setiap tahap perjalanan tersebut.
Pater Kalixtus juga mengajak umat untuk melihat bahwa sebuah panggilan tidak tumbuh dengan sendirinya. Benih panggilan tumbuh melalui kehidupan konkret, terutama melalui keluarga dan lingkungan tempat seseorang dibesarkan.
Orang tua, guru, pendamping, dan para pembina memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut. Mereka hadir melalui pendidikan, teladan hidup, nasihat, doa, dan dorongan yang membantu seorang anak muda untuk mengenal dirinya, mendengarkan suara Tuhan, dan berani menentukan jalan hidupnya.
Pesan itu menjadi semakin kuat ketika dikaitkan dengan perjalanan Pater Melki sendiri. Dari Nobo, ia menjalani proses pendidikan dan pembinaan yang panjang hingga akhirnya menjadi seorang imam M.SS.CC.
Panggilan yang Tumbuh dari Kehidupan
Perjalanan panggilan Pater Melki memperlihatkan bahwa panggilan imamat tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh melalui proses yang panjang dan melalui kehadiran banyak orang.

Lahir di Nobo pada 9 Juni 1995, Pater Melki merupakan anak ketiga dari pasangan Yosep Kele Temu dan Yuliana Wuan Kedang. Ia memiliki dua kakak, yakni Martinus Daniel Ola Temu dan Leonardus Duli Temu.
Masa pendidikan awalnya ditempuh di TK Ilemuda Nobo dan SD Inpres Nobo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMPK Ilebura dan SMAK Frateran Maumere.
Pada 2014, ia memasuki masa aspiran di Komunitas Biara M.SS.CC. Matani, Kupang. Setelah itu, ia menempuh pendidikan S1 Filsafat di Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang.
Perjalanan formasinya dilanjutkan melalui masa novisiat di Matani, Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Santo Petrus Rasul TDM, Kupang, serta pendidikan S2 Teologi di IFTK Ledalero, Maumere.
Pada 2 Februari 2025, Pater Melki mengikrarkan kaul kekal di Komunitas M.SS.CC. Gere, Maumere. Dua puluh hari kemudian, tepatnya 22 Februari 2025, ia menerima tahbisan diakon di Kapela Biara Komunitas CMF Matani, Kupang.
Setelah menjalani praktik diakon di Kupang dan Komunitas Novisiat Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Pater Melki menerima tahbisan imam pada 21 November 2025 dari Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF, di Katedral Santa Maria Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Setelah tahbisan, ia menjalankan tugas di Rumah Novisiat Palangkaraya hingga 20 Agustus 2026. Sejak 6 September 2026, Pater Melki mendapat tugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Santa Theresia Kanak-kanak Yesus, Rangga, Keuskupan Labuan Bajo.
Dari Seorang Putra Nobo Menjadi Pelayan Gereja
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa panggilan imamat Pater Melki merupakan sebuah proses yang melibatkan banyak pihak. Di balik seorang imam yang berdiri di altar, terdapat keluarga yang mendukung, para guru yang mendidik, pendamping dan pembina yang membentuk, serta komunitas yang terus mendoakan.

Karena itu, pesan Pater Kalixtus tidak hanya ditujukan kepada Pater Melki. Homili tersebut juga menjadi refleksi bagi seluruh umat tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang memungkinkan benih panggilan tumbuh dan berkembang.
Keluarga dipanggil untuk menjadi tempat pertama bagi anak-anak mengenal iman. Sekolah, komunitas, dan Gereja kemudian mengambil bagian dalam mendampingi mereka agar mampu menemukan dan menjalani panggilan hidup masing-masing.
Dalam konteks itulah, kehadiran Pater Melki sebagai imam kedua dari Stasi Nobo menjadi sebuah kesaksian bahwa benih panggilan dapat terus bertumbuh dari generasi ke generasi.
Ratusan Umat Bersukacita
Misa Syukur di Nurabelen juga dihadiri berbagai pihak yang datang untuk menyampaikan ucapan selamat dan dukungan kepada Pater Melki. Hadir Pastor Mel, Pimpinan Biara M.SS.CC. Delegatus Indonesia, Pastor Paroki Lewotobi Rm. Moses Watan Boro, Pr, Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, serta ratusan umat yang turut ambil bagian dalam pesta iman tersebut.

Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa sukacita atas tahbisan seorang imam tidak hanya menjadi milik keluarga, tetapi juga menjadi kegembiraan seluruh umat.
Perayaan di Nurabelen pun menjadi ruang perjumpaan antara sejarah dan masa depan. Di satu sisi, umat mengenang perjalanan Pater Kalixtus sebagai imam sulung dari Nobo. Di sisi lain, umat menyambut Pater Melki sebagai generasi berikutnya yang melanjutkan jejak panggilan tersebut.
Menanam Benih Panggilan untuk Generasi Berikutnya
Misa Syukur ini akhirnya tidak berhenti pada perayaan atas hadirnya seorang imam baru. Lebih jauh, perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali komitmen umat dalam menumbuhkan benih panggilan di tengah keluarga dan generasi muda.
Dari Nobo, benih itu pernah tumbuh dalam diri Pater Kalixtus. Empat puluh lima tahun kemudian, benih yang sama kembali bersemi dalam diri Pater Melki.

Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa panggilan membutuhkan keberanian untuk dijawab dan kesetiaan untuk dijalani. Di sepanjang perjalanan itu, ada keluarga, guru, pendamping, pembina, umat, dan terutama Tuhan sendiri yang menyertai.
Karena itu, pesan Pater Kalixtus dalam homilinya terasa tepat menjadi penutup sekaligus peneguhan bagi pesta iman tersebut:
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau.”
Bagi Pater Melki, kalimat itu menjadi motto perutusan. Bagi keluarga dan umat Nobo, ia menjadi kesaksian iman. Dan bagi anak-anak serta generasi muda, ia menjadi sebuah undangan untuk tidak takut mendengarkan suara Tuhan dan menemukan panggilan hidup yang dipercayakan kepada masing-masing. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



