
Menjaga Pelita yang Telah Dinyalakan: Misa Pembukaan Tahun Ajaran dan Purna Bakti Ibu Oce
Lewotobi, 28 Agustus 2026 — Ada rasa syukur sekaligus haru dalam keluarga besar SMPK Katolik Ile Bura ketika tahun ajaran 2026/2027 dibuka. Perayaan ini menjadi istimewa karena sekaligus menjadi momen untuk melepas Ibu Maria Dolorosa Hokeng, yang akrab disapa Ibu Oce, setelah 39 tahun mengabdikan diri sebagai pendidik di SMPK Ile Bura.
Perayaan diawali dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh RD Moses Watan Boro, Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, didampingi Diakon Romanus Tubo Ola.

Dalam homilinya, Diakon Tubo mengajak seluruh keluarga besar sekolah untuk terus menjaga pelita pendidikan agar tetap menyala. Pelita itu tidak cukup hanya dinyalakan, tetapi harus selalu dijaga dan disiapkan minyaknya agar tidak padam.
Pesan ini terasa sangat kuat ketika dikaitkan dengan perjalanan pengabdian Ibu Oce. Selama 39 tahun, ia telah menjadi salah satu pribadi yang ikut menjaga nyala pelita pendidikan di SMPK Ile Bura.
39 Tahun dalam Kesederhanaan dan Kesetiaan
Mewakili Ketua Komite Sekolah, Kanisius Laranwutun Uran mengenang awal pengabdian Ibu Oce yang dimulai pada tahun 1987. Pada masa itu, gaji seorang guru hanya sekitar Rp15.000 per bulan. Namun, keterbatasan itu tidak membuat Ibu Oce berhenti mengabdi.
Dengan penghasilan yang sederhana, bahkan bersumber dari uang sekolah para siswa, Ibu Oce tetap bertahan. Ia memilih untuk terus mengajar dan memberikan dirinya bagi pendidikan anak-anak.
“Ibu Oce seorang guru yang luar biasa. Zaman itu perjuangan seorang guru luar biasa, dan Ibu Oce menjalani semuanya dengan tabah dan penuh tanggung jawab,” ungkap Kanisius.
Pelita yang Menyinari dari Ruang Kelas
Bagi Paulus Senggo Hokeng, Kepala SMPK Katolik Ile Bura, Ibu Oce adalah salah seorang guru yang telah ikut mempertahankan nyala pelita sekolah.
Meskipun hanya berijazah SMA, Ibu Oce tidak pernah berhenti belajar melalui pengalaman dan pengabdiannya. Dari ruang kelas yang sederhana, ia mendidik anak-anak dengan ketegasan, kedisiplinan, dan perhatian.

Hal-hal kecil yang dilakukan Ibu Oce ternyata membawa dampak besar. Dari ruang kelas itu lahir anak-anak yang mampu membawa nama sekolah dalam berbagai perlombaan hingga tingkat kabupaten dan provinsi.
Paulus berharap semangat yang telah diwariskan Ibu Oce terus dijaga oleh para guru dan siswa sehingga pelita pendidikan di SMPK Katolik Ile Bura tidak pernah padam.
Terima Kasih untuk Sebuah Pengabdian
RD Moses Watan Boro, selaku Pastor Paroki dan perwakilan Yayasan Persekolahan Katolik Flores Timur (YAPERSUKTIM) terdekat, menyampaikan terima kasih atas pengabdian Ibu Oce selama 39 tahun.
Menurutnya, waktu 39 tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada begitu banyak tenaga, pikiran, kesabaran, dan kasih yang telah diberikan Ibu Oce untuk mendidik anak-anak.
Balas jasa yang diberikan, katanya, mungkin tidak pernah sebanding dengan pengorbanan yang telah dipersembahkan. Karena itu, ia berharap Tuhan senantiasa menyertai Ibu Oce dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya setelah purna tugas.
Pesan untuk Anak-Anak: Banggalah Menjadi Bagian dari Ile Bura
Sementara itu, Camat Ile Bura, Yohanes Kowa Kleden, mengajak para siswa untuk bangga menjadi bagian dari SMPK Katolik Ile Bura.

Ia juga mengingatkan bahwa guru sering kali bekerja dalam situasi yang tidak mudah. Ketika seorang anak berhasil, jasa guru kadang terlupakan. Namun ketika seorang anak gagal, guru sering menjadi orang yang pertama disalahkan.
Karena itu, ia mengajak para siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan menguasai bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi dunia yang semakin luas.
“Siapa yang menguasai komunikasi akan menguasai dunia,” tegasnya.
“Bukan Perpisahan yang Kutangisi, Melainkan Pertemuan yang Kusesali”
Suasana haru semakin terasa ketika Ibu Oce menyampaikan pesan perpisahan. “Bukan perpisahan yang kutangisi, melainkan pertemuan yang kusesali.”
Kalimat ini menggambarkan betapa dalam rasa cinta Ibu Oce kepada sekolah, para guru, dan anak-anak didiknya. Ia mengaku hatinya menangis ketika mengetahui bahwa dirinya harus berpisah dengan keluarga besar SMPK Ile Bura.
Namun, di balik air mata perpisahan, Ibu Oce meninggalkan pesan yang jauh lebih besar: kasih dan persaudaraan adalah kekuatan untuk maju bersama.
Kepada para guru yang sebagian pernah menjadi muridnya, Ibu Oce menyampaikan rasa bangga. Ia mengakui bahwa terkadang dirinya bersikap keras ketika mendidik. Tetapi di balik ketegasan itu selalu ada harapan agar anak-anak didiknya menjadi orang yang berhasil.

“Belajarlah yang baik-baik. Pertahankan kasih dan persaudaraan yang terbina di antara kamu,” pesannya.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Ibu Oce meninggalkan satu pesan sederhana yang sangat berarti bagi para guru: “Jadilah guru dan dapat diguru dan ditiru.”
Melanjutkan Pelita Pendidikan
Sehari sebelum perayaan, Kamis, 27 Agustus 2026, tim pastor Paroki Lewotobi juga telah bertemu dengan kepala sekolah, para guru, dan pegawai SMPK Ile Bura. Pertemuan tersebut membahas rencana pastoral untuk sekolah dan Asrama San Marco Putra-Putri.
Beberapa program yang direncanakan antara lain rekoleksi bagi para guru dan pegawai, peningkatan kedisiplinan dalam mengajar dan kehadiran di kelas, serta pelaksanaan English Day. Untuk Asrama San Marco Putra dan Putri, direncanakan Misa bersama, pembinaan kepribadian, serta makan malam bersama tim pastor.


Tahun ajaran baru pun dimulai. Ibu Oce telah menyelesaikan satu bagian panjang dari perjalanan pengabdiannya. Namun, pelita yang ia nyalakan tidak berhenti pada dirinya.
Pelita itu kini berada di tangan para guru dan siswa untuk terus dijaga. Semoga kasih, persaudaraan, disiplin, dan kesetiaan yang telah diwariskan Ibu Oce tetap hidup dan menjadi cahaya bagi perjalanan SMPK Katolik Ile Bura di masa yang akan datang. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



