
Salib Telah Diarak, Perjalanan OMK Paroki Lewotobi Belum Usai: Dari Nurabelen, Orang Muda Katolik Diajak Bangkit dan Memberi Diri
Nurabelen, 14 September 2025 — Perjalanan selama dua minggu mengarak Salib Orang Muda Katolik (OMK) dari stasi ke stasi akhirnya tiba pada puncaknya di Stasi Nurabelen. Namun, berakhirnya ziarah bukan menjadi tanda selesainya perjalanan. Sebaliknya, perayaan Pesta Salib Suci justru menjadi titik tolak bagi orang muda untuk bangkit, bersatu, dan memberikan diri bagi Gereja serta masyarakat.
Dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan, ratusan umat bersama Orang Muda Katolik merayakan puncak Ziarah Salib OMK. Perjalanan yang telah berlangsung selama dua minggu itu bukan sekadar perpindahan dari satu stasi ke stasi lainnya. Salib dibawa sebagai simbol perjalanan iman—menyertai doa, pergumulan, harapan, hingga berbagai pengalaman hidup yang dialami orang muda dan umat.

Bagi umat Kristiani, salib bukan sekadar simbol keagamaan. Salib adalah tanda kasih Allah, kemenangan atas dosa, sekaligus kemenangan atas maut. Karena itu, perjalanan ziarah salib menjadi kesempatan bagi orang muda untuk kembali menemukan Tuhan, termasuk ketika berhadapan dengan keterbatasan, penderitaan, kehilangan, dan persoalan kehidupan.
Dari Luka dan Keterbatasan, Saatnya Bangkit
Pesan kuat tentang kebangkitan disampaikan Romo Moses Watan Boro. Ia mengajak OMK menjadikan pengalaman ziarah salib sebagai momentum untuk bangkit setelah melewati berbagai keterbatasan, termasuk situasi bencana yang pernah dialami.
Bangkit, kata pesan tersebut, bukan berarti menghapus pengalaman pahit. Justru pengalaman itu harus diolah menjadi kekuatan untuk menata kembali kehidupan, mempererat persaudaraan, dan membangun masa depan dengan harapan yang lebih besar.
Sebab, salib mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah akhir.
Ada kemenangan setelah perjuangan. Ada harapan setelah penderitaan. Dan ada kehidupan setelah kematian.
Karena itu, orang muda Katolik diajak untuk bangkit dalam iman, bangkit dalam persaudaraan, bangkit dalam pelayanan, bangkit dalam tanggung jawab, dan bangkit untuk memberikan diri bagi Gereja serta masyarakat.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kebersamaan OMK tidak boleh berakhir bersamaan dengan selesainya perjalanan salib.
Pada 28 Oktober, pada hari Sumpah Pemuda, OMK direncanakan kembali berkumpul untuk memperkuat kebersamaan dan kesatuan sebagai orang muda di tingkat paroki dan sekecamatan Ile Bura. Selanjutnya, pada 22 November, pada Hari Orang Muda Katolik Sedunia, OMK diharapkan mampu membawa semangat tersebut keluar dari lingkungan paroki melalui kegiatan olahraga, sosial kemasyarakatan, serta pembenahan dan penataan organisasi.
OMK Bukan Sekadar Tempat Berkumpul
Lebih jauh, OMK diharapkan menjadi ruang pembinaan orang muda secara utuh.
Di lapangan olahraga, mereka ditempa agar memiliki mental juang. Dalam pelayanan liturgi, mereka dibentuk menjadi pribadi yang percaya diri. Sementara dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, mereka belajar menjadi pribadi yang peduli, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama.
Dengan demikian, OMK tidak berhenti sebagai tempat berkumpul. Ia menjadi ruang bagi orang muda untuk belajar menjadi manusia yang matang, baik dalam iman maupun kehidupan sosial.
Pendamping OMK Paroki Lewotobi, Wilfridus Ignasius N. Mukin juga menyampaikan apresiasi kepada Romo Moses dan Diakon Tubo yang terus mendukung dan mendampingi orang muda. Pesannya jelas: perayaan boleh berakhir, tetapi semangat pelayanan tidak boleh padam.
Program-program yang telah disusun di tingkat stasi maupun paroki, baik jangka pendek maupun jangka panjang, harus terus dijalankan. Semangat yang tumbuh selama ziarah salib harus dibawa pulang ke KBG, stasi, paroki, hingga ke tengah masyarakat.
Jangan Berhenti di Salib
Ketua DPP, Lukas Sinagula Fdz, kembali menegaskan bahwa puncak ziarah bukanlah garis akhir perjalanan OMK.
Berbagai rencana organisasi telah disusun. AD/ART yang telah dibahas akan diberlakukan untuk periode berikutnya. Para anggota diharapkan mendukung proses tersebut agar organisasi OMK memiliki arah yang semakin jelas.
Ia juga mengajak anggota OMK untuk menginformasikan kepada teman-teman mereka agar turut mengikuti KPP pada Oktober mendatang.
Pesan ini mempertegas bahwa menjadi orang muda Katolik bukan hanya soal hadir dalam kegiatan. Ada proses panjang yang harus dijalani: belajar menjadi pemimpin, belajar menjadi pelayan, belajar menjadi sahabat, belajar bertanggung jawab, dan belajar menjadi manusia Katolik yang matang.
Ketika Iman Bertemu Kreativitas
Sukacita tidak berhenti setelah Perayaan Ekaristi. Suasana perayaan semakin semarak dengan berbagai persembahan tarian dan musik dari OMK setiap stasi.

Orang muda menunjukkan bahwa iman dan kreativitas dapat berjalan beriringan. Tarian, musik, dan kebersamaan menjadi bagian dari cara mereka merayakan perjalanan iman.
Kehadiran para kepala desa, tokoh masyarakat, serta ratusan umat semakin menghidupkan suasana di Stasi Nurabelen. Kreativitas tersebut sekaligus menjadi gambaran tentang wajah Gereja yang hidup: Gereja yang memiliki orang muda dengan energi, kreativitas, dan semangat untuk mengambil bagian.
Orang muda tidak hanya dipanggil untuk berdoa dan melayani, tetapi juga membangun persaudaraan melalui seni, budaya, olahraga, dan berbagai kreativitas lainnya.
Membawa Salib ke Tengah Kehidupan
Pada akhirnya, Pesta Salib Suci dan Ziarah Salib OMK meninggalkan satu pesan utama: jangan berhenti di salib.
Salib memang berbicara tentang penderitaan, tetapi salib tidak berakhir pada penderitaan. Ia membawa manusia menuju kebangkitan.
Begitu pula pengalaman orang muda.
Bencana, keterbatasan, kegagalan, dan berbagai pengalaman sulit tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan harapan. Semua pengalaman tersebut justru harus menjadi kekuatan untuk menata masa depan.


Karena itu, perjalanan OMK setelah ziarah salib harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ketika seorang teman membutuhkan pertolongan, orang muda hadir.
Ketika Gereja membutuhkan pelayanan, mereka memberikan diri.
Ketika masyarakat membutuhkan tenaga dan pikiran, mereka mengambil bagian.
Dan ketika ada sesama orang muda yang mulai kehilangan arah, mereka hadir untuk meneguhkan dan mengajak kembali ke jalan yang baik.
Di situlah makna salib menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.
Salib telah selesai diarak, tetapi perjalanan belum selesai.
Perjalanan berikutnya adalah perjalanan untuk bangkit dalam iman, bersatu dalam persaudaraan, bertumbuh dalam pembinaan, dan memberi diri dalam pelayanan.
Dari Nurabelen, pesan itu menggema: orang muda Katolik harus menjadi garam dan terang—bukan hanya di dalam Gereja, tetapi juga di tengah keluarga, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari. (Son Kolin – KOMSOS Lewotobi)



