
1.000 Legioner se-Dekenat Larantuka Berziarah ke Lewotobi, dari Gua Maria Rossa Mistika Menuju Relikui Santo Petrus
Lewotobi, KOMSOS Lewotobi — Sekitar 1.000 anggota Legio Maria dari 21 kuria se-Dekenat Larantuka mengikuti Ziarah Akbar Komisium Reinha Rosari Larantuka di Gua Maria Rossa Mistika, Stasi Riangbunga, dan melanjutkan ziarah ke Gereja Stasi Santo Petrus, Lewouran, Jumat (23/10/2026). Mengusung tema “Berjalan Bersama Maria Menuju Kristus Sang Damai,” kegiatan tahunan ini menjadi kesempatan bagi para Legioner untuk memperteguh iman, mempererat persaudaraan, dan memperbarui semangat pelayanan.

Ziarah tahun ini memiliki makna tersendiri karena para peserta tidak hanya berdoa di Gua Maria Rossa Mistika, tetapi juga mengunjungi tempat penyimpanan relikui Santo Petrus Rasul di Lewouran. Perjalanan dari Riangbunga menuju Lewouran memperkaya pengalaman rohani para Legioner melalui devosi kepada Bunda Maria dan permenungan atas keteladanan Santo Petrus dalam mengikuti Kristus.
Kehadiran ribuan peziarah juga menjadi momen istimewa bagi umat Paroki Santo Yosef Lewotobi. Selain menjadi perjumpaan iman, kegiatan ini memperlihatkan semangat kerja sama umat dalam menyambut para peziarah dan menghidupi persaudaraan sebagai satu keluarga Gereja.
Ziarah Diawali dengan Doa Tessera dan Perayaan Ekaristi di Riangbunga
Rangkaian Ziarah Akbar Komisium Reinha Rosari Larantuka diawali di Gua Maria Rossa Mistika, Stasi Riangbunga. Sejak pukul 08.00 hingga 10.00 WITA, para peserta mengikuti Tessera, yakni doa khas Legio Maria, sebagai ungkapan devosi dan penyerahan diri kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Tepat pukul 10.00 WITA, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang menjadi pusat perayaan iman dalam rangkaian ziarah. Perayaan berlangsung dalam suasana khusyuk dan penuh sukacita, diiringi koor Stasi Lewotobi.

Dalam homilinya, RD. Moses Watan Boro mengajak para Legioner menyadari bahwa setiap orang datang berziarah dengan pengalaman hidup yang berbeda. Ada yang membawa sukacita, tetapi ada pula yang datang dengan kesedihan, pergumulan pribadi, dan persoalan keluarga.
“Apa pun yang kita alami, kita semua datang ke tempat ini dengan tujuan masing-masing, yakni datang kepada Bunda Maria agar semakin dekat dengan Yesus Kristus,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar perjalanan menuju tempat suci atau kesempatan untuk menyampaikan berbagai permohonan kepada Tuhan. Lebih dari itu, ziarah merupakan perjalanan batin untuk semakin mengenal Tuhan, memperdalam iman, dan memperbarui hidup.
Karena itu, pengalaman rohani selama ziarah hendaknya menghasilkan perubahan nyata ketika para peserta kembali ke tengah keluarga, lingkungan, dan komunitas Gereja.
Doa Rosario Harus Berbuah dalam Kehidupan Sehari-hari
Mengacu pada pesan Kitab Suci, Romo Moses mengingatkan bahwa setiap pengikut Kristus dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih.
Pesan ini, menurutnya, sangat relevan bagi anggota Legio Maria yang tekun berdoa Rosario, mengikuti pertemuan, dan menjalankan tugas pelayanan. Semua praktik rohani tersebut harus menghasilkan perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengajak para Legioner memeriksa diri: apakah ketekunan berdoa telah membuat mereka semakin sabar dan rendah hati? Apakah pelayanan membantu mereka mengendalikan amarah, menjauhi gosip, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama?
Sebab, kesalehan tidak cukup hanya tampak dalam doa dan kegiatan gerejawi. Iman harus diwujudkan melalui tindakan yang mencerminkan kasih Kristus.
“Bunda Maria tidak pernah membawa kita menjauh dari Yesus. Damai dimulai dari rumah kita sendiri, dari seorang ibu atau bapak yang berbicara dengan lembut, dari kesediaan untuk meminta maaf, serta kemauan untuk mengampuni sesama,” tegasnya.

Ia juga mengajak para peserta untuk tidak mudah menghakimi kekurangan orang lain, melainkan berani melakukan introspeksi, mengakui kesalahan, dan mengambil langkah nyata untuk berdamai.
Bagi para Legioner, berjalan bersama Maria menuju Kristus Sang Damai berarti bersedia menjadi pembawa damai di tengah keluarga, masyarakat, dan komunitas Gereja.
Ketua Komisium: Ziarah Meneguhkan Iman dan Persaudaraan
Ketua Komisium Reinha Rosari Larantuka, Theresia Palang Keda, mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan yang memungkinkan para Legioner mengikuti kegiatan ziarah dalam keadaan sehat dan dengan hati terbuka untuk menjawab panggilan Bunda Maria.
Ia menjelaskan bahwa ziarah merupakan salah satu program tahunan Legio Maria. Pada bulan Mei, ziarah dilaksanakan di tingkat kuria, sedangkan pada bulan Oktober, yang dikenal sebagai Bulan Rosario, ziarah diselenggarakan di tingkat Komisium.

Theresia menyampaikan terima kasih kepada Romo Hironimus Kaja Kwure yang telah menyediakan Gua Maria Rossa Mistika di Riangbunga sebagai tempat umat berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.
Ia berharap para Legioner membawa seluruh pengalaman hidup, luka batin, dan pergumulan mereka ke hadapan Tuhan agar memperoleh kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan iman.
“Semoga melalui ziarah ini, iman kita semakin diteguhkan, harapan diperkokoh, dan kesetiaan kita sebagai Legioner terus bertumbuh sampai nuan tutu musim labot (*red. ungkapan dalam bahasa Lamaholot yang berarti sampai meninggal dunia),” ungkapnya.
Theresia menegaskan bahwa ziarah bukan hanya memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan, melainkan juga mempererat persaudaraan dan kekompakan antaranggota Legio Maria. Sapaan “saudara dan saudari” hendaknya diwujudkan melalui sikap saling menghargai, kepedulian, dan kesediaan bekerja sama dalam pelayanan.
Setelah rangkaian kegiatan di Riangbunga selesai, para peserta mendapat kesempatan untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gereja Stasi Santo Petrus di Lewouran.
Dari Gua Maria Rossa Mistika Menuju Relikui Santo Petrus di Lewouran
Perjalanan ziarah kemudian berlanjut ke Gereja Stasi Santo Petrus di Lewouran, tempat tersimpannya relikui Santo Petrus Rasul dan batu kudus dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan.
Gagasan untuk membawa para Legioner mengunjungi Lewouran disampaikan oleh Ketua Kuria Bunda Imaculata Lewotobi, Sesilia Banung Leba, yang akrab disapa Ibu Sisi. Ia menjelaskan bahwa Ziarah Akbar Komisium tahun ini semula diprogramkan berlangsung di Gua Maria Rossa Mistika. Namun, keberadaan relikui Santo Petrus di Lewouran mendorongnya mengusulkan agar ziarah dilanjutkan ke tempat tersebut.
“Saya sebagai Ketua Kuria Bunda Imaculata Lewotobi menginformasikan ke Komisium bahwa di Stasi Santo Petrus Lewouran telah hadir Relikui Santo Petrus yang dibawa oleh Pater Markus Solo Kewuta, SVD, dari Vatikan. Apa boleh setelah kita ziarah di Gua Maria Rossa Mistika, kita lanjut ziarah ke Relikui Santo Petrus di Lewouran, apalagi jaraknya juga dekat,” tuturnya.
Usulan tersebut disetujui oleh Komisium sehingga para Legioner dapat melanjutkan perjalanan rohani ke Lewouran setelah berziarah di Riangbunga.

Menurut Sesilia, keberadaan relikui Santo Petrus dan batu kudus dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus menjadi alasan penting dipilihnya Lewouran sebagai tujuan ziarah lanjutan. Kedua benda suci tersebut dibawa oleh Pater Markus Solo Kewuta, SVD, putra Lewouran yang berkarya di lingkungan Takhta Suci Vatikan.
Ia menilai kesempatan ini sebagai pengalaman rohani yang istimewa bagi para Legioner.
“Santa Maria dan Santo Petrus dalam Injil selalu dekat dengan Yesus dan tentu dalam banyak hal bekerja sama. Oleh karena itu, dari Bunda Maria kami bergerak kepada Santo Petrus,” ungkapnya.
Menurut Sesilia, para peserta merasa terkesan, terharu, dan dikuatkan melalui ziarah tersebut. Perjalanan dari Gua Maria menuju relikui Santo Petrus menjadi kesempatan untuk memperluas pengalaman iman sekaligus mendalami keteladanan dua figur penting dalam kehidupan Gereja.
Lewouran, Oase Rohani dan Harapan bagi Umat
Bagi umat Stasi Santo Petrus Lewouran, keberadaan relikui Santo Petrus Rasul menjadi kekayaan rohani yang membuka kesempatan lebih luas bagi umat untuk berdoa, melakukan permenungan, dan memperdalam iman.
Sesilia menggambarkan Lewouran sebagai tempat yang menawarkan keteduhan batin dan kesempatan untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui doa dan penghormatan kepada Santo Petrus.
“Sekarang jalan menuju ke sana sudah mulai terbuka lebar. Dengan ini, Lewouran juga menjadi seperti sebuah Nazareth kecil. Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazareth?” ujarnya, merujuk pada Injil Yohanes 1:46.
Ia berharap Lewouran dapat berkembang sebagai tempat devosi dan wisata rohani yang membantu umat menemukan ketenangan batin, memperbarui harapan, dan memperkuat komitmen iman.


Sesilia juga menyampaikan apresiasi kepada Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, Romo Moses, serta seluruh yang berpartisipasi aktif dalam mempersiapkan kedatangan para peziarah. Dukungan dua putra terbaik Paroki Lewotobi, Romo Hironimus Kaja Kwure yang berkarya di Swiss dan Pater Markus Solo Kewuta, SVD yang berkarya di Vatikan, turut memberikan arti penting bagi upaya mengembangkan Stasi Riangbunga dan Stasi Lewouran sebagai tempat perjumpaan rohani.
Sementara itu, Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, Rm. Moses Atasoge, Pr., menilai kehadiran sekitar 1.000 peziarah sebagai momen bersejarah bagi umat setempat.
“Iya, benar, hari ini sekitar 1.000 peziarah Legio Maria se-Dekenat Larantuka hadir di Paroki Santo Yosef Lewotobi. Mereka hadir melakukan ziarah di dua tempat sekaligus, yaitu di Gua Maria Rossa Mistika, Stasi Riangbunga, dan Gereja Stasi Santo Petrus yang menyimpan kekayaan rohani relikui Santo Petrus Rasul,” ungkapnya.
Menurut Rm. Moses, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bersama, bernyanyi bersama, dan memuji Tuhan. Kunjungan ke relikui Santo Petrus juga membantu umat semakin mengenal dan mencintai sang Rasul serta menemukan makna spiritual dalam kehidupannya sebagai murid Yesus Kristus.
Kerja Sama Umat Menjadi Kekuatan Pelaksanaan Ziarah
Kelancaran Ziarah Akbar Komisium Reinha Rosari Larantuka tidak terlepas dari keterlibatan umat Paroki Santo Yosef Lewotobi. Dalam menyambut kedatangan para peziarah, pastor paroki melibatkan anggota Legio Maria setempat bersama pengurus Dewan Pastoral Paroki dalam kepanitiaan lokal.
Umat mengambil bagian dalam berbagai persiapan, mulai dari penataan lokasi, persiapan liturgi, hingga kebutuhan teknis selama kegiatan berlangsung. Kerja sama tersebut memungkinkan seluruh rangkaian acara terlaksana sesuai rencana.
Romo Moses mengapresiasi keterlibatan umat dan menegaskan bahwa pengalaman ini mengajarkan pentingnya persaudaraan, kerja sama, serta penyerahan diri kepada Allah.
“Tentu saja momentum ziarah ini memberikan sumbangan besar bagi semua umat. Dari sini kita belajar untuk membangun persaudaraan yang kokoh, kerja sama yang baik, juga semangat penyerahan diri dalam perlindungan dan kuasa Allah. Karena kita percaya, tanpa campur tangan Tuhan, maka semua ini tidak dapat diselesaikan dengan baik,” tegasnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan Gereja dibangun melalui partisipasi bersama. Setiap tenaga yang diberikan, tugas yang dijalankan, dan tanggung jawab yang dipikul menjadi bagian dari kesaksian iman.
Legio Maria Merasul dalam Doa dan Karya Sederhana
Selain menekankan makna ziarah, Sesilia Banung Leba menjelaskan bahwa spiritualitas Legio Maria diwujudkan melalui doa dan karya kerasulan, termasuk pelayanan sosial sesuai kemampuan masing-masing anggota.


Ia mengakui bahwa banyak anggota Legio Maria merupakan kaum lansia, pensiunan, petani, dan ibu rumah tangga. Meskipun memiliki keterbatasan tenaga dan sumber daya, mereka tetap berusaha menjalankan perutusan melalui tindakan sederhana yang bermanfaat bagi sesama.
“Kami akan tetap menjaga dan menghidupi serta mengembangkan semangat spiritualitas Maria. Kami akan merasul dalam doa dan karya-karya sederhana, tergantung dari apa yang bisa kami lakukan,” ungkapnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, para Legioner berusaha mengunjungi dan mendoakan orang-orang yang mengalami musibah atau bencana alam, orang berkebutuhan khusus, orang sakit, kaum lansia, serta mereka yang menghadapi persoalan dalam kehidupan keluarga dan relasi sosial.
Menurut Sesilia, pelayanan tersebut tidak selalu harus berupa bantuan materi. Kehadiran, doa, perhatian, dan kesediaan mendengarkan juga merupakan bentuk kepedulian yang berarti bagi sesama.
“Kami tidak memberi apa-apa, tapi secara sosial kami memberi sesuatu yang ada pada kami sesuai kemampuan kami dan sangat sederhana. Kami mengunjungi dan berdoa bersama,” tuturnya.
Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa semangat Legio Maria tidak berhenti pada kegiatan devosi, tetapi diwujudkan dalam kepedulian konkret terhadap mereka yang membutuhkan. Doa menjadi kekuatan yang menggerakkan pelayanan, sementara pelayanan menjadi bentuk nyata kasih yang dihidupi dalam iman.
Pulang Membawa Damai, Menjadi Saksi Kasih Kristus
Ziarah Akbar Komisium Reinha Rosari Larantuka di Paroki Santo Yosef Lewotobi menjadi perjumpaan iman yang menyatukan doa, persaudaraan, dan pelayanan. Dari Gua Maria Rossa Mistika di Riangbunga hingga relikui Santo Petrus Rasul di Lewouran, para Legioner diajak memperdalam iman dan memperbarui komitmen untuk mengikuti Kristus.
Kehadiran sekitar 1.000 peziarah dari 21 kuria, dukungan umat setempat, serta keterlibatan berbagai unsur pastoral menunjukkan bahwa kehidupan Gereja bertumbuh melalui semangat berjalan bersama.

Bunda Maria mengarahkan umat kepada Yesus Kristus, sedangkan keteladanan Santo Petrus mengingatkan mereka akan pentingnya kesetiaan dan keberanian dalam menjalankan perutusan. Keduanya menjadi inspirasi bagi para Legioner untuk menghidupi iman melalui doa, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui tema “Berjalan Bersama Maria Menuju Kristus Sang Damai,” para peserta diingatkan bahwa iman sejati harus menghasilkan perubahan hidup. Doa Rosario hendaknya menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Pelayanan hendaknya mempererat persaudaraan. Kedekatan dengan Tuhan hendaknya mendorong setiap orang untuk berani meminta maaf, mengampuni, dan mengakhiri dendam.
Pada akhirnya, ziarah sejati tidak berakhir ketika para peziarah meninggalkan tempat suci. Perjalanan itu berlanjut dalam keluarga, lingkungan, dan komunitas masing-masing, ketika doa menghasilkan kasih, iman menumbuhkan kepedulian, dan pelayanan menghadirkan harapan.
Bersama Bunda Maria menuju Kristus Sang Damai, para Legioner dipanggil untuk terus merasul dalam doa dan karya sederhana, merawat persaudaraan, serta menjadi saksi kasih Kristus bagi Gereja dan masyarakat. (Son Kolin – KOMSOS Lewotobi)
Related posts:

Dari Stasi ke Stasi, Dari Hati ke Hati: Ziarah Salib OMK Paroki St. Yosef Lewotobi

Temu Akbar SEKAMI-REMIS Paroki Lewotobi, Rayakan 100 Tahun Minggu Misi Sedunia: “Satu dalam Kristus,...




