
UNGKAPAN HATI MENGENANG DALAMNYA PENGALAMAN DI WAKTU SINGKAT PELAYANAN DIAKONAT DI PAROKI ST. YOSEF LEWOTOBI
LEWOTOBI – Sesungguhnya, datang dan berada di Paroki St. Yosef Lewotobi bukanlah hakku. Menerima hadir dan adaku selama praktek diakonat, bukan pula kewajiban umat Allah di Paroki Lewotobi. Setuju atau tidak, ada dan tinggal dalam pelayanan itu telah menjadi pengalaman yang tidak dapat lagi ditolak, apalagi dicoret dan dihapus. Sebuah pengalaman di jalan panggilan Tuhan yang sungguh tak terselami seutuhnya. Sebab, siapakah yang pernah merancang pertemananku dengan Pastor Paroki, Frater TOP, DPP, organisasi gerejawi dan seluruh umat Paroki St. Yosef Lewotobi, kalau bukan Tuhan? Ketika saya tanya lebih jauh, mengapa di Lewotobi dan bukan tempat lain, sekali lagi jawabannya ada pada keyakinanku: “Sungguh tak terselami jalan-jalanMu, ya Tuhan”. Dalam Tuhan, pertemuan dan ada bersama ini menggarisbawahi maknanya, baik untuk saya, semoga untuk umat pula.

Ada dalam pelayanan di Paroki St. Yosef Lewotobi bisa dibilang singkat, tidak lama dari segi waktu (Juli-Oktober 2026). Akan tetapi dari segi isinya, adaku di paroki ini sangat mendalam dan sungguh berakar di hati. Tidak karena hal besar atau gebrakan-gebrakan baru yang dapat saya lakukan, tetapi terlebih karena keterbukaan dan keterlibatan hati di setiap perjuangan dan kegiatan, baik kegiatan rutin, kegiatan terprogram, maupun tugas saya sebagai saudara setiap hari. Bukan pertama karena panjangnya waktu, melainkan di dalamnya isi yang Tuhan mungkinkan saya dan umat alami di setiap perjumpaan dan kegiatan bersama, apapun itu. Setiap kepercayaan yang diberikan kepada saya selalu saya terima sebagai kesempatan istimewa, yang saya persiapkan secara maksimal dan saya jalankan dalam kesungguhan. Karena bagi saya, melalaikannya adalah sebuah kehilangan isi dari kepercayaan tersebut. Oleh karena itu pula, di waktu singkat praktek diakonat itu, saya telah belajar memberi diri, secara sadar untuk setiap pelayanan kecil dan biasa, yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang lain. Tetapi dengan menaruh minat dan hati terhadapnya, saya mengalami betapa dalam dan indahnya pengalaman itu. Tuhan memungkinkan hal itu terjadi.

Adaku dalam waktu singkat itu akan menjadi cerita panjang di jalan panggilanku menjadi imam. Cerita tentang indahnya hidup berkomunitas di Pastoran Nurabelen bersama Pastor Paroki, RD. Moses Watan Boro. Saya sungguh merasakan menjadi bagian dari sebuah keluarga, bukan sekadar berada bersama dalam bangunan pastoran lantai dua itu. Tuhan memungkinkan ada cinta yang saling memperhatikan dan meneguhkan. Bukankah banyak rumah tangga dan komunitas bermasalah karena mereka hanya tinggal bersama dalam sebuah bangunan rumah tanpa cinta kasih? Merawat panggilan dan pelayanan dimulai dengan merawat hati dalam hidup berkeluarga dan berkomunitas. Hal itu tidak berarti keluarga dan komunitas kebal persoalan, tetapi di setiap persoalan, Tuhan diberi ruang dan kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan kebaikan bagi orang-orang yang dikasihinya. Oleh karena itu, ketika beranjak pulang dari komunitas pastoran itu, ada air mata, tetapi saya segera sadar, bahwa pengalaman indah itu tetap bersama saya untuk hidup di komunitas yang sama, entah di mana. Karena itu, kata yang keluar dari hati meluncur lancar dari mulutku: Terimakasih Romo Moses.

Saya datang ke paroki ini, ketika umat ada dalam situasi erupsi gunung Lewotobi. Erupsi gunung berapi dan bencana alam lainnya berada di luar kehendak manusia. Akan tetapi, umat Allah dapat menghadapi dan mengalaminya dengan perspektif yang khas. Tuhan itu Gunung Batu tak tergoyahkan. Tuhan tetap setia dalam apapun keadaan umat-Nya. Erupsi Lewotobi tidak secara otomatis menjadikan iman umat berubah. Bahkan lebih dari sebelum erupsi, Allah semakin dialami kehadiran-Nya dalam pengalaman itu. Sebuah pengalaman unik yang akan tetap mengingatkan saya, bahwa yang terpenting dalam sebuah pengalaman unik yang akan tetap mengingatkan saya, bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah ada persoalan atau tidak, melainkan keberanian untuk memberi ruang dan kesempatan bagi Tuhan untuk mengerjakan bagian-Nya pada apa yang sedang saya hadapi dan ambil sebagai bagian saya, setiap kali ada erupsi dalam kehidupan.
Saya datang ke paroki ini, tidak sebagai seorang pribadi yang lebih layak untuk umat Allah. Saya datang sebagai salah satu dari umat yang dipercayakan oleh Tuhan, tugas pelayanan sebagai diakon. Sambil tetap berjuang hidup selaras dengan tugas pelayanan ini, saya hidup sebagai saudara. Ikatan emosional yang terjalin dengan umat adalah lahan subur benih iman bertumbuh. Di dalamnya saya belajar arti dari Gereja sebagai persekutuan, yang melibatkan aneka kharisma dalam komunitas, di antara semuanya, saya adalah salah satu dari keseluruhan. Saya ada dalam suasana indah ketika ada duduk bersama, merencanakan bersama, merasa bertanggung jawab bersama dalam pelaksanaan. Dalam persekutuan itu, saya menjalankan peran dan tanggung jawab di bagian saya.

Kita dibatasi waktu dan ruang, tetapi jiwa dan pembelajaran darinya akan tetap tinggal, baik sebagai cerita sejarah, tetapi lebih indah dari itu, akan dihidupi kapan pun dan dimana pun. Tidak lama lagi, akan ada tahbisan imam. Saya salah satunya. Imamat itu rahmat yang disyukuri, tanda atau sakramen Allah yang tidak tinggalkan Gereja-Nya. Di titik ini, imamat punya salib. Oleh karena itu, doamu saya mohonkan, agar saya jaga hidup selaras dengan imamat dan tidak mengasihani diri ketika cerita dan pelayanan menuntut penyangkalan diri. (Diakon Tubo)
Related posts:

MISA PEMBUKAAN TAHUN AJARAN 2026–2027 SDK RIANGKAHA DAN PERUTUSAN BAPA GURU ALFONSUS LAMA SOME MUKIN...

CATATAN PINGGIR PASTORAL: Dari Riangkemie, Benih Misioner Bertumbuh: Sukacita Jambore SEKAMI dan REM...




