
Dari Kebun ke Altar: Umat Stasi Riangkaha Jual Jagung demi Bangun Gereja
RIANGKAHA, FLORES TIMUR — Semangat gotong royong dan kemandirian menjadi kekuatan utama umat Stasi Riangkaha, yang berada di bawah naungan Paroki St. Yosef Lewotobi, Keuskupan Larantuka. Di tengah keterbatasan ekonomi dan belum adanya donatur besar, umat setempat memilih mengandalkan hasil kerja sendiri untuk mewujudkan impian membangun gedung gereja baru yang lebih layak.
Sejak tahun 2023, umat membuka kebun jagung stasi seluas satu hektar sebagai sumber dana pembangunan gereja. Setiap hari Jumat, umat dari berbagai kelompok lingkungan berkumpul untuk bekerja bakti di kebun. Orang Muda Katolik bersama para bapak dan mama terlibat langsung dalam seluruh proses, mulai dari mencangkul lahan, menanam benih, membersihkan rumput, hingga merawat tanaman sampai masa panen.

Langkah tersebut lahir dari keprihatinan umat terhadap kondisi gereja lama yang semakin termakan usia. Bangunan gereja yang berdiri sejak tahun 1942 dengan pelindung Santo Antonius Padua itu hingga kini masih digunakan sebagai pusat peribadatan. Namun, sejumlah bagian bangunan telah mengalami kerusakan. Atap yang bocor saat musim hujan dan kondisi bangunan yang mulai rapuh membuat umat merasa kurang aman dan nyaman ketika mengikuti perayaan liturgi.
“Kami tidak punya donatur besar, tapi kami manfaatkan apa yang kami punya meski hasilnya tidak banyak,” ujar Ketua Stasi Riangkaha.
Perjalanan umat dalam mengelola kebun tidak selalu berjalan mulus. Aktivitas pertanian mereka sempat terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Lewotobi. Abu yang menutupi daun jagung serta mengeraskan permukaan tanah menjadi tantangan tersendiri bagi para petani.
“Meskipun ada tantangan abu vulkanik, umat tetap semangat dalam menjaga dan merawat tanaman,” kata Sekretaris Stasi Riangkaha, Ibu Sesilia Keron Blolon.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Hingga April 2026, kebun stasi menghasilkan sekitar 500 kilogram jagung pipil. Seluruh hasil panen kemudian dijual kepada umat maupun masyarakat di pasar sekitar. Dana yang diperoleh langsung dimasukkan ke dalam kas pembangunan gereja.
“Kami tidak punya donatur besar yang bantu kami. Tapi kami punya tanah untuk diolah. Hasilnya memang tidak banyak, tapi kami yakin Tuhan lihat keringat kami,” ungkap Ibu Sesilia.
Saat ini seluruh hasil panen telah habis terjual. Umat Stasi Riangkaha kini menatap musim tanam berikutnya dengan penuh harapan. Dana yang terus dikumpulkan dari hasil kebun diharapkan dapat menjadi modal awal untuk memulai pembangunan fondasi gereja baru yang telah lama dicita-citakan.

Bagi umat Riangkaha, kebun jagung bukan sekadar lahan pertanian, melainkan simbol iman, persatuan, dan pengorbanan. Dari tanah yang mereka olah bersama, tumbuh harapan akan hadirnya rumah ibadah yang lebih aman dan layak bagi generasi umat di masa mendatang. Di tengah segala keterbatasan, mereka membuktikan bahwa semangat gotong royong dan kerja keras dapat menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi bersama—dari kebun hingga ke altar. (Thomas Sugi Witi)



