
Dari Ruang Kelas hingga Altar: Jejak Pengabdian Empat Mahasiswa KKN di Ile Bura
LEWOTOBI, ILE BURA – FLORES TIMUR — Awal Juli 2026, suasana di SMPS Katolik Ile Bura terasa sedikit berbeda. Empat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Nusa Nipa Maumere datang membawa semangat, pengetahuan, dan terutama kerinduan untuk berbagi.
Mereka berasal dari empat program studi—Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Kimia, Teknik Informatika, dan Psikologi. Namun, selama hampir sebulan berada di Lewotobi, identitas mereka tidak berhenti pada status sebagai mahasiswa. Mereka hadir sebagai pendamping, pengajar, pelayan, sekaligus sahabat bagi para siswa dan umat.
Kisah mereka dimulai pada 9 Juli 2026, tetapi jejak pengabdian itu perlahan tumbuh menjadi cerita tentang sekolah, anak-anak, umat, dan Gereja yang berjalan bersama.
Dari Buku hingga Kebersamaan dengan Umat
Sehari setelah tiba, pada 10–11 Juli, keempat mahasiswa langsung berjumpa dengan anak-anak melalui kegiatan literasi di Pondok Baca Tutu Koda. Di ruang sederhana itu, buku-buku menjadi jembatan yang mempertemukan para mahasiswa dengan dunia anak-anak.

Bagi para mahasiswa, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda KKN. Di tengah buku dan cerita, mereka menemukan kesempatan untuk menumbuhkan kegemaran membaca sekaligus membangun kedekatan dengan anak-anak.
Kehadiran mereka kemudian berlanjut ke tengah kehidupan menggereja. Pada Minggu, 12 Juli, mereka mendapat tanggungan koor bersama umat di KUB Maria Protegente.
Di sinilah semangat pengabdian menemukan maknanya yang lebih luas. Mereka tidak hanya datang untuk mengajar, tetapi juga belajar menjadi bagian dari kehidupan umat—bernyanyi bersama, berdoa bersama, dan membangun persaudaraan.
MPLS, Koor, dan Hari-Hari yang Semakin Padat
Memasuki 13 Juli, para mahasiswa bersama keluarga besar sekolah melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah sebagai persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

MPLS berlangsung pada 14–18 Juli. Di tengah kesibukan mendampingi kegiatan sekolah, setiap sore para mahasiswa masih menyempatkan diri berlatih koor bersama Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Fransiskus Xaverius Lewotobi. Latihan demi latihan akhirnya bermuara pada tanggungan koor pada 19 Juli. Hari-hari itu memperlihatkan satu hal: pengabdian tidak selalu berlangsung dalam agenda resmi. Kadang ia hadir setelah jam sekolah usai, ketika seseorang masih bersedia meluangkan waktu untuk bernyanyi bersama, berlatih bersama, dan melayani bersama.
Ketika Ruang Kelas Menjadi Ruang Berbagi
Mulai 20–25 Juli, para mahasiswa memasuki tahap yang menjadi salah satu inti pengabdian mereka: mendampingi proses pembelajaran di kelas.


Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris mengajak siswa kelas VI A dan VI B mempelajari self-introduction. Sementara siswa kelas VIII A dan VIII B mendalami procedure text, dan siswa kelas IX A dan IX B belajar mengenai narrative text.
Di bidang Ilmu Pengetahuan Alam, siswa kelas VII A dan VII B mendapat pendampingan dengan materi tentang makhluk hidup.
Sementara itu, mahasiswa dari Teknik Informatika mengajak siswa mengenal dunia teknologi. Kelas VII A dan VII B belajar mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Kelas VIII A memperdalam materi tersebut dengan pembahasan jaringan dan internet, sedangkan kelas VIII B mempelajari teknologi informasi dan komunikasi secara umum.
Namun, ada satu ruang belajar yang barangkali tidak memiliki papan tulis dan buku pelajaran. Itulah ruang yang dibuka oleh mahasiswa Psikologi—ruang bagi anak-anak untuk bercerita. Keluh kesah, pengalaman, kegelisahan, hingga cerita-cerita sederhana para siswa menemukan tempat untuk didengarkan. Sebab mendampingi anak-anak bukan hanya tentang membantu mereka memahami pelajaran, tetapi juga tentang memberi mereka ruang untuk merasa didengar dan dihargai.
English Corner: Ketika Kreativitas Tumbuh dari Kelas
Pada 27 Juli hingga 1 Agustus, semangat belajar dan kreativitas kembali diwujudkan melalui pembuatan mading English Corner serta mading kelas untuk kelas VII A dan VIII B.
Para mahasiswa dan siswa bekerja bersama. Ada ide yang dirancang, tulisan yang disusun, materi yang dipilih, hingga tampilan yang dipercantik. Mading itu menjadi lebih dari sekadar pajangan di dinding sekolah. Ia menjadi jejak konkret dari sebuah proses: bahwa ketika guru, mahasiswa, dan siswa bekerja bersama, sebuah gagasan sederhana dapat berubah menjadi sesuatu yang dapat dinikmati seluruh warga sekolah.
Di sela-sela proses tersebut, para mahasiswa tetap meluangkan waktu mengikuti latihan koor.
Dari Sekolah, Menuju Gereja
Kebersamaan itu kembali terasa pada 2 Agustus, ketika para mahasiswa mendapat tanggungan koor bersama keluarga besar SMPS Katolik Ile Bura.
Sehari kemudian, 3 Agustus, menjadi salah satu momen penting. Dalam apel bendera pagi, mading English Corner secara resmi diluncurkan oleh Kepala Sekolah SMPS Katolik Ile Bura.
Sebuah karya sederhana, tetapi sarat makna. Di baliknya terdapat kerja sama, kreativitas, keberanian mencoba, dan pengalaman belajar yang dibangun bersama.

Hari itu belum selesai. Para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan latihan repetisi di Gereja St. Petrus, Lewouran, sebelum turut serta dalam acara penjemputan Pater Markus.
Rangkaian kegiatan rohani berlanjut pada 4 Agustus melalui perayaan Misa bersama di Gereja St. Petrus, Lewouran. Sehari kemudian, 5 Agustus, kunjungan Padre Marco ke SMPS Katolik Ile Bura menghadirkan suasana tersendiri bagi para siswa dan mahasiswa.
Di titik ini, batas antara kegiatan KKN dan kehidupan umat seolah semakin tipis. Sekolah dan Gereja menjadi ruang bersama untuk bertemu, melayani, dan bertumbuh.
Perpisahan yang Tidak Sekadar Berpisah
Setelah hampir sebulan berbagi ilmu, tenaga, tawa, lagu, dan doa, tibalah waktunya untuk berpamitan.
Pada 6 Agustus, keluarga besar SMPS Katolik Ile Bura menggelar acara perpisahan bagi keempat mahasiswa KKN. Suasana haru mewarnai pertemuan terakhir itu. Ada kesadaran bahwa waktu yang terasa singkat ternyata telah meninggalkan begitu banyak kenangan.
Setelah acara di sekolah, para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan pelaporan diri di kantor desa.
Keesokan harinya, 7 Agustus, tibalah saat mereka benar-benar meninggalkan Lewotobi.
Mereka datang sebagai mahasiswa yang membawa tugas pengabdian. Mereka pulang dengan membawa cerita tentang anak-anak yang mereka ajar, umat yang mereka temui, lagu-lagu yang mereka nyanyikan, misa yang mereka rayakan, serta persaudaraan yang tumbuh sepanjang perjalanan.
Pengabdian yang Tinggal sebagai Kenangan
Kisah KKN di Ile Bura mungkin berlangsung hanya beberapa pekan. Namun, waktu yang singkat itu menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari lamanya seseorang tinggal di suatu tempat.
Pengabdian adalah tentang kesediaan untuk hadir.
Hadir di depan kelas ketika anak-anak membutuhkan pengetahuan. Hadir di Pondok Baca ketika mereka membutuhkan teman membaca. Hadir dalam latihan koor ketika umat membutuhkan kebersamaan. Hadir dalam misa ketika Gereja menjadi tempat semua orang berjumpa dalam iman.
Dan, hadir pula dalam percakapan-percakapan sederhana ketika seorang anak hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Dari Lewotobi, keempat mahasiswa KKN itu meninggalkan lebih dari sekadar program kerja. Mereka meninggalkan kenangan—dan pada saat yang sama membawa pulang sebagian kecil dari kehidupan Ile Bura dalam hati mereka.
Terima kasih atas kebersamaan, pelayanan, dan semangat yang telah dibagikan. Selamat melanjutkan perjalanan. Sampai jumpa lagi. (Monika — Mahasiswa KKN di Lewotobi)



