
Semangat Literasi di Bawah Atap Tutu Koda Desa Lewotobi
LEWOTOBI – Keberanian dan keceriaan anak-anak di Desa Lewotobi pada Jumat, 10 Juli 2026 dari pukul 16.45–17.45 menjadi penutup narasi indah hari ini. Di bawah atap Pondok Baca Tutu Koda, warna literasi didominasi oleh kaum perempuan; gagasan Freire diimplementasikan. Kebersamaan bermakna ini menjadi lebih meriah dengan kehadiran keempat mahasiswa dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) yang menjalankan KKN di SMPK Ile Bura.

Pondok baca tidak sebatas ruang rekreasi, ia adalah wadah berekspresi yang terbuka bagi anak-anak untuk secara bebas menyampaikan gagasan tanpa takut dikatakan salah.
Didampingi oleh Kakak Elyn Witi, Irna Uran, Elsa Uran, Anna Mukin, Fidel Uran, dan Adrian Temu, serta mahasiswa UNIPA—di antaranya Kakak Monika, Stevi, Celin, dan Milkom—mereka tidak saja mampu menyingkirkan rasa gugup, tetapi dengan lantang mengungkapkan ide yang selama ini tersembunyi karena terbatasnya ruang bagi mereka.



Sekian banyak permainan mereka ikuti, meskipun ada di antara mereka yang butuh perhatian lebih dari pendamping karena kurangnya rasa percaya diri. Meskipun demikian, keseriusan mereka patut menjadi titik fokus yang perlu diapresiasi.
Suasana keceriaan tidak saja dideskripsikan melalui senyum dan tawa, tetapi juga dituturkan melalui vokal dari adik Avi Blolon dan Angela. Dalam nada santun dengan secuil malu, keduanya menyampaikan, “Kami sangat senang dan bahagia mengikuti kegiatan ini karena ada banyak permainan yang seru dan unik.”
Di akhir kebersamaan, dengan nada harapan, Kakak Elyn Witi sebagai ketua pondok baca menyampaikan semoga ke depannya pertemuan ini tidak saja diwarnai oleh anak-anak perempuan, tetapi juga dari adik-adik laki-laki.

Seusai kegiatan, dokumentasi selalu menjadi bagian yang tak boleh terlewatkan. Gambar bukan sekadar bukti fisik, ia adalah cerita yang mengingatkan bahwa gerakan akar rumput ini tidak saja menghadirkan tawa, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran anak-anak bahwa mereka pun adalah manusia masa depan lewotana dan gereja, dan dunia butuh gagasan mereka. Sekiranya mereka tidak saja bercerita di depan cermin di rumah, tetapi di depan banyak orang yang nantinya menjadi cermin hidup dalam realitas sesungguhnya. (Yoin – KOMSOS Lewotobi)



