
Renungan Selasa, 2 Mei 2026: “Berikanlah kepada Allah Apa yang Wajib Kamu Berikan kepada Allah”
Bacaan 2Petrus Petrus 3:12-15a.17-18 dan Markus 12:13-17
Bapa-ibu, saudara-saudari, umat beriman yang terkasih dalam Tuhan. Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi dan Herodian berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Mereka berharap Yesus akan terperangkap dalam jawaban yang salah. Namun Yesus menjawab dengan sangat bijaksana: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Melalui jawaban ini, Yesus mengingatkan bahwa manusia tidak hanya memiliki kewajiban sebagai warga masyarakat, tetapi juga sebagai milik Allah. Jika uang bergambar Kaisar pantas dikembalikan kepada Kaisar, maka hidup kita yang diciptakan menurut gambar Allah pantas dipersembahkan kepada Allah. Pertanyaannya bukan hanya apakah kita sudah memberi sesuatu kepada Tuhan, tetapi apakah kita sudah memberikan hati, waktu, kasih, dan seluruh hidup kita kepada-Nya.
Pesan Injil ini sejalan dengan nasihat Santo Petrus dalam bacaan pertama. Ia mengajak umat untuk hidup waspada dan bertumbuh dalam rahmat serta pengenalan akan Tuhan sambil menantikan kedatangan-Nya. Dunia ini akan berlalu, tetapi orang yang hidup dalam kesetiaan kepada Allah akan menemukan keselamatan. Karena itu, hidup beriman bukan sekadar menjalankan kewajiban agama, melainkan terus bertumbuh menjadi pribadi yang semakin mencerminkan kasih dan kekudusan Allah.
Hari ini Gereja juga memperingati Santo Marselinus dan Santo Petrus, dua martir yang tetap setia kepada Kristus meskipun harus menghadapi penganiayaan dan kematian. Mereka telah memberikan kepada Allah bukan hanya doa dan pujian, tetapi seluruh hidup mereka.
Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah selama ini aku sungguh memberikan hidupku kepada Allah, atau hanya memberikan sisa waktuku? Apakah aku semakin bertumbuh dalam iman dan kasih kepada Tuhan dari hari ke hari?
Semoga Tuhan menolong kita untuk memberikan kepada-Nya bukan hanya kata-kata, melainkan seluruh hidup kita, sehingga pada saat kedatangan-Nya kita didapati sebagai hamba yang setia dan penuh damai. Amin. (Fr Ichal)



