
Renungan Hari Raya Kenaikan Tuhan : “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”
Kis 1:1-11, Efesus 1:17-23 dan Matius 28:16-20
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus yang bangkit, Hari Raya Kenaikan Tuhan bukan sekadar perayaan tentang Yesus yang “naik ke surga,” melainkan perayaan tentang sebuah janji, sebuah pengutusan, dan sebuah harapan yang tidak pernah padam. Di tengah dunia yang sering membuat manusia merasa kecil, takut, lelah, dan kehilangan arah, Gereja hari ini mengangkat pandangan kita ke langit, bukan supaya kita melarikan diri dari dunia, tetapi supaya kita belajar bahwa hidup ini memiliki tujuan yang lebih tinggi. Kenaikan Tuhan adalah pengingat bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada penderitaan, tidak berhenti pada air mata, tidak berhenti pada salib, tetapi menuju kemuliaan bersama Allah. Karena itu, Hari Raya Kenaikan Tuhan menjadi seperti gerbang penutup masa penampakan Yesus selama masa Paskah, sekaligus pembuka sebuah tugas baru bagi Gereja: melanjutkan karya Kristus di dunia.
Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, Santo Lukas menggambarkan saat-saat terakhir Yesus bersama para murid. Ada sebuah kalimat yang sangat menarik ketika para murid bertanya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa para murid sebenarnya masih belum sepenuhnya mengerti misi Yesus. Mereka masih berpikir tentang kerajaan duniawi, kekuasaan politik, kemenangan lahiriah. Tetapi Yesus mengarahkan hati mereka kepada sesuatu yang lebih besar: “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Di sini kita melihat bahwa sebelum Yesus naik ke surga, Ia tidak meninggalkan harta, tidak meninggalkan istana, tidak meninggalkan kekayaan, tetapi meninggalkan tugas dan Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani, kata “martyria” yang dipakai untuk “menjadi saksi” bukan hanya berarti berbicara tentang Tuhan, tetapi memberikan hidup sebagai bukti bahwa Tuhan sungguh hidup. Maka menjadi murid Kristus bukan hanya soal rajin datang ke gereja, tetapi apakah hidup kita menjadi kesaksian yang nyata bagi orang lain.
Pada zaman itu, banyak orang Yahudi membayangkan Mesias sebagai raja besar yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Karena itu, kenaikan Yesus mungkin terasa aneh bagi para murid. Mereka berharap Yesus tinggal bersama mereka secara fisik. Tetapi justru dengan naik ke surga, Kristus menunjukkan bahwa kehadiran-Nya kini tidak dibatasi tempat dan waktu lagi. Ia hadir dalam Gereja, dalam Ekaristi, dalam Sabda, dalam orang miskin, dalam keluarga, bahkan dalam hati orang-orang yang percaya kepada-Nya. Maka ketika dua malaikat berkata, “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?”, itu seperti teguran halus kepada kita juga. Jangan hanya sibuk memandang langit sambil melupakan dunia. Jangan hanya pandai berdoa tetapi tidak peduli pada sesama. Jangan hanya berbicara tentang Tuhan tetapi hati penuh kebencian dan iri hati. Kenaikan Tuhan mengajarkan bahwa iman bukan pelarian dari hidup, tetapi kekuatan untuk mengubah hidup.
Senada dengan itu, dalam surat kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus berbicara tentang Kristus yang dimuliakan dan ditempatkan di atas segala kuasa. Paulus memakai bahasa yang sangat indah dan mendalam. Ia mengatakan bahwa Allah membuka “mata hati” umat supaya mereka mengerti pengharapan yang diberikan Tuhan. Bukan mata kepala, tetapi mata hati. Sebab banyak orang bisa melihat dunia dengan jelas tetapi hatinya gelap. Banyak orang tahu teknologi, tahu kekayaan, tahu jabatan, tetapi tidak tahu arah hidupnya. Inilah penyakit manusia zaman sekarang: hidup semakin maju tetapi hati semakin kosong. Orang mudah cemas, mudah putus asa, mudah marah, mudah kehilangan damai. Karena itu, Kenaikan Tuhan menjadi kabar sukacita bahwa Kristus tidak meninggalkan manusia berjalan sendirian. Ia naik untuk menyediakan tempat bagi kita dan tetap memimpin Gereja-Nya dari surga.
Selanjutnya dalam Injil Matius hari ini, membawa kita kepada amanat terakhir Yesus: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Dalam teks aslinya, kata “pergilah” sebenarnya mengandung arti bergerak terus, tidak diam, tidak tinggal nyaman di tempat. Artinya iman tidak boleh mandek. Gereja tidak boleh hanya sibuk di dalam tembok gereja, tetapi harus hadir di tengah dunia membawa terang. Dan yang sangat indah adalah kalimat penutup Yesus: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Inilah jantung dari Hari Raya Kenaikan Tuhan. Yesus memang naik ke surga, tetapi Ia tidak pergi meninggalkan kita. Ia tetap menyertai kita. Ia hadir dalam perjuangan hidup kita. Ia hadir ketika keluarga mengalami kesulitan ekonomi. Ia hadir ketika anak-anak muda bingung mencari masa depan. Ia hadir ketika orang tua merasa lelah memikul tanggung jawab hidup. Ia hadir ketika umat merasa doa-doanya belum terjawab. Bahkan ketika kita merasa sendirian, sebenarnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Saudara-saudari terkasih, kalau kita renungkan lebih dalam, sering kali hidup kita seperti para murid yang berdiri memandang langit. Kita banyak berharap Tuhan mengubah hidup kita secara ajaib, tetapi kita sendiri tidak mau bergerak. Kita meminta damai, tetapi kita masih suka menyakiti orang lain. Kita meminta berkat, tetapi malas bekerja dan berjuang. Kita ingin keluarga bahagia, tetapi ego masih dipelihara. Kita ingin Gereja hidup, tetapi enggan terlibat melayani. Maka hari ini Sabda Tuhan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: apakah hidupku sudah menjadi kesaksian tentang Kristus? Apakah kehadiranku membawa damai atau justru luka? Apakah aku sungguh percaya bahwa Tuhan masih berjalan bersamaku? Apakah selama masa Paskah ini aku sungguh mengalami kebangkitan iman, atau justru tetap hidup dalam kebiasaan lama yang jauh dari Tuhan?
Hari Raya Kenaikan Tuhan juga mengingatkan kita bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah surga. Dunia ini penting, tetapi bukan tujuan terakhir. Jabatan akan berlalu, harta akan habis, kecantikan akan pudar, kekuatan tubuh akan melemah, tetapi kasih kepada Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Karena itu umat diajak untuk hidup dengan pengharapan. Jangan mudah menyerah pada keadaan. Jangan kalah oleh dosa. Jangan tenggelam dalam keputusasaan. Kristus yang naik ke surga adalah Kristus yang menang atas maut. Dan kemenangan itu juga dijanjikan kepada kita yang tetap setia berjalan bersama-Nya.
Di akhir masa Paskah ini, Gereja seperti sedang berkata kepada kita: “Sekarang giliranmu.” Yesus telah menyelesaikan karya-Nya di dunia, dan kini Gereja dipanggil melanjutkan karya itu. Maka jadilah saksi kasih di dalam keluarga. Jadilah saksi kejujuran di tempat kerja. Jadilah saksi pengampunan di tengah pertengkaran. Jadilah saksi harapan di tengah dunia yang mudah putus asa. Sebab dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi membutuhkan orang yang hatinya dipenuhi cahaya Kristus.
Saudara-saudari terkasih, Kenaikan Tuhan bukan akhir dari kisah Yesus, tetapi awal dari tugas Gereja. Kristus naik ke surga supaya manusia tidak lagi hidup menunduk dalam ketakutan, tetapi berani menengadah dengan harapan. Ia naik bukan untuk menjauh, tetapi untuk semakin dekat dalam iman. Ia naik bukan untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk mengajarkan bahwa hidup manusia harus selalu terarah kepada surga.
Maka temukanlah hatimu hari ini. Jangan takut menghadapi hidup. Jangan lelah berbuat baik. Jangan malu menjadi murid Kristus. Sebab Tuhan yang naik ke surga itu tetap berjalan bersama kita setiap waktu.
Ketika dunia membuat kita letih, Tuhan tetap memberi kasih yang putih. Ketika hidup terasa sempit, Tuhan membuka jalan yang sulit menjadi bangkit. Ketika air mata jatuh menghimpit, Tuhan hadir membawa hati kembali pulih dan kuat terjahit. Dan ketika langkah hidup terasa sakit, pandanglah Kristus yang naik ke langit, sebab bersama-Nya harapan kita tidak akan pernah sedikit, melainkan tetap hidup, tetap bangkit, dan tetap melekat dalam kasih-Nya yang ajaib dan abadi selamanya. (Fr Ichal)



