
Temu Akbar SEKAMI-REMIS Paroki Lewotobi, Rayakan 100 Tahun Minggu Misi Sedunia: “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”
RIANGKAHA – Sukacita perayaan 100 Tahun Minggu Misi Sedunia mewarnai kegiatan Temu Akbar Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI-REMIS) Paroki Lewotobi yang berlangsung di Stasi Riangkaha, Minggu (18/10/2026). Mengusung tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”, kegiatan ini menjadi momentum bagi anak-anak, remaja, dan para pendamping dari berbagai stasi untuk mempererat persaudaraan sekaligus meneguhkan semangat misioner dalam kehidupan sehari-hari.
Kemeriahan kegiatan tampak sejak awal melalui animasi dan gerak bersama yang melibatkan peserta dari berbagai stasi. Suasana semakin semarak ketika sejumlah anak dan remaja tampil mengenakan busana profesi, seperti guru, bidan, dokter, polisi, tentara, suster, petani, dan nelayan.
Keberagaman busana profesi tersebut bukan sekadar menambah warna perayaan, tetapi juga menyampaikan pesan iman bahwa setiap orang, dengan profesi dan kemampuannya masing-masing, dapat menjadi alat Tuhan untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Paroki Lewotobi, Moses Watan Boro. Dalam homilinya, Romo Moses mengajak seluruh peserta untuk memahami pentingnya kebersamaan, semangat saling membantu, dan panggilan setiap orang yang telah dibaptis untuk mengambil bagian dalam misi Kristus.
Kebersamaan Memperkuat Misi
Mengawali pesannya, Romo Moses mengangkat pengalaman sederhana dalam kehidupan masyarakat, yakni kebiasaan bekerja bersama. Menurutnya, banyak pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan memperoleh hasil yang lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama.

“Banyak orang turun bersama untuk bekerja. Bukan hanya dalam urusan pekerjaan kebun, tetapi juga dalam berbagai urusan lain yang membutuhkan keterlibatan bersama. Kalau kita hanya berpikir untuk bekerja sendiri, hasilnya belum tentu memuaskan. Karena itu, kita mesti hidup dalam kebersamaan, saling menolong, dan membantu satu sama lain,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa semangat kebersamaan tersebut juga harus menjadi dasar dalam menjalankan misi Kristus. Perutusan bukan hanya tanggung jawab orang-orang tertentu, melainkan panggilan seluruh umat beriman, termasuk anak-anak dan remaja.
Mengacu pada pesan Paus Leo XIV, Romo Moses mengingatkan bahwa setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk berkarya dalam misi Kristus sesuai dengan kemampuan dan perannya masing-masing. Setiap orang juga mengemban tiga tugas perutusan Kristus, yakni sebagai imam yang menguduskan melalui doa, nabi yang mewartakan kebenaran, dan raja yang memimpin serta melayani dalam kebaikan.
Setiap Profesi Menjadi Jalan untuk Mewartakan Kasih Tuhan
Dalam uraian atas bacaan pertama dari Kitab Yesaya, Romo Moses menjelaskan bahwa Raja Kores digunakan Tuhan sebagai bagian dari rencana keselamatan-Nya. Kisah tersebut mengingatkan bahwa Tuhan dapat memakai siapa saja untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Karena itu, setiap orang memiliki peran dalam mewartakan karya keselamatan Allah, apa pun latar belakang dan profesinya. Guru, pegawai, tentara, petani, nelayan, tenaga kesehatan, maupun mereka yang menjalankan profesi lainnya dapat menjadi sarana bagi Tuhan untuk menghadirkan kasih dan kebaikan di tengah masyarakat.

Bagi anak-anak dan remaja, perutusan itu dapat dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, sekolah, dan pergaulan sehari-hari.
“Sebagai anak, kita menghormati orang tua sebagai bentuk kesaksian iman. Sebagai murid Tuhan, kita mesti mewartakan kasih-Nya melalui sikap hidup yang benar. Tuhan dapat memakai siapa saja menjadi alat kasih-Nya, mulai dari rumah, dengan membantu orang tua, hingga saling menolong dengan teman,” jelasnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa menjadi misionaris tidak selalu berarti harus pergi jauh ke tempat lain. Semangat misioner justru dapat diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Iman yang Hidup Melahirkan Kasih dan Harapan
Mengulas bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika, Romo Moses menekankan bahwa iman harus tampak nyata dalam perbuatan kasih. Iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa atau kehadiran dalam kegiatan ibadah, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan konkret.
Ia mengajak peserta untuk membiasakan diri melakukan hal-hal sederhana, seperti membantu orang tua di rumah, menolong tetangga yang mengalami kesulitan, serta peduli terhadap teman yang membutuhkan bantuan.

Iman yang hidup, menurutnya, akan melahirkan kasih, sedangkan kasih yang diwujudkan secara nyata akan membawa harapan bagi sesama.
Romo Moses juga mengingatkan pesan Injil tentang memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah. Sebagai ciptaan dan milik Tuhan, setiap orang diajak mempersembahkan hati, waktu, tenaga, dan kasihnya untuk melayani Tuhan serta sesama.
Meskipun memiliki latar belakang dan cita-cita yang berbeda, seluruh peserta diajak untuk berjalan bersama dalam satu tujuan, yakni mewartakan Kabar Sukacita kepada semua orang.
Berbagi Pengalaman, Menumbuhkan Semangat Misioner
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan animasi bersama yang membangun suasana akrab dan penuh sukacita. Para peserta kemudian mengikuti sesi berbagi pengalaman dan kesan dari perwakilan SEKAMI-REMIS yang telah mengikuti kegiatan Jambore di Riangkmie pada 9–11 Oktober 2026.
Sesi berbagi ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk menceritakan pengalaman, pembelajaran, serta nilai-nilai yang diperoleh selama mengikuti jambore. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan, bakat, dan keberanian dalam mengambil bagian dalam kegiatan Gereja.

Sebagai bentuk apresiasi, Romo Moses menutup rangkaian kegiatan dengan menyerahkan sertifikat penghargaan kepada peserta Remaja Misioner perwakilan Paroki Lewotobi yang telah mengikuti jambore di Riangkmie.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan rasa bangga sekaligus harapan agar pengalaman yang diperoleh para peserta menjadi langkah awal untuk terus bertumbuh dan berkarya bersama.





“Romo bangga pada kalian semua. Ini menjadi awal kita melangkah bersama. Kita akan terus bersama-sama dalam kegiatan-kegiatan sederhana ke depannya. Ini juga menjadi motivasi bagi adik-adik dan teman-teman yang lain untuk meningkatkan keterampilan dan bakat yang mereka miliki, sehingga ketika ada perlombaan, kita bisa meraih juara. Yang terpenting, kita akan selalu bersatu,” ungkapnya.
Kegiatan Temu Akbar SEKAMI-REMIS Paroki Lewotobi ditutup dengan makan bersama dan rekreasi dalam suasana penuh keakraban. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Lewotobi, Ketua Dewan Pastoral Stasi (DPS) Riangkaha, serta para tokoh umat.
Melalui kegiatan ini, semangat perayaan 100 Tahun Minggu Misi Sedunia diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak dan remaja diajak menjadi saksi kasih Kristus melalui tindakan nyata, mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, hingga masyarakat.
Sebab, setiap anak dapat menjadi misionaris, setiap profesi dapat menjadi sarana pewartaan, dan setiap tindakan kasih dapat menghadirkan sukacita Kristus bagi dunia. (Son – Komsos Lewotobi)
Related posts:

OMK Stasi Lewouran dalam Kebersamaan Membangun Gereja dan Lewotana

"Tuhan Adalah Kekuatanku": Syukur Kaul Kekal Sr. Maria Graziela, PRR Menjadi Peneguh Iman Umat Lewot...




