
Pengurus OMK Stasi Se-Paroki Santo Yosef Lewotobi Dilantik, Siap Menjadi Generasi Muda yang Beriman dan Melayani
Nurabelen, 21 Agustus 2026 — Semangat baru bagi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Yosef Lewotobi mulai dibangun melalui pelantikan kepengurusan OMK enam stasi dalam perayaan Ekaristi yang berlangsung di Gereja Santo Yosef, Stasi Nurabelen, Jumat (21/8/2026).
Perayaan Ekaristi sekaligus pelantikan tersebut dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Yosef Lewotobi, Romo Moses Watan Boro, didampingi oleh Diakon Romanus Tubo Ola. Kegiatan ini melibatkan OMK dari enam stasi dalam wilayah Paroki Santo Yosef Lewotobi, yakni Stasi Nobo, Nurabelen, Riangkaha, Riangbunga, Lewotobi, dan Lewouran.
Pelantikan kepengurusan OMK enam stasi ini menjadi bagian dari upaya pembenahan sekaligus penguatan kembali kehidupan Orang Muda Katolik di Paroki Santo Yosef Lewotobi yang selama ini dinilai belum berjalan secara optimal.
Berawal dari Perjumpaan dan Dialog dengan Orang Muda
Sebelum pembentukan kepengurusan, Pastor Paroki bersama Diakon turun langsung ke setiap stasi untuk bertemu dan berdialog dengan orang-orang muda. Dalam perjumpaan tersebut, mereka mendengarkan secara langsung pengalaman, harapan, persoalan, serta berbagai curahan hati para OMK.
Proses tatap muka tersebut kemudian menjadi dasar bagi pembenahan organisasi OMK dengan membentuk kepengurusan di masing-masing stasi. Kepengurusan tersebut terdiri atas ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan sejsi-seksi.
Dalam perayaan pelantikan ini, OMK dari Stasi Nurabelen bertugas sebagai koor, sementara petugas liturgi lainnya dipercayakan kepada OMK Stasi Nobo. Seluruh OMK dari keenam stasi turut mengambil bagian dalam perayaan tersebut.
Bukan Sekadar Jabatan, Melainkan Perutusan
Dalam homilinya, Romo Moses Watan Boro mengajak para OMK untuk melihat pelantikan bukan sekadar sebagai pergantian atau pengisian jabatan organisasi, melainkan sebagai sebuah perutusan dan panggilan untuk melayani Gereja.

“Pelantikan hari ini adalah sebuah perutusan yang Gereja titipkan kepada saudara-saudari. Gereja membutuhkan tenaga, kreativitas, dan semangat penuh iman dari saudara sekalian.”
Mengacu pada bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang memperoleh kembali kehidupan, Romo Moses menggambarkan bahwa Gereja tidak selalu kekurangan orang atau fasilitas. Namun, Gereja dapat kehilangan semangat dan daya hidup ketika umat tidak lagi memiliki dorongan untuk terlibat dan melayani.
Menurutnya, ada kecenderungan umat hadir secara fisik dalam kehidupan Gereja, tetapi semangat untuk terlibat secara aktif belum selalu tumbuh. Karena itu, melalui pelantikan tersebut, para OMK diharapkan menjadi tanda kehidupan baru bagi Gereja.
Romo Moses mengajak orang muda meninggalkan rutinitas yang hanya berpusat pada diri sendiri dan kembali menemukan semangat pelayanan. Di tengah berbagai tantangan kehidupan masyarakat, termasuk dampak erupsi yang dapat melumpuhkan berbagai aktivitas, Gereja diharapkan tetap menjadi tempat yang menghadirkan kehidupan, solidaritas, dan harapan.

“Tujuan kita jauh lebih dalam, yakni mengalami Kristus, hidup dalam Kristus, dan menjadi saksi Kristus. Bukan sekadar berkumpul, berolahraga, makan dan minum, tetapi dalam setiap kegiatan kita sungguh mengalami Yesus.”
Ia juga mengingatkan para pengurus baru agar tidak memandang tugas yang dipercayakan kepada mereka sebagai sebuah jabatan, tetapi sebagai panggilan untuk melayani.
Bijak Menggunakan Teknologi, Tetap Dekat dengan Sesama
Dalam homilinya, Romo Moses turut menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, orang muda saat ini sangat dekat dengan dunia maya dan telepon genggam. Namun, kedekatan tersebut tidak boleh membuat mereka semakin jauh dari kehidupan nyata dan sesama.
Orang muda dapat memiliki banyak teman di media sosial, tetapi pada saat yang sama mengalami kesepian dalam kehidupan nyata. Karena itu, citra diri yang dibangun melalui media sosial harus tetap diimbangi dengan pembentukan karakter, kehidupan bersama, dan pertumbuhan iman.
“Semoga melalui rahmat perayaan ini dan pelantikan para pengurus, kita semakin berbenah. Kita tidak lagi menjadi seperti tulang-tulang yang berserakan, melainkan menjadi manusia yang diberi napas kehidupan oleh Tuhan untuk hidup lebih baik bersama sesama.”
Romo Moses juga mengajak OMK untuk aktif mengambil bagian dalam berbagai bentuk pelayanan Gereja, baik dalam bidang liturgi maupun kegiatan sosial. Umat dan para pengurus Gereja pun diharapkan memberikan ruang yang lebih luas bagi orang muda untuk terlibat di lingkungan, KBG, stasi, desa, RT, maupun dusun.
“Hari ini menjadi awal baru bagi kita untuk tampil memberikan diri dalam karya pelayanan Gereja, kegiatan ibadah, dan memberi warna baru dalam karya pastoral. Semoga kita semua dapat berkata: Tuhan, inilah aku, utuslah aku.”
“Muda Beriman, Siap Melayani!”
Semangat tersebut mendapat sambutan dari perwakilan OMK, Hans Temu yang menyampaikan kesiapan untuk bekerja bersama dan mendukung karya pelayanan Dewan Pastoral Paroki.
“Kami siap diajak bekerja. Rangkul kami semua. Kami siap melayani bersama Dewan Pastoral Paroki.”

Dalam sambutannya, perwakilan OMK juga mengutip semangat kepemudaan dari ungkapan Presiden Soekarno tentang kekuatan pemuda. Pesan tersebut kemudian ditutup dengan pekikan bersama: “Muda, Beriman, Siap Melayani!”
Dorongan untuk Menjadi Pelayan yang Memberi Teladan
Ketua Seksi Kepemudaan Paroki Santo Yosef Lewotobi, Wilfridus Ignasius Mukin, mengapresiasi seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung dengan lancar. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pastor Paroki dan Diakon yang telah turun langsung mengunjungi setiap stasi dan bertatap muka dengan para OMK.

Menurutnya, perjumpaan langsung dengan orang muda menjadi pengalaman penting untuk mengetahui kondisi masing-masing stasi sekaligus menemukan langkah-langkah pembenahan yang diperlukan.
Ia berpesan kepada para pengurus yang baru dilantik agar menjalankan program yang telah disusun dengan baik serta menghargai kepercayaan yang telah diberikan.
“Jalankan program yang telah dibuat dengan baik. Hargai pengurus yang sudah dipercayakan kepada kita. Sebagai pelayan, kita harus menjadi orang pertama yang memberikan teladan.”
Wilfridus juga berharap para pengurus baru mampu mengajak kembali orang-orang muda yang selama ini belum bergabung dalam wadah OMK. Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi kepemudaan Gereja memberikan banyak manfaat, baik bagi pembentukan karakter dan iman maupun kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain.
Senada dengan itu, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Lukas Fernandez mengingatkan para pengurus agar menjadi motivator bagi teman-teman sebaya yang masih berada di luar kegiatan OMK.
“Tugas kalian tetap membawa mereka ke dalam wadah OMK. Pasti ada tantangan, tetapi tetap semangat. Ada banyak orang yang selalu siap mendukung kalian.”

Diakon Tubo, selaku Moderator OMK Paroki Santo Yosef Lewotobi juga memberikan dorongan bagi OMK supaya terus berkreasi sebagai Orang Muda dalam membangun Gereja melalui pengabdian diri secara total.
Dengan semangat “Muda, Beriman, Siap Melayani”, para pengurus OMK yang baru diharapkan tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan Gereja, tetapi juga mampu menghadirkan wajah Kristus melalui kepedulian, solidaritas, persaudaraan, dan pelayanan nyata di tengah masyarakat.
Pelantikan ini bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari sebuah perutusan: menjadi orang muda yang mengalami Kristus, hidup dalam Kristus, dan berani menjadi saksi Kristus di tengah Gereja dan masyarakat. (SON KOLIN – KOMSOS Lewotobi)



