
Renungan Selasa, 3 Mei 2026: “Ia Bukan Allah Orang Mati, Melainkan Allah Orang Hidup”
Bacaan 2Timotius 1:1-3. 6-12 dan Markus 12:18-27
Bapa-ibu, saudara-saudari, umat beriman yang terkasih dalam Tuhan. Dalam Injil hari ini, kaum Saduki datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjebak-Nya. Mereka tidak percaya akan kebangkitan, sehingga mereka mencoba memperolok ajaran tentang hidup sesudah kematian. Namun Yesus menjawab dengan tegas bahwa Allah adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, dan bahwa Allah bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Dengan kata lain, hidup manusia tidak berakhir di kubur. Kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih penuh bersama Allah. Sabda ini menghibur kita ketika kehilangan orang-orang yang kita kasihi dan sekaligus mengingatkan kita agar hidup dengan harapan yang tidak pernah padam.
Keyakinan akan Allah yang hidup itulah yang menguatkan Timotius dalam bacaan pertama. Santo Paulus mengingatkannya untuk mengobarkan karunia Allah yang telah diterimanya dan tidak malu memberi kesaksian tentang Tuhan. Paulus sendiri rela menderita karena ia percaya kepada Kristus yang hidup dan berkuasa menyelamatkan. Hari ini Gereja memperingati Santo Karolus Lwanga dan teman-temannya, para martir dari Uganda, yang juga mempertahankan iman mereka sampai menumpahkan darah. Mereka berani menghadapi kematian karena yakin bahwa Kristus yang bangkit telah menyediakan kehidupan yang tidak akan berakhir. Pertanyaannya bagi kita: apakah iman kita sungguh memberi harapan ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan? Apakah kita percaya bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan selalu menyertai perjalanan hidup kita setiap hari? (Fr. Naga)



