
Renungan Minggu, 28 Juni 2026: “Barangsiapa Tidak Memikul Salibnya dan Mengikuti Aku, Ia Tidak Layak Bagi-Ku”
Bacaan 2Raja-raja 4:8-11.14-16a, Roma 6:3-4.8-11 dan Matius 10:37-42
Bapa-ibu, saudara-saudari umat Allah yang terkasih dalam Tuhan. Hari ini ketiga bacaan yang kita dengarkan berbicara kepada kita tentang satu hal yang sangat mendasar dalam hidup orang beriman, yaitu kesetiaan untuk memilih Tuhan di atas segala sesuatu, lalu menghadirkan kasih-Nya melalui tindakan nyata kepada sesama. Mengikuti Kristus memang selalu indah, tetapi Yesus tidak pernah mengatakan bahwa jalan itu mudah. Justru hari ini Ia mengingatkan bahwa menjadi murid berarti berani menempatkan Dia sebagai pusat kehidupan.
Dalam Injil, Yesus mengatakan, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Sekilas kalimat ini terdengar keras, bahkan seolah-olah Yesus meminta kita berhenti mengasihi keluarga. Namun bukan itulah maksud-Nya. Dalam bahasa dan budaya Yahudi pada waktu itu, ungkapan seperti ini dipakai untuk menunjukkan prioritas yang paling utama. Yesus tidak menghapus kasih kepada orang tua atau keluarga, sebab Dialah yang mengajarkan hukum kasih. Yang ingin ditegaskan ialah bahwa kasih kepada Tuhan harus menjadi dasar dari semua kasih yang lain. Ketika Tuhan menjadi yang pertama, kita justru akan mampu mengasihi keluarga dengan lebih tulus, lebih sabar, dan lebih setia.
Karena itu Yesus melanjutkan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Pada zaman Romawi, salib bukanlah lambang kemuliaan seperti yang kita lihat sekarang di gereja, melainkan lambang hukuman yang paling hina. Maka ketika Yesus berbicara tentang memikul salib, para pendengar-Nya langsung mengerti bahwa menjadi murid berarti siap menghadapi penolakan, pengorbanan, bahkan penderitaan demi mempertahankan iman. Mengikuti Yesus bukan sekadar memakai kalung salib atau datang ke gereja setiap hari Minggu, tetapi berani tetap jujur ketika semua orang memilih berbohong, tetap mengampuni ketika hati terluka, tetap setia ketika iman diuji, dan tetap berbuat baik meskipun tidak dihargai.
Bacaan pertama memberikan gambaran yang indah tentang perempuan Sunem. Ia bukan nabi, bukan imam, bukan orang terkenal. Ia hanyalah seorang perempuan yang memiliki hati yang peka. Ketika melihat Nabi Elisa sering melewati daerahnya, ia membuka pintu rumahnya, menyediakan makanan, bahkan membangun sebuah kamar kecil agar nabi itu dapat beristirahat. Perhatian yang sederhana itu ternyata menjadi jalan berkat. Tuhan membalas kasihnya dengan karunia seorang anak yang selama ini sangat dirindukannya. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan dengan kasih yang tulus.
Lalu Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan bahwa melalui baptisan kita telah dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Artinya, hidup lama yang dikuasai dosa seharusnya telah ditinggalkan. Kita dipanggil menjadi manusia baru yang hidup bagi Allah. Baptisan bukan hanya peristiwa masa lalu ketika air dituangkan di kepala kita, melainkan sebuah cara hidup setiap hari. Setiap kali kita menolak kebencian, meninggalkan dendam, melawan godaan, dan memilih melakukan kebaikan, saat itulah kita sedang menghidupi rahmat baptisan kita.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri. Siapakah yang benar-benar menjadi pusat hidupku selama ini? Apakah Tuhan masih menjadi yang pertama, atau justru harta, jabatan, media sosial, kesenangan, dan ambisi pribadi lebih banyak menguasai pikiranku? Ketika salib kehidupan datang, apakah aku tetap setia kepada Tuhan atau justru mudah mengeluh dan meninggalkan-Nya? Apakah rumahku, keluargaku, dan hatiku sudah menjadi tempat yang menghadirkan kasih dan perhatian bagi orang lain seperti perempuan Sunem? Apakah hidupku benar-benar mencerminkan manusia baru yang telah dibaptis, atau aku masih dikuasai oleh kebiasaan lama yang menjauhkan diri dari Tuhan?
Kita hidup pada zaman ketika banyak orang lebih mengejar kenyamanan daripada kesetiaan, lebih suka dihargai daripada melayani, lebih senang menerima daripada memberi. Dunia sering mengajarkan bahwa kebahagiaan terletak pada memiliki sebanyak mungkin. Namun Yesus hari ini menunjukkan jalan yang berbeda. Kebahagiaan sejati lahir ketika kita berani kehilangan demi kasih, berani memberi tanpa menghitung, berani memikul salib tanpa menyerah, dan berani menempatkan Tuhan sebagai yang terutama. Orang yang hidup seperti itulah yang sesungguhnya menemukan hidupnya.
Semoga Sabda Tuhan hari ini menguatkan kita untuk semakin setia mengikuti Kristus. Marilah kita menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, menghidupi rahmat baptisan setiap hari, membuka hati bagi sesama, dan tidak takut memikul salib yang dipercayakan kepada kita. Sebab di balik setiap pengorbanan karena Kristus selalu tersedia sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.



