
67 Anak Terima Komuni Pertama Serentak di Empat Gereja Paroki Santo Yosef Lewotobi
Nurabelen, 23 Agustus 2026 — Sebanyak 67 anak menerima Komuni Kudus untuk pertama kalinya dalam perayaan Komuni Pertama yang berlangsung serentak di empat gereja wilayah Paroki Santo Yosef Lewotobi. Perayaan iman ini berlangsung meriah dan penuh sukacita, dihadiri oleh orang tua, keluarga, serta umat yang memadati keempat gereja.
Perayaan Komuni Pertama menjadi momentum istimewa bagi ke-67 anak untuk semakin mengenal, mencintai, dan menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan iman mereka.
Keempat perayaan Ekaristi dilaksanakan di masing-masing gereja, yakni Gereja Santo Yosef Nurabelen, Gereja Santo Antonius Padua Riangkaha, Gereja Santo Fransiskus Xaverius Lewotobi, dan Gereja Santo Petrus Lewouran.

Di Gereja Santo Yosef Nurabelen, perayaan dipimpin oleh Romo Moses Watan Boro. Sementara itu, perayaan di Gereja Santo Antonius Padua Riangkaha dilayani oleh Romo Hironimus Kwuta, di Gereja Santo Fransiskus Xaverius Lewotobi oleh Romo Anselmus Langowuyo, dan di Gereja Santo Petrus Lewouran oleh Romo Wens Herin.
Yesus, Mesias dan Sahabat
Dalam homilinya di Gereja Santo Yosef Nurabelen, Romo Moses Watan Boro mengajak anak-anak penerima Komuni Pertama untuk tidak berhenti pada pengalaman menerima Komuni Kudus untuk pertama kalinya. Lebih dari itu, mereka diajak untuk terus membangun dan menjaga persahabatan dengan Yesus.

Mengangkat tema “Yesus, Engkaulah Mesias dan Sahabatku”, Romo Moses menjelaskan bahwa pertanyaan Yesus kepada para murid, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, juga menjadi pertanyaan yang ditujukan kepada setiap anak yang menerima Komuni Pertama.
Menurutnya, anak-anak dapat mengenal Yesus bukan hanya sebagai Tuhan, Juru Selamat, dan Mesias, tetapi juga sebagai Sahabat yang senantiasa hadir dalam setiap keadaan hidup.
“Ketika kita berdoa, Yesus mendengarkan. Ketika kita menangis, Yesus menemani. Ketika kita jatuh dalam kesalahan, Yesus mengajak kita bangkit. Ketika kita merasa sendirian, Yesus tetap hadir,” demikian inti pesan yang disampaikan Romo Moses dalam homilinya.
Ia menegaskan bahwa Komuni Kudus bukan sekadar sebuah upacara atau kewajiban setelah mengikuti pelajaran agama. Komuni merupakan perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus.
Karena itu, anak-anak diajak untuk terus datang kepada Yesus melalui Ekaristi dan menjadikan Misa sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.
Komuni Pertama Bukan Akhir, tetapi Awal
Romo Moses juga mengingatkan anak-anak agar tidak memandang Komuni Pertama sebagai puncak atau akhir perjalanan iman. Sebaliknya, hari tersebut harus menjadi awal dari persahabatan yang semakin erat dengan Yesus.

“Jangan biarkan Komuni Pertama menjadi akhir dari perjalanan, tetapi jadikanlah hari ini sebagai awal dari persahabatan yang semakin erat dengan Yesus,” pesannya.
Ia mengajak anak-anak untuk terus bertumbuh dalam iman dengan cara sederhana: rajin berdoa, setia mengikuti Misa, menghormati orang tua, menyayangi saudara dan teman, berani meminta maaf ketika berbuat salah, serta belajar mengampuni.
Menurutnya, persahabatan dengan Yesus harus tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang telah menerima Tubuh Kristus dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus di rumah, sekolah, maupun di tengah masyarakat.
“Yesus mengasihi, maka kita belajar mengasihi. Yesus mengampuni, maka kita belajar mengampuni. Yesus melayani, maka kita belajar melayani,” demikian pesan yang ditekankan dalam homili.
Orang Tua dan Umat Dipanggil Mendampingi
Perayaan Komuni Pertama juga menjadi kesempatan bagi para orang tua dan seluruh umat untuk kembali menyadari tanggung jawab dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anak.


Kehadiran orang tua, keluarga, dan umat dalam perayaan tersebut menjadi tanda dukungan bagi anak-anak yang sedang memasuki tahap penting dalam perjalanan iman Katolik mereka.
Romo Moses mengingatkan agar keluarga tidak berhenti mendampingi anak setelah perayaan Komuni Pertama. Sebaliknya, orang tua diharapkan terus membantu anak-anak untuk mengenal Yesus, mencintai Ekaristi, dan menghidupi iman dalam keseharian.
Dengan demikian, Komuni Pertama tidak berhenti sebagai sebuah peristiwa liturgis yang dirayakan dengan pakaian indah, foto, pesta, dan hadiah. Lebih dari semuanya, hadiah terbesar yang diterima anak-anak adalah Yesus sendiri yang hadir dalam Ekaristi.
Sukacita Umat, Harapan bagi Gereja
Perayaan Komuni Pertama yang berlangsung serentak di empat gereja ini menghadirkan suasana sukacita yang terasa kuat di tengah umat. Gereja dipenuhi keluarga dan umat yang datang untuk mendampingi serta menyaksikan secara langsung langkah iman anak-anak mereka.
Sebanyak 67 anak kini memulai tahap baru dalam kehidupan iman mereka sebagai pribadi yang semakin dekat dengan Kristus melalui Ekaristi.
Perayaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh umat Paroki Santo Yosef Lewotobi bahwa pertumbuhan iman anak merupakan tanggung jawab bersama. Anak-anak bukan hanya masa depan Gereja, tetapi juga merupakan bagian penting dari kehidupan Gereja saat ini.

Di tengah sukacita perayaan, terselip harapan agar ke-67 anak penerima Komuni Pertama terus bertumbuh sebagai pribadi yang mencintai Yesus, setia pada Ekaristi, serta mampu menjadi sahabat bagi sesama.
Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam homili, kiranya setiap anak senantiasa mampu membawa keyakinan ini dalam perjalanan hidup mereka:
“Yesus, Engkaulah Mesias dan Sahabatku. Engkau selalu menyertai hidupku. Tinggallah dalam hatiku dan ajarlah aku untuk menjadi sahabat bagi semua orang. (ASO – KOMSOS Lewotobi)



