
TEMU SEKAMI-REMIS Paroki Lewotobi perkuat Animator dan Animatris untuk Hidupkan Semangat Misioner Anak dan Remaja
Nurabelen, 7 September 2026 — Paroki Santo Yosef Lewotobi terus memperkuat kapasitas para animator dan animatris dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anak dan remaja. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan penguatan kapasitas animator, animatris, dan pendamping Remaja Misioner (Remis) yang berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Nurabelen itu menghadirkan Ketua Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Dekenat Larantuka, Susana Niren Kelen, sebagai narasumber. Sebanyak 15 peserta yang merupakan perwakilan dari setiap stasi dalam wilayah Paroki Santo Yosef Lewotobi mengikuti kegiatan tersebut.



Kegiatan dibuka oleh Pastor Paroki Lewotobi, Romo Moses Watan Boro, dan dihadiri pula oleh Moderator KMKI Paroki, Diakon Romanus Ola Tubo.
Dalam sambutannya, Romo Moses menegaskan bahwa kehadiran Ketua KMKI Dekenat Larantuka menjadi kesempatan berharga bagi para animator dan animatris untuk mendapatkan bekal baru dalam menjalankan tugas pelayanan.
“Saya mengundang Ibu Susana Niren Kelen, Ketua KMKI Dekenat Larantuka, untuk hadir memberi pembekalan bagi kalian. Bekal yang harus kalian terima ini hendaknya menjadi kekuatan baru untuk berbagi kepada anak-anak Sekami dan Remis,” ungkapnya.
Dipanggil untuk Menghidupkan Jiwa Misioner
Dalam sesi pembekalan, Susana Niren Kelen mengajak para animator dan animatris melihat kembali hakikat pelayanan mereka. Menurutnya, tugas seorang animator dan animatris tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, permainan, maupun animasi. Lebih dari itu, mereka dipanggil untuk menghadirkan semangat Kristus dan mengobarkan gairah iman dalam diri anak-anak dan remaja.
Susana menekankan satu kata kunci dalam tugas pendampingan, yakni “memberi jiwa.” Jiwa pelayanan itu, menurutnya, perlu dihidupkan melalui KMKI dan kemudian diteruskan kepada anak-anak serta remaja yang didampingi.
“Bagaimana saya memberi jiwa? Jiwa ini ada di KMKI, sehingga jiwa saya disalurkan kepada adik-adik dan dapat menghidupkan suasana di dunia anak-anak dan remaja saat ini. Saya hadir untuk mengobarkan gairah iman bagi adik-adik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pendampingan Sekami perlu berakar pada spiritualitas doa, derma, kurban, dan kesaksian. Sementara itu, Remaja Misioner (Remis) diharapkan bertumbuh dalam empat karakter utama, yakni cerdas, gembira, tangguh, dan misioner.
Cerdas berarti mampu merancang kegiatan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Gembira berarti pembinaan dibangun dalam suasana yang menyenangkan dan diawali dengan animasi. Tangguh berarti tetap setia menjalankan perutusan di tengah berbagai tantangan. Sedangkan misioner berarti berani keluar dari diri sendiri dan mengambil bagian dalam karya perutusan Gereja.
Menjadi Imam, Nabi, dan Raja
Dalam pembekalan tersebut, Susana juga menjelaskan tiga peran penting seorang animator dan animatris dalam mendampingi anak dan remaja, yakni imam, nabi, dan raja.

Sebagai imam, seorang pembina dipanggil untuk membawa anak-anak menuju kekudusan melalui kesaksian hidup dan kehidupan doa pribadi. Sebagai nabi, pembina mewartakan Sabda Tuhan melalui katekese yang kreatif dan menarik, bukan melalui ceramah yang kaku dan monoton.
Sementara sebagai raja, seorang animator dan animatris dipanggil untuk melayani. Pelayanan itu diwujudkan melalui pemberian waktu, tenaga, perhatian, kasih, dan pengorbanan bagi anak-anak dan remaja tanpa pamrih.
Susana juga mengajak para pembina mengubah pendekatan dalam mendampingi anak. Menurutnya, anak-anak tidak membutuhkan sosok yang selalu menggurui, tetapi pendamping yang bersedia berjalan bersama mereka.
“Anak-anak membutuhkan pendamping yang berjalan bersama mereka. Karena itu, kita bukan datang untuk menggurui, tetapi untuk menemani mereka dalam proses pertumbuhan iman,” pesannya.
Pembinaan Iman yang Kreatif dan Relevan
Para peserta juga diajak memahami pentingnya pembinaan iman yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan perkembangan anak serta remaja.

Animasi dan musik, misalnya, perlu memiliki pesan yang sejalan dengan tema pembinaan. Permainan pun tidak boleh menjadi tujuan utama. Permainan hendaknya menjadi pintu masuk untuk membangun suasana sekaligus mempersiapkan anak menerima pesan iman.
Dalam penggunaan Kitab Suci, para animator dan animatris didorong untuk memanfaatkan berbagai metode dan alat bantu, seperti alat peraga visual, dongeng, video atau animasi Kitab Suci yang singkat dan menarik, serta pembacaan ayat Kitab Suci secara bergantian.
Pembinaan juga dapat dikembangkan melalui kegiatan di luar ruang, seperti ziarah dan aksi misi. Anak-anak dapat diajak mengalami secara langsung semangat berbagi melalui kunjungan ke panti asuhan maupun aksi kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Susana menegaskan bahwa pembinaan iman tidak boleh berhenti pada kegiatan animasi dan permainan.
“Seorang animator dan animatris harus memahami bahwa kegiatan pembinaan bukan hanya sekadar animasi dan games, tetapi harus mampu menghadirkan Yesus dalam pembinaan iman melalui katekese yang menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman anak,” tegasnya.

Menurutnya, animasi tetap memiliki peran penting sebagai pintu masuk untuk membangun semangat dan sukacita anak. Namun, setelah suasana terbentuk, kegiatan perlu dilanjutkan dengan pendalaman iman dan Kitab Suci yang dapat menjadi bekal bagi kehidupan anak-anak dan remaja.
Selain menerima materi pendampingan, para peserta juga berbagi pengalaman mengenai pembuatan alat peraga sederhana serta cara merancang materi pembinaan iman yang mudah diterapkan di lingkungan dan stasi masing-masing.
Membekali Remaja Misioner dengan Kemampuan Menulis Refleksi
Salah satu bagian penting dalam kegiatan penguatan kapasitas tersebut adalah pembekalan mengenai penulisan refleksi bagi Remaja Misioner.
Para peserta dibekali tips sederhana untuk membantu para remaja menuangkan pengalaman iman dan pengalaman hidup mereka ke dalam sebuah tulisan reflektif. Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu Remis mengenali pengalaman hidupnya sebagai bagian dari perjalanan iman.

Bagi Susana, pendampingan akan menjadi semakin bermakna apabila pembina dan anak-anak bersedia berjalan bersama dalam semangat iman.
“Saya percaya bahwa ketika saya dan mereka sepakat untuk berjalan bersama, di situ Roh Kudus senantiasa menemani kami,” ungkapnya.
Temu Sekami dan Remis di Pantai Nurabelen
Semangat pembinaan tersebut kemudian dilanjutkan pada Minggu, 6 September 2026, melalui kegiatan Temu Sekami dan Remis Paroki Santo Yosef Lewotobi yang berlangsung di kawasan Pantai Nurabelen.
Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Pastor Paroki, Romo Moses Watan Boro. Anak-anak Sekami dan Remis dari enam stasi dalam wilayah Paroki Lewotobi turut mengambil bagian dalam perayaan tersebut.

Setelah Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan animasi gerak dan lagu di kawasan pantai. Suasana penuh sukacita dan kegembiraan tampak mewarnai kebersamaan anak-anak, remaja, animator, animatris, dan para pendamping.
Selanjutnya, peserta dibagi dalam dua kelompok. Kelompok Remis didampingi langsung oleh Susana Niren Kelen, sedangkan kelompok Sekami didampingi oleh para animator dan animatris Paroki Lewotobi.
Dalam kelompok Remis, Susana memperkenalkan TSOM (Teens School of Mission) atau Sekolah Misi Remaja. Para peserta juga dilatih untuk membuat refleksi dari setiap kegiatan yang mereka ikuti.
Susana menjelaskan bahwa pola pendampingan Remis memiliki kekhasan tersendiri dan perlu dibedakan dari pendampingan Sekami. Karena itu, para animator dan animatris Remis diharapkan membantu anak-anak remaja mengembangkan kebiasaan merefleksikan pengalaman dan menuangkannya dalam tulisan.
Sementara itu, kelompok Sekami mengikuti permainan dalam animasi gerak dan lagu yang dipandu para animator dan animatris. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman Kitab Suci yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Katolik Lewotobi, Yosep Sao Kolin.

Kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta menikmati makan bersama di tepi Pantai Nurabelen. Momen tersebut menjadi kesempatan untuk beristirahat sekaligus mempererat persaudaraan di antara anak-anak Sekami, Remis, animator, animatris, dan para pendamping.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyampaian kesan dan pesan dari Ketua KMKI Paroki Lewotobi, Ketua KMKI Dekenat Larantuka, serta Tim Pastor yang diwakili oleh Diakon Romanus Ola Tubo.
Menjadi Saksi Iman bagi Generasi Muda
Rangkaian pembinaan dan Temu Sekami-Remis tersebut menjadi momentum penting bagi Paroki Santo Yosef Lewotobi untuk semakin memperkuat pelayanan kepada anak-anak dan remaja.
Melalui kegiatan ini, para animator dan animatris diharapkan tidak hanya semakin terampil dalam merancang kegiatan, tetapi juga semakin memahami identitas dan panggilan mereka sebagai pendamping iman.
Lebih dari sekadar menghadirkan permainan dan kegiatan yang menyenangkan, mereka dipanggil untuk menemani, menghidupkan, dan mengobarkan semangat misioner dalam diri generasi muda.
Dengan bekal doa, pelayanan, pengorbanan, kreativitas, dan kesaksian hidup, para animator dan animatris diharapkan mampu menjadi saksi iman yang menghadirkan Kristus di tengah kehidupan anak-anak dan remaja Paroki Santo Yosef Lewotobi. (SON KOLIN – KOMSOS LEWOTOBI)



