
Romo Vikjen Keuskupan Larantuka Sosialisasikan Kongregasi Konfreria di Stasi Lewotobi
Lewotobi, Minggu, 25 Oktober 2026 | Berita Paroki Lewotobi
LEWOTOBI, KOMSOS LEWOTOBI – Upaya menghidupkan kembali semangat persaudaraan dan pelayanan kaum bapa dalam Gereja mendapat perhatian khusus melalui kegiatan sosialisasi Kongregasi Konfreria yang dibawakan oleh Romo Adeodatus Hendrikus Leni, Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Larantuka, di Gereja Fransiskus Xaverius Stasi Lewotobi, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi umat, khususnya kaum bapa, untuk mengenal lebih dekat Konfreria sebagai kongregasi lokal Keuskupan Larantuka yang berakar pada tradisi iman, doa, dan pelayanan.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 50 orang bapa bergabung sebagai anggota Konfreria. Kehadiran para anggota baru ini menjadi langkah awal yang menggembirakan dalam upaya mengembangkan kembali kongregasi tersebut di Paroki Lewotobi.
Romo Moses Watan Boro: Terima Kasih atas Kehadiran Romo Vikjen
Mengawali kegiatan, Pastor Paroki Lewotobi, Romo Moses Watan Boro, menyampaikan terima kasih kepada Romo Adeodatus Hendrikus Leni yang telah meluangkan waktu untuk hadir di Paroki Lewotobi dan membawa berkat bagi umat melalui sosialisasi Kongregasi Konfreria.

Romo Moses menilai kehadiran Romo Vikjen merupakan kesempatan berharga bagi umat, terutama kaum bapa, untuk memperdalam pemahaman tentang pentingnya persaudaraan dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.
Ia menegaskan bahwa Paroki Lewotobi berada di bawah perlindungan Santo Yosef. Karena itu, semangat Santo Yosef sebagai teladan seorang bapa yang setia, bertanggung jawab, sederhana, dan rela berkorban hendaknya semakin nyata dalam kehidupan kaum bapa di paroki ini.
Menurutnya, salah satu bentuk konkret untuk menghidupi spiritualitas Santo Yosef adalah dengan bergabung dalam Kongregasi Konfreria. Melalui kongregasi ini, para bapa memiliki ruang untuk bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan, serta mengambil bagian dalam pelayanan kepada Gereja dan masyarakat.
Romo Moses juga mendorong kaum bapa agar berani membuka diri dan mencalonkan diri menjadi anggota Konfreria. Keterlibatan tersebut, menurutnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab para bapa yang sudah lanjut usia, tetapi juga kaum bapa-bapa muda yang perlu dipersiapkan untuk meneruskan semangat persaudaraan dan pelayanan di masa mendatang.
Ajakan ini sekaligus menjadi harapan agar Konfreria dapat bertumbuh kembali di Paroki Lewotobi dan menjadi wadah yang memperkuat peran kaum bapa dalam kehidupan keluarga, lingkungan, stasi, dan paroki.
Romo Adeodatus Hendrikus Leni: Konfreria, Warisan Iman dan Persaudaraan Lokal
Dalam pemaparannya, Romo Adeodatus Hendrikus Leni menjelaskan bahwa Gereja memiliki banyak kongregasi dengan kekhasan spiritualitas masing-masing. Di Keuskupan Larantuka, Kongregasi Santa Anna dan Konfreria merupakan bagian dari kekayaan iman lokal yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.
Ia menguraikan bahwa spiritualitas Maria Reinha Rosari yang dibawa oleh Ordo Dominikan turut membentuk kehidupan iman umat di wilayah Larantuka, yang kemudian dikenal sebagai Kota Reinha. Dalam perjalanan sejarah tersebut, Konfreria hadir sebagai salah satu wadah untuk menjaga dan meneruskan warisan iman yang telah ditanamkan oleh para pendahulu.

Konfreria telah hadir sejak tahun 1964, ketika para Dominikan berkarya di wilayah ini. Setelah para pastor Dominikan kembali, para bapa tetap berusaha mempertahankan iman yang diwariskan melalui cara-cara sederhana. Semangat tersebut terus bertahan dalam bentuk perserikatan persaudaraan yang menghimpun kaum bapa dari berbagai latar belakang pekerjaan, seperti petani, nelayan, pegawai, guru, dan profesi lainnya.
Romo Hendrik menekankan bahwa Konfreria merupakan kongregasi lokal yang menjadi bagian dari identitas Gereja Keuskupan Larantuka. Keanggotaannya tidak ditentukan oleh pekerjaan, status sosial, atau usia, melainkan oleh kesediaan untuk hidup dalam persaudaraan iman dan melayani sesama.
Ia juga menjelaskan bahwa pembentukan Konfreria di paroki-paroki membutuhkan izin Uskup. Karena itu, harapan Bapa Uskup agar Konfreria yang dulu pernah ada di Lewotobi mesti harus kembali dibentuk di paroki ini dan menjadi dorongan bagi umat untuk mengembangkan kekayaan iman melalui kehidupan berorganisasi dan pelayanan yang terarah.
Hadir bagi Umat, Terutama dalam Situasi Kedukaan
Salah satu kekhasan Konfreria adalah pelayanan nyata yang dilakukan para anggotanya di tengah umat. Para bapa dipanggil untuk menyediakan waktu, meskipun terbatas, demi membantu sesama, khususnya keluarga yang sedang mengalami kedukaan.
Pelayanan tersebut meliputi mendoakan orang yang meninggal, membantu memimpin upacara penguburan, hadir dalam malam-malam jaga keluarga yang berduka, serta terlibat dalam pelayanan doa dan kegiatan keagamaan sesuai tradisi setempat. Dalam kesempatan doa itu para anggota mengambil bagian dalam memimpin Momento atau Laudate.
Di Larantuka, peran Konfreria memiliki arti penting dalam pelaksanaan seluruh prosesi Semana Santa, tradisi keagamaan yang menjadi salah satu kekhasan iman umat setempat.

Selain pelayanan kedukaan dan liturgi, Konfreria juga membangun persaudaraan yang melibatkan keluarga para anggota. Salah satu bentuknya ialah kegiatan Natal bersama pada 26 Desember, yang berkaitan dengan penerimaan Opa serta media dan melibatkan keluarga anggota melalui pembagian tugas sebagai mardomu.
Bagi Konfreria, persaudaraan tidak berhenti pada pertemuan atau keanggotaan organisasi. Persaudaraan perlu diwujudkan melalui kehadiran, perhatian, doa, pengorbanan waktu, dan kesediaan membantu sesama dalam berbagai situasi kehidupan.
Kepengurusan Konfreria dan Langkah Awal di Lewotobi
Sebagai bagian dari pengorganisasian pelayanan, sosialisasi ini turut memperkenalkan struktur kepengurusan Konfreria yang mendukung pelaksanaan tugas di tingkat pusat, paroki, dan stasi.
Dalam struktur tersebut, Deken bertindak sebagai Direktur Agung, sedangkan pastor paroki menjadi Direktur. Para Pesadu menjalankan peran sebagai penasihat, sementara Procurador bertugas memimpin dan mengoordinasikan organisasi. Pada tingkat stasi, Perfek menjadi penghubung antara anggota di stasi dan kepengurusan di tingkat paroki.
Nama-nama pengurus yang dipilih dalam kegiatan ini meliputi Markus Malaka sebagai Procurador, Agustinus Koto Blolon sebagai Wakil Procurador, Robertus Ola Bebe sebagai Scriban atau sekretaris, Robertus Ropong Uran sebagai Bendahara kas, dan Wilibrodus Suban Aran sebagai Mestri atau pemimpin lagu. Untuk tingkat Stasi Lewotobi, Marselinus B. Uran disebut sebagai penanggung jawab Perfek. Sedangkan Stasi Rianghaka ditunjuk Pius SIna Witi sebagai Perfek.

Sebanyak 50 bapa yang bergabung dalam kegiatan ini menjadi awal bagi pengembangan Konfreria di wilayah Lewotobi. Ke depan, keterlibatan lebih banyak kaum bapa, baik bapa-bapa tua maupun bapa-bapa muda yang diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan kongregasi dan memperluas karya pelayanan di tengah umat.
Selain itu, para anggota diharapkan mendorong istri masing-masing untuk aktif dalam kongregasi atau kelompok kategorial lain, seperti Santa Anna dan Legio Maria, sehingga kehidupan iman dan pelayanan dapat berkembang bersama dalam keluarga.
Ketua Dewan Stasi Lewotobi Harapkan Dukungan Tenaga Pastoral
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Stasi Lewotobi, Tarsisius Buto Muda, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Romo Vikjen ke Stasi Lewotobi. Ia berharap kehadiran Romo Hendrik membawa perhatian dan dukungan lebih lanjut bagi kebutuhan pastoral umat setempat.
Tarsi Muda mengungkapkan bahwa Paroki Lewotobi masih membutuhkan tambahan tenaga pastoral untuk membantu pelayanan kepada umat. Ia berharap, apabila memungkinkan dan sesuai pertimbangan Bapa Uskup, dapat diutus sebuah komunitas biara atau tenaga biarawati untuk berkarya di Lewotobi.
Menurutnya, kebutuhan tersebut berkaitan dengan keberadaan sejumlah lembaga pendidikan di wilayah Lewotobi, mulai dari TKK, SD, SMP, hingga SMA, serta asrama putra dan putri untuk tingkat SMP. Keberadaan lembaga-lembaga ini membutuhkan pendampingan yang memadai, terutama dalam bidang pastoral pendidikan, pendampingan kehidupan asrama, dan pelayanan pastoral umum.

Harapan tersebut kemudian mendapat penegasan kembali oleh Romo Moses mengingat perkembangan kehidupan umat dan pendidikan generasi muda. Dengan dukungan tenaga pastoral yang memadai, pelayanan Gereja diharapkan dapat menjangkau lebih banyak orang dan menjawab kebutuhan umat secara lebih menyeluruh.
Menghidupi Persaudaraan dalam Kasih dan Pelayanan
Sosialisasi Kongregasi Konfreria di Stasi Lewotobi bukan sekadar kegiatan pengenalan organisasi, melainkan langkah awal untuk memperkuat kembali persaudaraan iman dan peran kaum bapa dalam kehidupan Gereja.
Pesan yang disampaikan Romo Moses Watan Boro tentang teladan Santo Yosef, penjelasan Romo Adeodatus Hendrikus Leni mengenai sejarah dan pelayanan Konfreria, serta harapan Ketua Dewan Stasi Lewotobi menunjukkan pentingnya kerja sama antara umat dan para pelayan Gereja dalam membangun kehidupan pastoral yang lebih kuat.
Bergabung dalam Konfreria berarti membuka diri untuk bertumbuh dalam iman, membangun persahabatan, dan melayani dengan kasih. Semangat ini diharapkan terus berkembang di Paroki Lewotobi, sehingga para bapa semakin berani mengambil bagian dalam pelayanan dan meneruskan warisan iman kepada generasi berikutnya.
Dengan bergabungnya 50 orang bapa dalam kegiatan sosialisasi ini, harapan untuk menghidupkan kembali Kongregasi Konfreria di Lewotobi mulai menemukan langkah nyata. Semoga persaudaraan yang dibangun dalam kasih semakin memperkuat kehidupan umat dan menghadirkan berkat bagi seluruh keluarga serta masyarakat di wilayah Paroki Lewotobi. (ASO – KOMSOS LEWOTOBI)
Related posts:

Semangat Literasi di Bawah Atap Tutu Koda Desa Lewotobi

OMK Stasi Lewouran dalam Kebersamaan Membangun Gereja dan Lewotana




