
CATATAN PINGGIR PASTORAL: Dari Riangkemie, Benih Misioner Bertumbuh: Sukacita Jambore SEKAMI dan REMIS yang Menguatkan Iman Anak dan Remaja
Bukan sekadar perjumpaan dan perayaan, Jambore SEKAMI dan REMIS menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan lintas paroki, serta meneguhkan panggilan sebagai misionaris cilik yang membawa sukacita Injil ke tengah dunia.
NURABELEN, 9–11 Oktober 2026 — Sukacita, persaudaraan, dan semangat perutusan mewarnai pelaksanaan Jambore Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) dan Remaja Misioner (REMIS) Tingkat Dekenat Larantuka yang berlangsung di Paroki Santo Yoseph Riangkemie, Jumat hingga Minggu, 9–11 Oktober 2026. Kegiatan akbar ini mempertemukan utusan dari 22 paroki bersama peserta dari hunian sementara (huntara), yakni masyarakat pengungsi di Konga yang terdampak letusan Gunung Lewotobi. Dengan demikian, kegiatan ini melibatkan 23 kelompok peserta yang datang membawa semangat iman, persaudaraan, dan misi.
Di antara para peserta, hadir pula rombongan dari Paroki Santo Yosef Lewotobi. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan kegiatan tingkat dekenat, melainkan juga menjadi bagian dari perjalanan iman anak-anak dan remaja untuk mengenal lebih dekat arti menjadi misionaris Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Berangkat dengan berkat, membawa nama paroki

Sebelum bertolak menuju Larantuka, para peserta dari Paroki Santo Yosef Lewotobi terlebih dahulu berkumpul di pusat paroki di Nurabelen. Mereka datang dari stasi masing-masing dengan membawa semangat dan harapan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan jambore.
Rombongan ini terdiri atas 15 anak SEKAMI, 15 anggota REMIS, enam pendamping, serta Diakon Romanus Tubo Ola sebagai moderator. Sebelum keberangkatan, para peserta menerima pesan dan peneguhan dari Pengurus Dewan Pastoral Paroki, Bapa Titus Temu, dan Pastor Paroki, Romo Moses Watan Boro.
Pesan yang diberikan bukan sekadar nasihat menjelang perjalanan. Para peserta diingatkan bahwa mereka pergi sebagai utusan paroki, membawa nama baik Gereja dan komunitas iman yang membesarkan mereka. Mereka diharapkan mengikuti setiap kegiatan dengan penuh sukacita, menjaga persaudaraan, serta membuka diri untuk belajar dari pengalaman dan perjumpaan dengan sesama.
Seremoni keberangkatan kemudian ditutup dengan doa dan berkat perutusan oleh Pastor Paroki. Dalam suasana iman tersebut, rombongan berangkat menuju Riangkemie dengan membawa harapan agar perjalanan ini menjadi pengalaman yang memperkaya kehidupan rohani dan memperkuat semangat misioner mereka.
Dari Paroki Lewotobi, perjalanan berlanjut menuju Gereja Katedral Larantuka. Di tempat ini, para peserta bergabung dengan utusan dari paroki-paroki lain sebelum bersama-sama bergerak menuju Riangkemie dalam sebuah pawai yang meriah. Kehadiran mereka disambut dengan penuh sukacita, menandai dimulainya perjumpaan yang tidak hanya meriah secara lahiriah, tetapi juga kaya akan nilai persaudaraan.
Tinggal bersama umat, belajar menjadi saudara
Selama mengikuti kegiatan di Riangkemie, rombongan Paroki Santo Yosef Lewotobi ditempatkan di lingkungan Lewohala. Sesuai kebijakan panitia, para peserta dibagi dan tinggal di rumah-rumah umat setempat.
Pengalaman tinggal bersama umat menjadi bagian penting dari pendidikan iman mereka. Anak-anak dan remaja tidak hanya belajar melalui materi atau perlombaan, tetapi juga melalui keramahan keluarga penerima, kebiasaan hidup bersama, dan perjumpaan sederhana dalam keseharian.
Di sinilah nilai Gereja sebagai keluarga Allah menemukan bentuknya yang nyata. Perbedaan asal paroki dan lingkungan tidak menjadi penghalang untuk saling menerima. Sebaliknya, setiap rumah yang membuka pintunya menjadi ruang persaudaraan, tempat anak-anak mengalami bahwa iman Katolik mempersatukan mereka dalam satu keluarga besar.
Bagi anak-anak yang datang dari wilayah terdampak bencana, pengalaman diterima, didampingi, dan berjalan bersama teman-teman sebaya juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan harapan. Dalam konteks ini, jambore menghadirkan pesan pastoral yang penting: anak-anak dan remaja bukan hanya penerima perhatian Gereja, tetapi juga pribadi-pribadi yang memiliki martabat, potensi, dan peran dalam kehidupan komunitas.
Dari pawai budaya hingga refleksi misioner
Sepanjang kegiatan, rombongan Paroki Santo Yosef Lewotobi mengikuti rangkaian acara yang telah dirancang panitia dengan penuh antusias. Pawai budaya menjadi salah satu ruang untuk merayakan keberagaman tradisi dan identitas. Melalui kegiatan ini, peserta diajak menyadari bahwa budaya bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekayaan yang dapat mempererat persaudaraan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Misa Pembukaan Jambore, yang menjadi pusat dan dasar dari seluruh perjumpaan. Ekaristi mengingatkan para peserta bahwa kebersamaan mereka berakar pada iman kepada Kristus. Kegiatan jambore bukan sekadar agenda pertemuan anak dan remaja, tetapi bagian dari perjalanan Gereja dalam membentuk pribadi-pribadi yang mengenal, mengasihi, dan mewartakan Kristus.
Semangat kebersamaan juga terlihat dalam lomba yel-yel oleh kelompok SEKAMI. Melalui kreativitas, kekompakan, dan keberanian tampil, anak-anak belajar bahwa setiap pribadi memiliki sumbangan bagi kelompok. Kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan; proses bekerja sama, saling menyemangati, dan menghargai kemampuan teman justru menjadi pelajaran yang tidak kalah penting.
Sementara itu, materi pemberdayaan perempuan dan anak membuka ruang pembelajaran mengenai penghargaan terhadap martabat manusia, perlindungan, dan kesadaran akan hak-hak setiap pribadi. Materi ini relevan bagi pendidikan pastoral anak dan remaja karena iman tidak boleh berhenti pada doa dan pengetahuan agama. Iman harus membentuk sikap yang menghargai sesama, menolak kekerasan, serta mendorong terciptanya lingkungan yang aman bagi setiap anak.

Bagi anggota REMIS, lomba animasi dan refleksi yang menyertainya menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mengomunikasikan nilai-nilai Injil secara kreatif dan kontekstual. Remaja diajak untuk tidak hanya memahami pesan iman bagi dirinya sendiri, tetapi juga menemukan cara menyampaikannya kepada orang lain melalui kata-kata, tindakan, dan kesaksian hidup.
Dengan demikian, setiap kegiatan memiliki dimensi pendidikan yang saling melengkapi: budaya menumbuhkan penghargaan terhadap keberagaman, Ekaristi memperdalam persekutuan, perlombaan membangun kerja sama, materi pemberdayaan memperkuat kesadaran akan martabat manusia, dan refleksi misioner meneguhkan tanggung jawab untuk mewartakan Injil.
“Bisa bertemu banyak orang dan mendapat teman baru”
Salah seorang anak SEKAMI dari Paroki Santo Yosef Lewotobi mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.
“ Kegiatan ini penuh dengan sukacita karena bisa bertemu dengan banyak orang dan bisa dapat teman yang baru dari paroki-paroki lain,” ungkapnya.

Ungkapan sederhana ini menyimpan makna pastoral yang mendalam. Bagi seorang anak, jambore mungkin pertama-tama berarti kesempatan untuk bermain, bertemu teman baru, tampil bersama kelompok, dan mengalami suasana yang berbeda dari kesehariannya. Namun, di balik kegembiraan itu, berlangsung proses pembelajaran yang penting: belajar menyapa orang yang belum dikenal, bekerja sama dengan teman yang berbeda, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan membangun rasa percaya diri.
Persaudaraan tidak selalu tumbuh melalui penjelasan panjang. Sering kali, persaudaraan justru berawal dari hal-hal sederhana: duduk bersama, berbagi cerita, mengikuti kegiatan dalam satu kelompok, atau tinggal di rumah keluarga yang sebelumnya belum dikenal.
Pengalaman seperti inilah yang membuat jambore menjadi ruang pembentukan karakter Kristiani. Anak-anak belajar bahwa menjadi murid Kristus berarti berani keluar dari lingkaran pergaulan sendiri, membuka hati bagi sesama, dan menemukan wajah Kristus dalam setiap orang yang dijumpai.
Catatan pastoral: jambore berakhir, perutusan berlanjut
Dari sudut pandang pastoral, Jambore SEKAMI dan REMIS perlu dilihat lebih jauh daripada keberhasilan penyelenggaraan sebuah kegiatan. Jambore merupakan bagian dari proses pembinaan iman yang menempatkan anak dan remaja sebagai subjek pastoral: pribadi yang perlu didengarkan, diberi ruang untuk berkembang, dan dilibatkan secara aktif dalam kehidupan Gereja.

Pertama, bagi anak-anak SEKAMI, jambore menumbuhkan identitas sebagai misionaris cilik. Anak-anak belajar bahwa menjadi misionaris tidak selalu berarti melakukan perjalanan jauh ke tempat lain. Mereka dapat menjadi saksi Kristus di rumah, sekolah, lingkungan bermain, dan komunitas gereja melalui kejujuran, kepedulian, keberanian meminta maaf, kesediaan berbagi, serta perhatian kepada teman yang kesepian atau mengalami kesulitan.
Kedua, bagi remaja REMIS, jambore merupakan ruang untuk bertumbuh dalam tanggung jawab dan kepemimpinan. Masa remaja merupakan tahap penting ketika seseorang mulai mencari jati diri, membangun keyakinan, dan menentukan arah hidup. Melalui animasi, refleksi, kerja sama, serta perjumpaan lintas paroki, para remaja didorong untuk tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi juga penggerak sukacita Injil di lingkungan masing-masing.
Ketiga, perjumpaan lintas paroki membangun kesadaran akan Gereja yang lebih luas. Anak dan remaja menyadari bahwa mereka bukan bagian dari komunitas yang berdiri sendiri. Mereka menjadi anggota Gereja yang sama, meskipun berasal dari lingkungan, latar belakang, dan pengalaman hidup yang berbeda. Kesadaran ini penting untuk menumbuhkan semangat persaudaraan, solidaritas, dan keterbukaan terhadap sesama.
Keempat, kehadiran peserta dari huntara Konga mengingatkan Gereja pada pentingnya pastoral yang merangkul. Dalam kehidupan masyarakat yang berhadapan dengan dampak bencana, anak-anak dan remaja membutuhkan kesempatan untuk tetap bertumbuh, membangun relasi, dan mengalami harapan. Keterlibatan mereka dalam perjumpaan bersama menjadi pengingat bahwa pelayanan Gereja perlu memberi ruang bagi setiap anak, terutama mereka yang menghadapi situasi kehidupan yang menantang. Gereja dipanggil untuk tidak hanya hadir ketika umat berdoa, tetapi juga ketika mereka membutuhkan pendampingan, penguatan, dan persaudaraan.
Kelima, pengalaman jambore perlu dilanjutkan dalam pembinaan di tingkat paroki dan stasi. Semangat yang tumbuh selama tiga hari akan semakin bermakna jika diterjemahkan dalam kegiatan nyata. Pertemuan rutin SEKAMI dan REMIS, pendampingan yang konsisten, aksi berbagi, kunjungan kepada sesama yang membutuhkan, kegiatan kreatif berbasis Injil, serta keterlibatan dalam liturgi dan pelayanan lingkungan dapat menjadi jalan untuk memelihara buah-buah jambore.
Dengan demikian, keberhasilan jambore tidak hanya diukur dari meriahnya pawai, banyaknya peserta, atau hasil perlombaan. Ukuran yang lebih mendalam terletak pada perubahan sikap dan kebiasaan: apakah anak-anak menjadi lebih peduli, apakah remaja semakin berani mengambil tanggung jawab, apakah persaudaraan lintas paroki terus dipelihara, dan apakah sukacita Injil semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali dengan sukacita, meski ada air mata perpisahan
Minggu, 11 Oktober 2026, rangkaian kegiatan mencapai puncaknya melalui Perayaan Ekaristi Penutupan, peluncuran TSOM Tingkat Dekenat Larantuka, pengumuman kejuaraan dan pembagian hadiah. Setelah itu, seluruh peserta diajak makan bersama, berjabat tangan, dan menikmati waktu kebersamaan dalam acara bebas.

Suasana sukacita mewarnai akhir perjumpaan tersebut. Namun, di antara senyum dan kegembiraan, ada pula air mata yang menetes. Beberapa peserta dari Paroki Santo Yosef Lewotobi menangis karena harus berpisah dengan teman-teman yang baru mereka kenal selama jambore.
Air mata itu menjadi kesaksian sederhana bahwa sebuah perjumpaan telah meninggalkan kesan mendalam. Dalam waktu yang relatif singkat, orang-orang yang semula asing telah menjadi teman, bahkan saudara. Ada cerita yang dibagikan, tawa yang dikenang, dan persahabatan yang tidak ingin segera diakhiri.
Di balik perpisahan itu, tersimpan benih panggilan untuk menjadi misionaris yang membawa sukacita Injil kepada setiap orang yang dijumpai. Pengalaman selama jambore mengajarkan bahwa pewartaan Injil tidak selalu dimulai dari mimbar atau kata-kata yang hebat. Terkadang, pewartaan itu berawal dari kesediaan berteman, menerima orang lain, berbagi kegembiraan, dan menghadirkan kasih dalam tindakan sederhana.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir, rombongan SEKAMI dan REMIS Paroki Santo Yosef Lewotobi kembali dengan penuh sukacita. Mereka pulang bukan hanya membawa kenangan, tetapi juga pengalaman iman, persahabatan baru, serta semangat untuk bertumbuh dalam panggilan misioner.
Mereka pergi dengan sukacita dan kembali dalam sukacita, dalam pelukan Santo Yosef, pelindung Paroki Lewotobi.
Dari Riangkemie untuk Gereja yang terus bertumbuh
Jambore SEKAMI dan REMIS Tingkat Dekenat Larantuka tahun 2026 menyampaikan sebuah pesan penting bagi Gereja lokal: investasi dalam pembinaan anak dan remaja adalah investasi bagi masa depan Gereja. Mereka bukan sekadar generasi penerus yang menunggu giliran untuk berkarya, melainkan bagian dari Gereja masa kini yang memiliki suara, kreativitas, semangat, dan kemampuan untuk menghadirkan kasih Kristus.
Karena itu, pengalaman tiga hari di Riangkemie hendaknya tidak berhenti sebagai kenangan indah dalam perjalanan pulang. Pengalaman tersebut perlu menjadi energi baru bagi keluarga, para pendamping, pengurus pastoral, dan seluruh umat Paroki Santo Yosef Lewotobi untuk terus menyertai pertumbuhan iman anak dan remaja.


Anak-anak perlu terus diberi kesempatan untuk berdoa, bermain, belajar, bertanya, dan melayani. Para remaja perlu didampingi agar berani berpikir kritis, mengambil tanggung jawab, serta menemukan cara yang sesuai dengan zaman mereka untuk mewartakan Injil. Sementara itu, komunitas paroki dipanggil untuk menyediakan lingkungan yang aman, ramah, dan mendukung agar setiap anak dapat bertumbuh sesuai dengan martabat dan potensi yang dimilikinya.
Pada akhirnya, buah terbesar sebuah jambore bukanlah berakhirnya kegiatan dengan meriah, melainkan dimulainya langkah baru dalam kehidupan iman. Benih yang ditanam melalui Ekaristi, persaudaraan, refleksi, dan pelayanan akan bertumbuh ketika dirawat dalam keseharian.
Dari Riangkemie, anak-anak dan remaja Paroki Santo Yosef Lewotobi kembali membawa satu pesan sederhana namun kuat: menjadi misionaris berarti membawa sukacita Kristus ke mana pun kaki melangkah dan kepada siapa pun hati terbuka. Sebab, ketika anak-anak belajar mengasihi dan remaja berani melayani, Gereja sedang bertumbuh. Dan ketika sukacita Injil menemukan tempat dalam hati generasi muda, harapan bagi masa depan Gereja pun terus menyala. (ASO – KOMSOS LEWOTOBI)



