
Renungan Jumad 5 Juni 2026: “Tuhan Berkata kepada Tuanku: Duduklah di Sebelah Kanan-Ku”
Bacaan 2Timotius 3:10-17 dan Markus 12:35-37
Bapa-ibu, saudara-saudari, umat beriman yang terkasih dalam Tuhan. Hari ini kedua bacaan berbicara kepada kita tentang satu hal yang sangat penting: mengenal Kristus bukan hanya dengan akal budi, tetapi dengan hati yang percaya dan hidup yang setia. Dalam Injil, Yesus mengajak orang banyak untuk melihat lebih dalam siapakah Mesias itu. Bagi banyak orang, Mesias hanyalah keturunan Daud. Namun Yesus menunjukkan bahwa Mesias jauh lebih besar daripada sekadar seorang raja duniawi. Ia adalah Tuhan yang datang untuk menyelamatkan manusia. Iman sejati tidak berhenti pada pengetahuan tentang Yesus, tetapi sampai pada pengakuan bahwa Dialah Tuhan yang memimpin hidup kita. Karena itu orang banyak mendengarkan Yesus dengan gembira, sebab sabda-Nya membuka mata mereka untuk melihat kebenaran yang lebih dalam.
Bacaan pertama melengkapi pesan Injil itu. Paulus mengingatkan Timotius agar tetap setia pada ajaran yang telah diterimanya. Mengikuti Kristus memang tidak selalu mudah. Ada penderitaan, tantangan, dan godaan untuk menyerah. Namun Sabda Allah mempunyai kuasa untuk menuntun, mengajar, memperbaiki, dan membentuk manusia menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan. Jika Kristus sungguh menjadi Tuhan dalam hidup kita, maka Sabda-Nya harus menjadi pelita yang menerangi langkah kita setiap hari. Dunia boleh menawarkan banyak suara, tetapi hanya Sabda Tuhan yang mampu menunjukkan jalan menuju keselamatan.
Pada hari ini Gereja juga memperingati Santo Bonifasius, seorang uskup dan misionaris yang mewartakan Injil dengan penuh keberanian di wilayah Jerman. Ia tidak hanya mengajarkan Sabda Allah dengan kata-kata, tetapi juga dengan teladan hidup yang setia. Kesetiaannya kepada Kristus membawanya sampai pada kemartiran. Santo Bonifasius menunjukkan kepada kita bahwa mengenal Kristus berarti berani hidup bagi-Nya, bahkan ketika harus menghadapi penolakan dan penderitaan. Hidupnya menjadi bukti bahwa Sabda Allah sungguh mampu membentuk seorang murid menjadi saksi yang tangguh. Karena itu, marilah kita bertanya dalam hati kita masing-masing: Apakah saya hanya mengenal Yesus sebagai tokoh agama yang saya kagumi, atau sungguh mengakui-Nya sebagai Tuhan yang memimpin seluruh hidup saya? Apakah saya masih memberi waktu untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah yang mampu membimbing langkah hidup saya setiap hari? Semoga melalui teladan Santo Bonifasius, kita semakin setia mengikuti Kristus. Sebab hati yang dekat dengan Tuhan tidak akan mudah tersesat, dan hidup yang diterangi Sabda-Nya akan selalu menemukan arah di tengah gelapnya perjalanan hidup. Amin. (Naga)



